Kuliner Khas Luwuk Lahir dari Lapas: Warga Binaan Berhasil Mengubah Makanan Jadi Peluang

KABAR BANGGAI  – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus membuktikan komitmennya dalam memberikan bekal keahlian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). 

Melalui program pembinaan kemandirian yang semakin produktif, Lapas Luwuk kini resmi memproduksi berbagai menu kuliner populer dan khas daerah yang dikelola langsung oleh para Warga Binaan, Sabtu (11/04).

banner 900x250 banner 900x250

Berlokasi di ruangan Rumah UMKM L’Pas Lapas Luwuk, para Warga Binaan yang telah mendapatkan pelatihan khusus kini terampil menyajikan hidangan seperti Tinutuan (bubur Manado) yang kaya rempah, Soto Ayam dengan cita rasa gurih, hingga camilan favorit masyarakat seperti Pisang Goreng dan Rempeyek yang renyah.

Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun menjelaskan bahwa pemilihan menu-menu ini didasarkan pada tingginya minat masyarakat lokal terhadap kuliner tradisional tersebut. 

Baca Juga Berita Ini:  Borong Penghargaan Bergengsi, Lapas Luwuk Sabet Terbaik I di Dua Kategori

Selain itu, proses pembuatan makanan ini melatih ketelitian dan standar kebersihan (higiene) yang ketat bagi para Warga Binaan.

“Produksi kuliner seperti Tinutuan dan Soto Ayam ini adalah wujud nyata dari fungsi Pemasyarakatan. Kami tidak hanya membina mental, tetapi juga memberikan ‘skill’ nyata. 

Harapannya, ketika mereka bebas nanti, mereka bisa membuka warung makan sendiri atau bekerja di sektor kuliner dengan modal keterampilan yang didapat di sini,” ujar Bahrun.

Kualitas rasa dari produk kuliner Lapas Luwuk ini pun tidak kalah dengan warung makan di luar. 

Khusus untuk camilan seperti Rempeyek, pihak Lapas juga fokus pada pengemasan yang rapi agar memiliki daya jual lebih tinggi dan dapat dinikmati sebagai buah tangan.

Baca Juga Berita Ini:  Kalapas Luwuk Terima Kunjungan Tim Damkar Bahas Sistem Proteksi Kebakaran di Lapas

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Selain itu, hasil dari penjualan ini juga menjadi premi atau upah bagi Warga Binaan yang bekerja, sebagai bentuk apresiasi atas produktivitas mereka.

Dengan lahirnya produk-produk kuliner ini, Lapas Luwuk semakin menegaskan posisinya bukan sekadar tempat penahanan, melainkan wadah kreatif yang mampu melestarikan cita rasa lokal sekaligus mencetak tenaga kerja yang terampil dan mandiri. (Humas Lapas Luwuk)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *