BEM UNTIKA Luwuk Kecam Keras: Marwah Akademik Tercoreng Akibat Kampus Dijadikan Titik Kumpul Konvoi Pilkada

KABAR BANGGAI – BEM Universitas Tompotika (UNTIKA) Luwuk melayangkan kecaman keras terhadap tindakan birokrasi kampus yang dinilai telah mencederai prinsip dasar independensi akademik.

Keprihatinan ini mencuat setelah peristiwa konvoi kemenangan salah satu pasangan calon kepala daerah yang menggunakan area kampus sebagai titik kumpul. Tidak hanya itu, suasana kampus juga diwarnai oleh dentuman musik kemenangan yang menggema, seolah menjadikan ruang akademik sebagai panggung euforia politik.

Bagi BEM UNTIKA, kejadian tersebut bukan sekadar insiden teknis, melainkan tamparan keras terhadap identitas kampus sebagai ruang netral, rumah bagi nalar kritis, dan tempat tumbuhnya pemikiran intelektual. Dalam pernyataan resminya, BEM UNTIKA menegaskan bahwa peristiwa itu mencoreng marwah kampus dan mengancam arah masa depan dunia akademik.

Baca Juga Berita Ini:  Resmob Polres Banggai Tangkap Influencer Pencuri Reputer Telekomunikasi di Balantak Utara

“Kampus bukanlah arena kampanye atau ruang perayaan politik. Ketika birokrasi membiarkan, bahkan terkesan mendukung praktik semacam ini, maka independensi institusi akademik berada di ujung tanduk,” tegas Ketua BEM UNTIKA dalam pernyataannya kepada media, Rabu (8/5/2025).

Menurutnya, birokrasi kampus seharusnya berdiri tegak di atas prinsip-prinsip independensi, sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai dasar pendidikan tinggi serta regulasi yang menjamin kebebasan institusi akademik dari intervensi kekuasaan. Ia menegaskan bahwa independensi kampus bukan hanya sebuah kewajiban moral, tetapi hak yang harus dijaga bersama.

“Jika hari ini kita diam terhadap praktik politisasi kampus, maka kita sedang membuka jalan untuk kooptasi kekuasaan di ruang akademik. Ini sangat berbahaya bagi masa depan demokrasi kita,” lanjutnya.

Baca Juga Berita Ini:  Cabjari Pagimana Usut Dugaan Korupsi Dana Desa Siuna 2021–2023

BEM UNTIKA menyerukan kepada seluruh sivitas akademika untuk menjaga dan mengawal marwah kampus dari segala bentuk politisasi. Mereka menekankan pentingnya solidaritas kolektif untuk memastikan bahwa kampus tetap menjadi benteng intelektualitas, bukan instrumen legitimasi kekuasaan.

“Kami tidak akan tinggal diam. Jika praktik seperti ini terus berulang, kami siap mengambil langkah-langkah strategis demi menjaga kehormatan institusi akademik ini,” tutup Ketua BEM.

Seruan ini diharapkan menjadi momentum refleksi bagi seluruh pihak, khususnya birokrasi kampus, agar kembali pada koridor netralitas dan independensi yang selama ini menjadi fondasi dunia pendidikan tinggi. Kampus bukan ruang kompromi, tetapi tempat melahirkan keberanian berpikir kritis dan suara kebenaran yang merdeka.( TIM) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *