Ketika Perhatian Dunia Tersedot oleh Sebuah Bola, Jangan Lupakan Palestina

Sementara itu, Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menjelaskan bahwa segala hal yang melalaikan manusia dari tanggung jawab utamanya kepada Allah serta kewajiban sosial terhadap sesama dapat menjadi bentuk penyimpangan prioritas, meskipun secara lahiriah tidak selalu tergolong haram.

Dari sini Islam mengajarkan keseimbangan: bukan melarang manusia menikmati hiburan dunia, tetapi menata agar dunia tidak melalaikan akhirat, dan agar kesenangan tidak menumpulkan kepekaan terhadap penderitaan sesama.

banner 900x250

Sebab yang tentunya berbahaya bukanlah hiburannya, melainkan ketika hiburan itu mengikis rasa peduli terhadap saudaranya yang sedang menderita, baik secara fisik maupun psikis.

Jadwal Pertandingan Jangan Mengalahkan Ibadah

Di balik padatnya jadwal pertandingan, terdapat satu dimensi yang sering luput dari perhatian. Jadwal pertandingan berlangsung hingga larut malam atau bahkan dini hari berpengaruh pada perubahan waktu tidur, menggeser aktivitas harian dan bahkan sebagian waktu ibadah perlahan mulai terpinggirkan.

Jika seseorang mampu begadang demi menyaksikan pertandingan, maka hendaknya shalat Subuh atau qiyamul lail jangan ditinggalkan. Di sinilah terlihat bagaimana prioritas manusia terhadap ibadah diuji oleh arus hiburan.

Padahal, dalam pandangan Islam, shalat bukan sekadar ritual ibadah, tetapi merupakan fondasi utama kesadaran seorang hamba terhadap Tuhannya. Ia adalah pengikat antara manusia dan Penciptanya, sekaligus penentu arah hidup seorang mukmin di tengah derasnya arus dunia.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam karyanya Latha’if al-Ma‘arif menjelaskan, qiyamul lail menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan sebagai bentuk kedekatan yang lebih intim antara seorang hamba dan Rabb-nya.

Baca Juga Berita Ini:  Taiwan Minta Dukungan Indonesia di Majelis Kesehatan Dunia (WHA)

Namun ironinya, justru di waktu-waktu yang memiliki nilai spiritual tinggi tersebut perhatian dan energi tercurah untuk mengikuti jalannya pertandingan, sementara panggilan untuk berdiri di hadapan Allah Ta’ala seringkali terlewatkan.

Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya. Ketika seseorang mampu bertahan berjam-jam untuk menyaksikan pertandingan demi pertandingan, namun merasa berat untuk menunaikan shalat malam dan Shalat Subuh berjamaah di masjid.

Maka, di tengah gegap gempita Piala Dunia, seorang mukmin dituntut untuk tidak hanya menjadi penonton yang larut dalam hiburan, tetapi juga menjadi penjaga kesadaran spiritualnya.

Seorang Muslim hendaknya sadar bahwa yang menentukan hidup bukanlah seberapa banyak pertandingan yang ditonton, tetapi seberapa kuat interaksi dan hubungan dirinya dengan Tuhannya.

Piala Dunia Sebagai Sarana Dakwah

Piala Dunia pada dasarnya adalah sebuah ruang besar yang sarat peluang, tidak hanya menjadi ajang hiburan global, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan penguatan kesadaran umat.

Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi contoh yang cukup menonjol. Untuk pertama kalinya ajang tersebut digelar di negara mayoritas Muslim, sehingga nilai dan simbol keislaman lebih terbuka di ruang publik global, mulai dari pengenalan budaya Islam, tersedianya fasilitas ibadah, hingga distribusi Al-Qur’an kepada para pengunjung.

Bahkan, Qatar Islamic Information Center (FANAR) melaporkan adanya pengunjung asing yang memeluk Islam selama gelaran berlangsung. Jumlahnya dilaporkan mencapai ratusan orang sepanjang periode turnamen, meskipun tidak terdapat satu angka resmi yang disepakati secara tunggal dalam seluruh publikasi.

Baca Juga Berita Ini:  Pajak Yang Kolonial, Rakyat Yang Tertindas. Dari Pati Hingga Banggai

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan nilai-nilai spiritual tetap hadir di tengah hiruk-pikuk pertandingan. Pemain Muslim tetap menjaga doa sebelum bertanding, melakukan sujud syukur setelah mencetak gol, serta menunjukkan keteguhan identitas religius di tengah tekanan kompetisi.

Lebih dari itu, dalam beberapa momen turnamen internasional, simbol solidaritas terhadap Palestina juga muncul dari pemain maupun suporter. Pengibaran bendera, gestur dukungan, hingga pesan kemanusiaan menyebar luas di media sosial.

Dengan cara pandang ini, menonton Piala Dunia tidak harus berhenti pada level hiburan semata. Ia dapat menjadi ruang menghidupkan kembali empati terhadap penderitaan sesama manusia yang sering tidak tersorot kamera.

Piala Dunia akan selalu datang dan pergi. Sorak-sorai akan selesai, juara akan berganti, dan gegap gempita memudar seiring waktu. Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu solidaritas yang tetap hidup di dalam hati umat.

Palestina bukan sekadar isu sesaat atau tren sementara di media sosial. Ia adalah realitas panjang yang masih berlangsung, membutuhkan perhatian, doa, dan kepedulian yang tidak boleh putus oleh waktu, tidak boleh kalah oleh hiburan, dan tidak boleh tenggelam oleh pagelaran hiburan sesaat. ( Rilis AAT/S) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *