Pembinaan Tata Boga Lapas Luwuk Hidupkan Usaha Takjil Ramadhan, Warga Binaan Semakin Mandiri

KABAR BANGGAI  – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Salah satu bentuknya melalui kegiatan keterampilan tata boga bagi Warga Binaan yang mulai dilaksanakan sejak bulan Ramadhan dan direncanakan akan terus berlanjut sebagai program pembinaan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, Warga Binaan dilatih memproduksi berbagai kue tradisional yang menjadi menu takjil selama Ramadhan. Adapun jenis kue yang diproduksi yaitu kue tradisional antara lain Binyolos, Kanjoli, Panada, Lopis, Doko-doko, Katiri, Apolo, dan Lapis.

Produk tersebut dipasarkan baik di lingkungan Lapas maupun kepada masyarakat di luar Lapas, sehingga memberikan pengalaman langsung kepada Warga Binaan dalam kegiatan produksi sekaligus pemasaran hasil karya.

Salah satu Warga Binaan perempuan berinisial S menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan keterampilan baru tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk masa depan.

“Saya sangat bersyukur bisa belajar membuat berbagai kue tradisional. Selain mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, kami juga merasa dihargai karena hasil karya kami bisa dijual dan dinikmati banyak orang.

Baca Juga Berita Ini:  Operasi Wirawaspada, Imigrasi Banggai Tingkatkan Pengawasan WNA di Enam Kabupaten

Semoga keterampilan ini bisa menjadi bekal bagi saya untuk membuka usaha setelah bebas nanti,” ungkapnya.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Lapas Luwuk, Rudi Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan tata boga ini merupakan bagian dari komitmen Lapas Luwuk dalam memberikan keterampilan yang aplikatif dan bernilai ekonomi bagi Warga Binaan.

“Melalui kegiatan tata boga ini, kami ingin membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang dapat langsung diterapkan di masyarakat. Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk memproduksi takjil yang memiliki pasar yang jelas.

Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi modal usaha bagi mereka setelah selesai menjalani masa pidana,” ujar Rudi Santoso. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa program pembinaan tersebut juga sejalan dengan Core Values Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia yaitu PRIMA (Profesional, Responsif, Integritas, Melayani, dan Akuntabel).

Menurutnya, setiap program pembinaan yang dijalankan di Lapas Luwuk diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi Warga Binaan serta masyarakat.

Baca Juga Berita Ini:  Jelang Nataru, Polres Banggai Imbau Gereja Pasang CCTV

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan, memberikan apresiasi terhadap inovasi pembinaan yang dilaksanakan di Lapas Luwuk, khususnya dalam memberdayakan Warga Binaan perempuan melalui kegiatan produktif selama bulan Ramadhan.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Lapas Luwuk yang terus mengembangkan program pembinaan kemandirian yang produktif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan tata boga yang menghasilkan produk takjil tradisional ini tidak hanya melatih keterampilan Warga Binaan, tetapi juga menanamkan nilai kerja keras, tanggung jawab, serta kemandirian. Ini merupakan wujud nyata Pemasyarakatan yang PASTI Prima dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Bagus Kurniawan.

Kegiatan pembinaan ini berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh antusiasme dari para Warga Binaan. Melalui program tersebut, Lapas Luwuk terus berkomitmen menghadirkan pembinaan yang produktif, membangun kemandirian, serta mempersiapkan Warga Binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan berdaya guna. Red-Humas/Lapas Luwuk**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *