Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
KABAR BANGGAI – Saat jutaan layar di berbagai belahan dunia menyala serentak, manusia berhenti sejenak dari rutinitasnya. Kafe penuh sesak, ruang keluarga berubah menjadi ruang nonton bersama, warung pinggir jalan memasang layar, dan ruang-ruang publik dipadati lautan manusia yang menatap perhelatan Piala Dunia.
Bagi banyak orang, Piala Dunia bukan lagi sekadar pertandingan sepak bola. Ia telah menjelma menjadi peristiwa yang menyedot perhatian jutaan manusia. Dunia seakan hanyut dalam arus euforia yang melampaui batas bahasa, budaya, dan geografis.
Namun di balik gemuruh sorak-sorai itu, ada ruang-ruang yang tidak ikut bersorak. Ada wilayah yang tidak pernah mengenal gegap gempita, ada kehidupan yang tidak bisa berhenti hanya karena dunia sedang berpesta. Itulah Palestina…….
Palestina tetap berada dalam realitas yang jauh berbeda. Nasibnya tidak ditentukan oleh skor pertandingan, tetapi oleh perjuangan bertahan hidup di tengah situasi buruk yang berkepanjangan.
Di sana, ada anak-anak yang tumbuh dalam situasi yang tidak memberikan kepastian masa depan, ada keluarga yang hidup dalam bayang-bayang kehilangan yang terus berulang, ada masyarakat yang setiap harinya berjuang untuk hal-hal paling mendasar: air, makanan dan obat-obatan.
Di antara dua wajah dunia yang kontras ini, muncul sebuah pertanyaan: bagaimana mungkin perhatian manusia bisa begitu terkonsentrasi pada hiburan, sementara penderitaan nyata yang terus berlangsung justru perlahan terdorong ke pinggir kesadaran?
Palestina adalah salah satu contoh paling nyata dari ketimpangan perhatian global. Hal itu terasa semakin tajam ketika dunia begitu cepat merespons hasil pertandingan, tetapi tidak selalu memiliki kecepatan yang sama dalam merespons krisis kemanusiaan.
Tidak ada yang salah dengan menikmati hiburan dan olahraga, tetapi menjadi masalah ketika hiburan membuat tumpul sensitivitas terhadap penderitaan sesama manusia.
Jangan Sampai Hiburan Mengalahkan Kepedulian
Islam adalah din waqi’iy (sesuai dengan realitas kehidupan manusia). Ketika manusia menyukai keindahan, kecantikan, kelezatan dan kemerduan, Islam menghalalkannya dengan syarat hal tersebut didapatkan dengan cara yang baik dan dilakukan dengan cara yang benar.
Islam justru mengajarkan bahwa mencari ketenangan, beristirahat, mencari hiburan bisa dilakukan, namun harus sesuai dengan porsinya.
Islam memperbolehkan hiburan dengan syarat: tidak mengandung unsur berbahaya, tidak menampilkan fisik dan aurat, tidak mengandung unsur magis (sihir), tidak ada unsur kedzaliman (pelecehan, penghinaan atau menyakiti), tidak ada judi, dan tidak berlebihan.
Di sisi lain, Islam juga menegaskan bahwa hidup manusia tidak pernah lepas dari amanah, tentang bagaimana waktu, perhatian, dan harta dikelola dengan kesadaran moral dan spiritual yang benar.
Dalam konteks modern, Piala Dunia bukan lagi sekadar tontonan olahraga. Ia telah menjadi fenomena global yang melibatkan aspek ekonomi, sosial, dan budaya dalam skala yang sangat besar.
Pada setiap penyelenggaraannya, jutaan orang melakukan perjalanan lintas negara demi menyaksikan langsung pertandingan di stadion, menjadikannya salah satu mobilitas manusia terbesar dalam peristiwa olahraga dunia.
Dalam sebuah diskursus publik di Arab Saudi, muncul estimasi bahwa sekitar satu juta penggemar dari kawasan Arab akan melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk menyaksikan Piala Dunia. Meskipun angka ini bersifat perkiraan, ia tetap memberikan gambaran tentang betapa besar arus pergerakan manusia yang terjadi untuk satu ajang olah raga.
Jika satu orang penggemar dari kalangan mampu menghabiskan biaya perjalanan yang mencakup tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi hotel, konsumsi, transportasi, hingga tiket pertandingan sekitar Rp200 juta, maka secara akumulatif jumlah tersebut dapat mencapai sekitar Rp200 triliun.
Angka yang sangat besar ini tentu bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan untuk membuka ruang refleksi tentang arah prioritas kolektif manusia modern.
Pada titik inilah pertanyaan moral perlu dilayangkan: ke mana sesungguhnya arah perhatian dan energi manusia untuk hiburan, sementara di sisi lain krisis kemanusiaan terus berlangsung tanpa henti?
Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din mengingatkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu dan hartanya. Beliau menegaskan, bahwa dosa-dosa besar seringkali dilakukan manusia akibat kebiasaan yang membuat lalai dari ibadah dan perjuangan.












