Peringatan Maulid Nabi, Hibah, dan Belanja Elit Di Banggai

Oleh: Supriadi Lawani*

“Momentum religius yang seharusnya meneguhkan amanah kepemimpinan, justru dipertanyakan di tengah kontroversi hibah miliaran dan belanja mewah elit daerah”.

banner 900x250 banner 900x250

KABAR BANGGAI –  Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun diperingati umat Islam dengan shalawat, doa, dan pengajian. Namun perayaan itu akan kehilangan makna bila tidak menyentuh realitas kehidupan masyarakat. Di Kabupaten Banggai, realitas itu adalah soal korupsi, praktik rente, dan penggunaan APBD yang terasa belum sepenuhnya berpihak kepada  rakyat.

Beberapa waktu lalu publik dikejutkan dengan hibah Rp6,9 miliar yang kemudian oleh kepala Kesbangpol diralat menjadi 5,3 Miliar Dari Pemkab Banggai untuk Polda Sulteng, sebagaimana diberitakan Radar Sulteng (2/9/2025).

Sebelumnya, Banggai.com (Agustus 2025) juga melaporkan pengadaan mobil dinas senilai Rp11,4 miliar, pembelian mobil Palisade Rp1,1 miliar, hingga belanja sound system rumah jabatan ketua DPRD sebesar Rp150 juta dan gorden Rp100 juta. Jum,at  5 September 2025.

Semua itu dilakukan ketika rakyat Banggai menghadapi harga beras yang melambung, lapangan kerja yang sempit, dan  dan indeks pembangunan manusia yang masih dibawah beberapa kabupaten yang sumber daya alam nya tidak seberapa.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah para pemimpin dan pejabat di Banggai benar-benar meneladani Nabi Muhammad sebagai sosok yang jujur, amanah, dan adil? Ataukah mereka justru menyelewengkan amanah dengan menguras kekayaan daerah demi kepentingan kelompok kecil?

Misi Nabi di Tengah Oligarki

Nabi Muhammad lahir di Mekah, di tengah masyarakat yang dikendalikan segelintir elit Quraisy. Mereka memonopoli perdagangan, menindas kaum miskin, dan memanipulasi aturan demi keuntungan kelompok sendiri.

Baca Juga Berita Ini:  Pendalaman NDP : Konflik Sosial dan Relasi Umat Beragama,Perspektif NDP HMI Dalam Membangun Toleransi

Kondisi itu tidak jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di Banggai hari ini. Segelintir elit politik dan birokrasi menguasai akses anggaran, sementara sebagian besar rakyat harus berjuang keras di tengah biaya hidup yang terus naik.

Nabi datang membawa pesan rahmatan lil-‘alamin — rahmat bagi semesta. Rahmat itu diwujudkan dalam keadilan sosial, keberpihakan kepada yang lemah, dan amanah dalam kepemimpinan.

Beliau menolak setiap bentuk penyalahgunaan kekuasaan, bahkan menegaskan bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Sabdanya sangat tegas: “Seandainya Fatimah putriku mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”

Pesan ini sangat relevan untuk Banggai, di mana hukum sering terasa tumpul terhadap pejabat dan pengusaha besar, namun tajam terhadap rakyat kecil.

Amanah yang Terabaikan

Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah, bukan privilese. Nabi bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”

Sayangnya, di Banggai amanah ini sering diabaikan. Anggaran hibah, proyek, dan belanja mewah pejabat lebih banyak menguntungkan kalangan dekat kekuasaan, ketimbang dialokasikan untuk kebutuhan rakyat.

Ketika pejabat sibuk berbagi proyek, rakyat Banggai menghadapi kenyataan pahit: harga pangan melambung, anak-anak muda sulit mendapat pekerjaan, sementara infrastruktur dasar seperti layanan kesehatan masih jauh dari ideal. Ironisnya, semua itu berlangsung di tengah jargon pembangunan dan kesejahteraan yang terus dikampanyekan.

Baca Juga Berita Ini:  Warga Palang Puskesmas Lobu Dengan Pagar Bambu, Klaim Milik Pribadi!

Maulid Sebagai Momentum Banggai

Peringatan Maulid Nabi seharusnya membangkitkan kesadaran moral kolektif masyarakat Banggai. Ada beberapa pesan penting yang perlu digarisbawahi:

  1. Menolak legalisasi kezaliman. Rakyat perlu kritis terhadap kebijakan hibah dan proyek yang hanya menguntungkan elit.
  • Menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Hukum harus berlaku adil, bukan hanya keras kepada rakyat kecil.
  • Mengembalikan amanah dalam kepemimpinan. Jabatan publik di Banggai harus dilihat sebagai tanggung jawab, bukan kesempatan memperkaya diri.
  • Menguatkan solidaritas sosial. Anggaran daerah semestinya dipakai untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, bukan memperindah rumah jabatan pejabat.
  • Membangun gerakan moral. Masyarakat Banggai dipanggil untuk menghidupkan semangat perubahan sosial, seperti yang dilakukan Nabi saat menghadapi sistem jahiliyah.

Ujian bagi Banggai

Maulid Nabi di Banggai tentu akan dipenuhi shalawat dan doa. Tetapi Nabi tidak hanya ingin dicintai dengan lisan, melainkan diteladani dengan tindakan.

Meneladani Nabi berarti berani melawan budaya korupsi, menolak rente yang dilegalkan, dan memperjuangkan keadilan sosial.

Sejarah mengajarkan, kebesaran sebuah daerah tidak ditentukan oleh megahnya seremoni, melainkan oleh keberanian moral pemimpin dan warganya.

Maulid Nabi adalah ujian bagi Banggai: apakah kita hanya akan berhenti pada ritual tahunan, atau menjadikannya titik balik untuk membangun pemerintahan yang amanah dan berpihak pada rakyat? **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *