Pendekatan Humanis Kalapas Luwuk, Sulap Area Kunjungan Jadi Ruang Rindu yang Nyaman

KABAR BANGGAI  – Suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk berubah drastis pagi ini, Selasa (24/3). Dinding-dinding beton yang biasanya tampak kaku dan dingin, seolah luruh oleh tawa renyah dan langkah kecil anak-anak yang datang berkunjung. Di hari kemenangan ini, jeruji besi tak mampu membendung hangatnya pelukan kerinduan.

Sejak pintu kunjungan dibuka, pemandangan mengharukan mulai terlihat di setiap sudut ruang pertemuan. Anak-anak dengan pakaian lebaran terbaik mereka tampak berlari kecil menuju dekapan ayah mereka yang sedang menjalani masa pembinaan.

banner 900x250

Bagi para Warga Binaan, kehadiran buah hati adalah kado Idulfitri yang paling mewah. Tak sedikit dari mereka yang tak kuasa menahan air mata saat menggendong sang anak untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah jarak.

“Melihat senyum anak saya adalah semangat terbesar untuk segera menyelesaikan masa pidana dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” ungkap salah satu Warga Binaan sambil menyeka air matanya.

Baca Juga Berita Ini:  "Dukung 15 Program Aksi, Lapas Luwuk Kembangkan Agrowisata Anggur & Melon"

Memahami pentingnya ikatan psikologis antara orang tua dan anak, pihak Lapas Luwuk telah menyulap area kunjungan menjadi lebih nyaman. Dengan dekorasi khas hari raya dan pengaturan ruang yang lebih terbuka, kesan mencekam dari sebuah penjara seolah sirna berganti suasana kekeluargaan.

Kalapas Luwuk, Muhammad Bahrun menyampaikan bahwa momen ini sengaja dikelola dengan pendekatan humanis.

Area kunjungan diatur sedemikian rupa agar interaksi fisik antara ayah dan anak tidak terhalang. Meski suasana mencair, petugas tetap bersiaga dengan ramah untuk memastikan kenyamanan semua pihak.

“Hari Raya adalah momentum sakral. Kami ingin Warga Binaan merasakan bahwa mereka masih memiliki tempat untuk pulang, dan kehadiran anak-anak adalah pengingat terkuat bagi mereka untuk benar-benar berubah.

Baca Juga Berita Ini:  "Lapas Luwuk Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan Melalui Panen Raya Serentak UPT Pemasyarakatan"

Senyum anak-anak itulah yang menjadi ‘sentuhan hangat’ sekaligus motivasi terbesar bagi mereka untuk menjalani sisa masa pidana dengan baik,” ujar Bahrun.

Kunjungan Hari Raya ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari proses rehabilitasi mental bagi para penghuni Lapas.

Dukungan keluarga, terutama binar mata anak-anak, dipercaya menjadi stimulan positif bagi Warga Binaan untuk tidak lagi mengulangi kesalahan di masa lalu.

Hingga siang hari, kunjungan berlangsung dengan tertib dan penuh haru. Senyum anak-anak yang menghias koridor Lapas Luwuk hari ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesalahan, selalu ada kesempatan untuk pulang dan menjadi pahlawan bagi keluarga tercinta.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *