Oleh : Aisah P. Panti
KABAR BANGGAI – Patriarki di era modern kerap dianggap telah memudar seiring meningkatnya akses perempuan terhadap pendidikan, pekerjaan, serta partisipasi di ruang publik.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Realitas menunjukkan bahwa patriarki tidak benar-benar hilang, melainkan mengalami transformasi menjadi lebih halus, tersembunyi, dan sering kali tidak disadari keberadaannya. Sabtu 4 April 2926.
Jika pada masa lalu perempuan dibatasi secara terang-terangan, kini pembatasan tersebut hadir dalam bentuk yang lebih samar.
Standar sosial, budaya populer, hingga sistem yang tampak “normal” justru menjadi medium baru yang melanggengkan ketimpangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan masih dihadapkan pada ekspektasi yang tidak seimbang, meskipun secara formal mereka telah memiliki kesempatan yang lebih luas.
Fenomena ini semakin terlihat jelas di era digital. Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, justru kerap menjadi sarana objektifikasi perempuan.
Nilai perempuan sering direduksi pada aspek fisik, standar kecantikan, dan citra tubuh yang tidak realistis.
Tanpa disadari, banyak perempuan terdorong untuk memenuhi ekspektasi tersebut demi mendapatkan pengakuan sosial.
Ironisnya, tekanan ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga telah terinternalisasi dalam pola pikir masyarakat, bahkan dalam diri perempuan itu sendiri.
Selain itu, perempuan modern juga dihadapkan pada beban ganda atau double burden.
Di satu sisi, mereka didorong untuk berkarier dan mandiri secara ekonomi. Namun di sisi lain, tanggung jawab domestik masih dilekatkan hampir sepenuhnya kepada perempuan.
Kondisi ini membuat perempuan harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sering kali tidak sebanding.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan yang dicapai belum diiringi dengan perubahan struktur sosial yang adil.
Permasalahan lain yang tak kalah penting adalah minimnya representasi perempuan di ruang-ruang strategis, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun organisasi.
Stereotip lama seperti anggapan bahwa perempuan kurang rasional atau terlalu emosional masih terus direproduksi dalam wajah baru.
Padahal, keterbatasan tersebut bukan berasal dari kemampuan perempuan, melainkan dari sistem yang belum sepenuhnya memberikan ruang yang setara.
Patriarki juga kerap bersembunyi di balik tafsir agama dan budaya. Tidak jarang nilai-nilai yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan justru dipahami secara sempit dan bias gender.
Akibatnya, pembatasan terhadap perempuan dianggap sebagai sesuatu yang “kodrati” bahkan “sakral”.
Dalam konteks ini, diperlukan keberanian untuk melakukan penafsiran ulang yang lebih adil dan manusiawi, tanpa menghilangkan esensi nilai yang ada.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kesetaraan gender hanya akan menjadi slogan tanpa makna.
Perempuan akan terus didorong untuk maju, namun tetap berada dalam batasan yang ditentukan oleh sistem patriarki itu sendiri.
Oleh karena itu, perubahan yang dibutuhkan bukan hanya pada tingkat partisipasi, tetapi juga pada struktur sosial secara menyeluruh.
Masyarakat perlu menyadari bahwa patriarki bukan semata-mata persoalan perempuan, melainkan masalah bersama yang menghambat kemajuan peradaban.
Membongkar sistem patriarki berarti membuka jalan menuju tatanan yang lebih adil, di mana perempuan memiliki otoritas penuh atas dirinya.
Kesetaraan gender bukanlah ancaman, melainkan fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang adil dan beradab.
Tanpa itu, modernitas hanya akan menjadi ilusi yang menutupi ketimpangan dalam balutan yang tampak rapi. ( Aisah P Panti)**







