Rp9,7 Miliar Lenyap, Program “Satu Juta Satu Pekarangan” Kabupaten Banggai Tinggal Kenangan!

Tak Berikan Manfaat Bagi Masyarakat

KABAR BANGGAI  – Program “Satu Juta Satu Pekarangan” yang sempat menjadi kebanggaan Pemerintah Kabupaten Banggai kini tinggal cerita. Meski diklaim sukses membantu ribuan keluarga, nyatanya program ini justru menghilang tanpa kejelasan. Ironisnya, setelah menyedot anggaran fantastis sebesar Rp9,7 miliar sejak tahun 2021 hingga 2024, program ini malah dihentikan dan berganti dengan program lain.

Dari data yang diperoleh, alokasi anggaran untuk program ini terus mengalir selama empat tahun. Pada tahun 2021, anggaran yang dikucurkan sebesar Rp920 juta.

Tahun berikutnya, anggarannya melonjak drastis menjadi Rp4,36 miliar. Kemudian pada tahun 2023, pemerintah menggelontorkan lagi Rp1,68 miliar, hingga akhirnya pada 2024, anggaran yang tersisa mencapai Rp2,75 miliar. Secara total, anggaran daerah sebesar Rp9,72 miliar telah digelontorkan untuk program yang kini tak lagi dilanjutkan.

Baca Juga Berita Ini:  Blusukan di Tengah Ladang Jagung, Kapolsek Balantak Sambangi Petani Pangkalaseang Baru*

Meski demikian, pemerintah daerah tetap bersikukuh bahwa program ini berhasil menekan angka kemiskinan di Banggai.

Mereka mengklaim telah membantu sekitar 3.230 kepala keluarga penerima manfaat. Namun, jika benar program ini sukses, mengapa justru dihentikan begitu saja?

Lebih mengejutkan lagi, dalam pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026, program “Satu Juta Satu Pekarangan” tak lagi masuk dalam daftar prioritas. Pemerintah daerah justru menggantikannya dengan program lain yang dinamakan “Germas.”

Kondisi ini pun memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang menilai program tersebut hanyalah proyek ambisius yang ujungnya tak jelas. Tidak ada transparansi terkait hasil yang dicapai, dan kini anggarannya pun menguap tanpa bekas.

Baca Juga Berita Ini:  Dua Pegawai Lapas Luwuk Naik Pangkat, Kalapas: Amanah dan Tanggung Jawab Baru

Beberapa warga pun mengungkapkan kekecewaannya. “Kalau memang berhasil, kenapa harus dihentikan? Kalau gagal, kemana anggaran sebesar Rp9,7 miliar itu?” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kini, publik menanti pertanggungjawaban dari pemerintah daerah Kabupaten Banggai. Apakah program ini benar-benar bermanfaat, atau hanya sekadar proyek yang berakhir tanpa jejak? Yang jelas, uang miliaran rupiah dari APBD telah dikeluarkan, sementara jejak keberhasilannya masih menjadi tanda tanya besar.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *