Bagaimana Kaum Muslimin Menyikapi Perang Iran vs Israel?

Rudal-rudal Iran yang menghantam fasilitas-fasilitas vital di Tel Aviv dan Haifa, membawa kerusakan yang tidak bisa diabaikan. Pusat komando militer yang selama ini menjadi simbol kekuatan Israel, kini tinggal puing-puing.

Bangunan-bangunan yang dulu berdiri megah kini porak-poranda. Ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, berlindung di bunker-bunker dan kemudian mengungsi ke luar negeri, mencari tempat yang aman.

banner 900x250 banner 900x250

Tidak hanya kehancuran infrastruktur, Zionis Israel juga menderita kerugian yang lebih besar lagi, yakni di bidang politik, ekonomi dan kepercayaan dunia. Israel semakin nampak keretakannya, mulai dari perseteruan para tokoh-tokohnya, hingga semakin menipisnya dukungan dari sekutu utamanya, yaitu Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Zionis Israel semakin terpojok dengan tuntutan rakyatnya yang semakin marah. Bursa saham Tel Aviv mengalami penurunan terburuk dalam beberapa dekade, membuat para investor lari. Bank-bank internasional yang biasanya menjadi penopang ekonomi Israel mulai menarik diri, menandakan krisis yang lebih besar di cakrawala.

Selama perang 12 hari dengan Iran (13–24 Juni 2025), Israel mengalami kerugian besar di berbagai sektor. Israel terpaksa mengakui kehilangan enam jendral, 32 personil Mossad, 78 Shin Bet, 18 Angkatan Laut, 198 Angkatan Udara, 462 tentara, 423 warga sipil, dan lebih dari 3.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan rudal Iran.

Baca Juga Berita Ini:  Mangrove Dirusak, Hukum Didiamkan: Pemda Banggai Harus Segera Bertindak

Serangan Iran menyebabkan kerusakan signifikan terhadap infrastruktur dan properti sipil, dengan lebih dari 9.000 rumah terdampak dan puluhan ribu warga mengungsi. Secara ekonomi, Israel diperkirakan mengalami kerugian langsung sekitar 20 miliar dolar AS (Rp 326 Triliun).

Di Gedung Knesset (parlemen Israel), mereka menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kebijakan-kebijakan militer yang selama ini dianggap tangguh mulai dipertanyakan kekuatannya. Para pemimpin Israel terlihat cemas, mencoba mencari solusi di tengah tekanan publik dan ancaman yang setiap saat bisa datang tiba-tiba.

Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin menyatakan: “Kekalahan ini adalah pukulan berat bagi Israel, yang selama ini dikenal memiliki pertahanan canggih dan pasukan yang tak tertandingi di kawasan. Ketidakmampuan kita menghadapi serangan rudal Iran menunjukkan perlunya reformasi besar-besaran dalam strategi pertahanan.”

Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan ILTV Security Brief pada 26 Juni 2025, Kolonel Richard Kemp, mantan Komandan Pasukan Inggris di Afghanistan memberikan analisis mendalam terkait dinamika konflik terbaru antara Israel dan Iran.

Kemp menyoroti bagaimana Iran, meski dihadapkan pada serangan besar-besaran, mampu memaksa Israel untuk meninjau ulang klaim mereka atas keberhasilan dalam konflik tersebut. Analisisnya mencerminkan bahwa strategi militer Iran, yang sering kali mengandalkan taktik asimetris (menggunakan sekutunya di Kawasan) sehingga menciptakan tekanan yang signifikan terhadap Israel.

Baca Juga Berita Ini:  MALAPETAKA DI GAZA TOLONG JANGAN DIAM

Meskipun Kemp tidak secara eksplisit menyebut situasi ini sebagai kekalahan bagi Israel, ia mengindikasikan bahwa capaian Israel dalam konflik ini tidak sesuai dengan tujuan strategis mereka. Komentarnya juga menggarisbawahi bahwa dampak dari pertempuran itu akan membawa konsekuensi besar bagi keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah.

Kekuatan Iran tidak hanya terletak pada senjata mereka. Ideologi perjuangan dan aliansi strategis yang dibangun dengan kelompok-kelompok di kawasan serta rakyat yang mendukung pemerintahannya menjadi faktor kunci keberhasilan mereka.

Seorang perwira militer Iran yang menjabat sebagai komandan Pasukan Quds, unit elit dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Qasem Soleimani, sebelum meninggalnya menyatakan, “Kami tidak hanya bertempur dengan senjata, tetapi dengan iman dan tekad. Kekalahan Israel menunjukkan bahwa kekuatan militer tanpa moral dan prinsip tidak akan bertahan lama.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *