Menggugat Keberadaan Negara Zionis Israel

Sebagai contoh paling mutakhir adalah aksi pemain sepak bola Barcelona, Lamine Yamal (18 th) berani menyuarakan solidaritasnya dengan mengibarkan bendera Palestina dalam pesta perayaan juara klubnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa isu Palestina kini telah melampaui batas agama, bahkan berkembang menjadi isu kemanusiaan universal.

Pengamat media Piers Robinson menjelaskan, era digital telah melemahkan monopoli narasi negara dan media besar dalam membentuk opini publik. internasional.

banner 900x250

Akibatnya, kesadaran global terhadap Palestina pun berubah. Banyak

orang yang sebelumnya netral mulai mempertanyakan standar ganda (kemunafikan) Barat dalam isu Palestina.

Kehancuran Zionis Israel

Israel sendiri menghadapi persoalan internal yang semakin kompleks dan multidimensional. Konflik politik berkepanjangan di dalam negeri, polarisasi tajam antara kelompok sekuler dan religius, pertentangan antara kubu nasionalis kanan dan kelompok liberal, hingga krisis kepercayaan terhadap pemerintah menjadi tantangan serius bagi stabilitas nasional Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel bahkan berulang kali mengalami kebuntuan politik yang menyebabkan pemilu dilakukan berkali-kali dalam waktu relatif singkat. Situasi tersebut menunjukkan bahwa di balik citranya sebagai negara kuat secara militer, Israel sesungguhnya sedang menghadapi tekanan internal serius.

Perang yang terus berlangsung juga menciptakan tekanan ekonomi yang semakin berat. Biaya militer yang sangat besar, mobilisasi tentara cadangan, menurunnya investasi di sejumlah sektor, serta terganggunya aktivitas ekonomi akibat situasi keamanan telah memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan domestik Israel.

Baca Juga Berita Ini:  Usaha Rekonsolidasi Arah Bangsa: Kembali ke UUD 1945 Asli

Selain persoalan ekonomi dan politik, Israel juga menghadapi trauma sosial yang semakin mendalam akibat konflik tanpa akhir. Generasi demi generasi tumbuh dalam situasi ketakutan, ancaman perang, sirene serangan, dan kekerasan yang terus berulang.

Sosiolog Israel Baruch Kimmerling dalam bukunya “Politicide: Ariel Sharon’s War Against the Palestinians” menjelaskan, konflik berkepanjangan tidak hanya menghancurkan rakyat Palestina, tetapi juga perlahan merusak struktur moral dan psikologis masyarakat Israel sendiri.

Sejarawan Israel Avi Shlaim dalam bukunya “The Iron Wall: Israel and the Arab World” menjelaskan, sejak awal Israel dibangun dengan pendekatan keamanan dan kekuatan militer sebagai fondasi utama kebijakan negara.

Namun dominasi militer semata tidak akan mampu menciptakan perdamaian jangka panjang jika akar ketidakadilan politik terhadap Palestina tidak diselesaikan.

Pada akhirnya, sejarah panjang berdirinya Zionis Israel menunjukkan bahwa negara itu lahir di tengah pusaran kolonialisme, perang dunia, rekayasa geopolitik, dan pengabaian hak rakyat Palestina.

Dari Deklarasi Balfour, pembagian Palestina oleh PBB, hingga tragedi Nakbah, semuanya meninggalkan jejak luka yang belum sembuh hingga hari ini.

Baca Juga Berita Ini:  Indonesia Berperan Besar Membentuk Tata Kelola Global Berkeadilan

Bagi orang-orang beriman, kita meyakini bahwa negara Zionis Israel pasti akan runtuh dan binasa. Inilah yang telah dipastikan Allah Ta’ala dalam firman-Nya Q.S. Al-Isra [17]: 16-17:

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah). Lalu, mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu sehingga pantaslah berlaku padanya perkataan (azab Kami). Maka, Kami hancurkan (negeri itu) sehancur-hancurnya. Banyak generasi setelah Nuh yang telah Kami binasakan. Cukuplah Tuhanmu sebagai Zat Yang Maha Teliti lagi Maha Melihat dosa-dosa hambaNya.”

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan ayat di atas, bahwa kehancuran suatu negeri bermula dari rusaknya para pemimpin dan orang-orang kaya yang hidup dalam kemewahan lalu tenggelam dalam kefasikan dan kedzaliman. Mereka menyeret masyarakat kepada kerusakan moral dan sosial. Maka Allah Ta’ala menimpakan adzab kepada mereka.

Telah banyak umat terdahulu yang dibinasakan karena dosa dan pembangkangan mereka. Maka, generasi saat ini pun, jika melakukan hal yang sama dengan umat terdahulu, yakni berbuat kerusakan dan kedzaliman, maka nasibnya juga akan sama dengan mereka.( Rilis AAT/S) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *