Lapas Luwuk Gelar Upacara Melaspas dan Penyucian Pura Maitri Santhi

KABAR BANGGAI  – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus memperkuat komitmennya dalam memberikan pelayanan dan pemenuhan hak beribadah bagi Warga Binaan.

Hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya upacara adat keagamaan Hindu, yakni Melaspas, Mecaru, Mulang Dasar, dan Memakuh di Pura Maitri Santhi yang berlokasi di lingkungan dalam Lapas, Minggu (18/1).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WITA ini merupakan rangkaian upacara pembersihan dan penyucian bangunan suci yang baru saja selesai dibangun.

Tujuannya adalah agar Pura Maitri Santhi siap digunakan sebagai sarana ibadah yang sakral bagi pegawai maupun warga binaan yang beragama Hindu.

Upacara berlangsung dengan sangat khidmat yang dipimpin Jro Mangku Putu Ray. Tak hanya dihadiri oleh internal Lapas, tampak hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Banggai praksi Partai PDIP, I Made Dharma, S.H., Ketua PHDI Kabupaten Banggai, I Nyoman Sumerta, S.Pdh., serta sejumlah tokoh adat dan keagamaan lainnya seperti Ketua Adat Wilayah Kota Luwuk, Ketua PHD Kota Luwuk, Ketua Paruman Walaka, hingga Ketua WHDI.

Baca Juga Berita Ini:  ASN, Gaya Hidup Mewah, dan Krisis Kesederhanaan Publik

Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, menyampaikan bahwa pembangunan dan penyucian Pura ini merupakan bagian dari fungsi pembinaan kepribadian.

“Kami berupaya memfasilitasi seluruh Warga Binaan agar dapat menjalankan ibadah dengan layak sesuai keyakinannya. Kehadiran Pura Maitri Santhi ini diharapkan menjadi pusat kedamaian dan tempat bagi Warga Binaan untuk memperbaiki diri serta mendekatkan diri kepada Tuhan,” ujarnya.

Ketua PHDI Kabupaten Banggai, I Nyoman Sumerta, S.Pdh., dalam sambutannya menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pihak Lapas Luwuk. Beliau menilai langkah ini sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman.

“Pura Maitri Santhi ini akan menjadi tempat yang sangat berarti bagi saudara-saudara kita di dalam. Kami dari PHDI berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Lapas Luwuk dalam memberikan pembinaan rohani yang berkelanjutan,” jelas I Nyoman Sumerta.

Kehadiran para tokoh agama dan wakil rakyat dalam acara ini menunjukkan adanya dukungan kuat dari lingkungan eksternal terhadap program pembinaan yang dijalankan oleh Lapas Luwuk. Sinergi ini diharapkan dapat terus terjaga demi terciptanya lingkungan Pemasyarakatan yang harmonis dan religius.

Baca Juga Berita Ini:  Anev KemenIMIPAS Semester II Tahun 2025, Kanwil Ditjenpas Sulteng Genjot Layanan “PRIMA”

Terpisah, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Ditjenpas Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif dan kerja keras jajaran Lapas Luwuk.

 “Beliau menyampaikan bahwa penyediaan sarana ibadah yang layak adalah manifestasi nyata dari pemenuhan hak dasar setiap warga negara, tanpa terkecuali bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana. “Kami sangat mengapresiasi langkah Lapas Luwuk.

Keberadaan Pura ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol toleransi dan keseriusan negara dalam membina mental spiritual Warga Binaan agar mereka siap kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” ungkap Bagus.

Seluruh rangkaian prosesi adat, mulai dari pembersihan area hingga peletakan dasar bangunan secara spiritual, berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.

Sinergi antara Lapas, tokoh agama, dan wakil rakyat ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan Pemasyarakatan yang harmonis dan religius. Red/Humas-LPLuwuk**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *