Sifat Kebinatangan Benjamin Netanyahu

Mereka menjadi kera dan babi secara fisik selama tiga hari, lalu mereka mati. Setelah itu sifat buruk tersebut diwariskan secara moral dan perilaku kepada keturunan/generasi berikutnya, meskipun fisik mereka normal seperti halnya manusia biasa.

Sifat “kera” dalam ayat tersebut sebagai lambang kehilangan akal sehat, nurani dan harga diri. Sedangkan “babi” melambangkan hilangnya kesucian moral dan rasa malu karena kerakusan dan kesombongan.

banner 900x250

Dalam kaitan ini, Prof. Wahbah Az-Zuhaili Rahimahullah menjelaskan, sifat kera berarti suka melakukan perbuatan buruk tanpa pertimbangan, sedangkan sifat babi berarti rakus, menjijikkan, dan tidak mengenal kehormatan, hanya menuruti syahwat.

Kedua sifat dari binatang tersebut rasanya menyatu dalam watak Netanyahu. Ia terbukti tidak memiliki nurani dan harga diri, menghalalkan segala cara, mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak ada rasa malu sedikit pun sehingga tidak lagi memiliki kehormatan.

Kejahatan Netanyahu tidak hanya berdampak pada satu generasi saja. Ia menghancurkan masa kini dan berusaha menghapus masa depan rakyat Palestina. Ia menghalangi bantuan kemanusiaan, memutus pasokan air dan listrik, dan membiarkan rumah sakit di Gaza kekurangan obat. Semua itu memupus harapan hidup warga Gaza.

Netanyahu boleh saja merasa kebal hukum, tidak ada yang mampu menyeretnya ke pengadilan kriminal internasional (ICC) saat ini, tetapi setiap nyawa yang ia bunuh akan menjadi saksi di hadapan Allah Ta’ala kelak. Di pengadilan Ilahi, tidak ada kekebalan hukum, perlindungan politik, dan pembelaan dari siapa pun.

Baca Juga Berita Ini:  Ketika Krisis Kepercayaan Melanda Negeri

Siapa Bisa Menghentikan Kebinatangan Netanyahu?

Bagi umat Islam, menghentikan kejahatan dan kedzaliman bukan sekadar seruan moral, tetapi menjadi panggilan iman dan seruan nabinya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Dr. Yusuf Al-Qaradawi pernah mengingatkan, “Jika kita tidak mampu berperang bersama Bangsa Palestina, maka kita harus berperang dengan suara, pena, harta, dan doa kita.”

Prof. Richard Falk, mantan Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, pernah berkata, “Kebisuan komunitas internasional adalah persetujuan diam-diam terhadap kejahatan Israel.” Maka, diamnya seseorang menyaksikan pembantaian berarti mereka ikut memikul beban dosa sejarah.

Tugas masyarakat dunia saat ini adalah menyuarakan kebenaran dan menggugah hati yang tertidur. Diamnya para pemimpin justru bahan bakar bagi kejahatan dan kebiadaban Netanyahu.

Para pemimpin negara, khususnya Dunia Islam seharusnya mampu menghentikan kejahatan Netanyahu, dan memastikan ia tidak lagi bisa mengulang tragedi kemanusiaan yang sama di Gaza dan seluruh Palestina.

Dunia Islam harus berdiri bersama Palestina, tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam langkah nyata. Doa adalah kekuatan spiritual, tetapi tindakan nyata adalah wujud dari keberpihakan, wasilah mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala dan kemenangan.

Baca Juga Berita Ini:  Menanti Ajal Kehancuran Amerika

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata, “Doa tanpa usaha adalah seperti pemanah tanpa busur.” Mengirim bantuan kemanusiaan memang penting, namun akan lebih berarti jika dibarengi dengan menghentikan sumber kejahatan, sehingga rakyat Palestina akan dapat merasakan kedamaian dan kemerdekaan yang mereka dambakan.

Selama Netanyahu masih berkuasa dan selama Zionis Israel masih berada di tanah Palestina, darah akan terus mengalir di sana, dan kita tidak boleh membiarkan diri kita menjadi generasi yang hanya menjadi saksi penderitaan.

Solidaritas bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan syar’i. Umat harus menggerakkan segenap kekuatan: diplomasi, media, dan gerakan massa untuk terus menekan Israel dan sekutu-sekutunya.

Ini bukan hanya perjuangan rakyat Palestina, tetapi perjuangan seluruh umat manusia yang menjunjung martabat dan kemanusiaan. Sebagaimana diungkapkan Nelson Mandela, “Kebebasan Palestina adalah ujian terakhir bagi kemanusiaan dunia.” Ujian itu kini berada di hadapan kita semua.

Hanya dengan menghentikan sumber kejahatan, kita dapat membuka pintu kebebasan bagi rakyat Palestina. Menghentikan kejahatan Netanyahu berarti memutus rantai genosida. Mari bersatu membuka jalan bagi generasi muda Palestina untuk kembali menjalani kehidupan yang layak dan bermartabat, sekaligus mengembalikan seluruh hak mereka yang telah dirampas.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *