Timur Tengah Masih Membara, Tidak Kondusif Bagi Palestina

Prof. Hamdan mempertanyakan bagaimana tata kelola, keamanan, dan arsitektur politik-ekonomi yang diusulkan oleh Resolusi 2803 (2025) memengaruhi prospek terwujudnya negara Palestina yang berdaulat, merdeka, dan mandiri, terutama jika dilihat melalui lensa kegagalan historis dan fragmentasi struktural yang ada.

Israel terlibat perang terus menerus

banner 900x250

Mengenai situasi Timur Tengah yang masih jauh dari perdamaian, Dubes RI untuk Iran dan Turkmenistan (2012-2026) Dian Wirengjurit menyoroti Israel yang beroperasi di bawah klaim ancaman eksistensial, dengan membingkai postur militernya sebagai sesuatu yang bersifat defensif.

Namun, ketika diperiksa secara komparatif, khususnya terhadap Iran yang secara serupa memposisikan dirinya sebagai kekuatan minoritas di lingkungan regional yang tidak bersahabat, justifikasi ini menjadi semakin sulit untuk dipertahankan.

Berbeda dengan Iran, Israel telah terlibat secara terus-menerus dalam konflik militer aktif, baik secara ofensif maupun defensif terhadap berbagai aktor di seluruh kawasan.

Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai apakah perilaku militer Israel benar-benar mencerminkan kebutuhan defensif, atau justru mencerminkan agenda yang jauh lebih luas dan melampaui sekadar upaya mempertahankan diri.

 Menyinggung soal pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 14 Mei 2026, menurut Dubes Dian Wirengjurit, pertemuan itu menunjukkan Presiden AS sudah kehilangan daya tawar setelah ditinggalkan sekutunya di Eropa dan Arab dibandingkan dengan Tiongkok.

Teluk belum bebas

Selanjutnya Pizaro Gozali Idrus, wartawan dan Peneliti AMEC, menjelaskan, negara-negara Teluk karena dalam konflik Iran-AS berada di sisi AS dan menjadi target serangan rudal Iran berusaha untuk mencari solusi yang aman bagi mereka meski tidak mudah.

Baca Juga Berita Ini:  UIN Jakarta Gelar Workshop “Creative Writing", Hadirkan Wartawan Senior Aat Surya Safaat

Menurut Pizaro, alih-alih mengandalkan kekuatan militer AS untuk menekan para pesaingnya, negara-negara Teluk mulai mengadopsi pendekatan yang lebih mandiri.

Pizaro mencatat adanya upaya normalisasi hubungan dengan Iran. Kesepakatan antara Arab Saudi dan Iran yang dimediasi Tiongkok menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mampu menangani konflik regional tanpa campur tangan Washington.

Demikian juga upaya untuk mengakhiri perang di Yaman dan memulihkan hubungan diplomatik dengan Qatar (setelah blokade) mencerminkan pergeseran menuju rekonsiliasi regional.

Selanjutnya juga muncul perluasan aliansi geopolitik. Arab Saudi, Mesir, Pakistan, dan Turki telah mulai memperkuat aliansi militer di tengah tindakan Israel dan AS di Timur Tengah.

Namun upaya negara-negara Teluk untuk tidak tergantung ke AS tidak mudah. Pizaro mencatat beberapa hal. Pertama, adanya tekanan balasan dari AS karena Washington tampaknya tidak akan membiarkan sekutu-sekutunya untuk dengan mudah berpindah haluan.

Lalu sejauh ini Tiongkok dan Rusia belum menunjukkan kemauan atau kemampuan untuk bertindak sebagai penjamin keamanan militer di Teluk, menggantikan AS jika terjadi konflik terbuka. Faktor lain, adanya persaingan di antara negara-negara Teluk dan ketergantungan struktural pada tenaga kerja asing.

Sementara itu, dalam analisisnya, Abdolreza Alami yang merupakan Co-Founder Director of Asia West-East Centre (AsiaWE) di Malaysia menyatakan, asumsi bahwa Iran ambruk, Hamas melemah, Hizbollah tertekan dan Suriah pecah tidak terbukti setelah perkembangan konflik dua bulan ini.

Baca Juga Berita Ini:  Kemenimipas Catat Kenaikan PNBP Signifikan pada Tahun 2025

Realitasnya jaringan regional perlawanan terhadap AS dan Israel masih bertahan dan demikian juga Iran masih bertahan. Selain itu, adanya posisi Iran yang strategis secara geografis memperkuat kehadirannya di Timur tengah.

Iran memiliki karakteristik khusus, dimana secara geografis lokasinya yang sulit ditembus namun memiliki akses maritim dan memiliki rute perdagangan yang tidak bisa dihilangkan.

Dengan kata lain, Iran memiliki posisi geografi yang menguntungkan dan memiliki kekuatan senjata yang menjadi daya penggentar musuh serta mempunyai jaringan perdagangan multi jalur, tidak hanya laut tetapi juga darat.

Dalam proposal seminarnya ini AMEC yang merupakan organisasi ”think thank” Asia Tenggara menyatakan bahwa Timur Tengah telah lama menjadi pusat konflik global yang kompleks dan berlapis.

Faktor ini mencerminkan interaksi sejarah kolonial, persaingan geopolitik, identitas ideologis, serta kepentingan ekonomi dan keamanan global. Konflik-konflik ini tidak dapat dipahami secara terpisah.

Sebaliknya, konflik-konflik tersebut harus dianalisis sebagai hasil dari faktor-faktor struktural yang saling terkait di tingkat domestik, regional, dan internasional.

Dalam konteks inilah konflik Israel-Palestina, dinamika keamanan Teluk serta persaingan antara Iran dan Israel mewakili aspek utama dari krisis multidimensional yang sedang berlangsung.( Rilis AA/S)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *