Oleh: Supriadi Lawani*
KABAR BANGGAI – Fenomena One Piece kembali mencuat ke permukaan. Bukan hanya karena episode terbarunya yang memecahkan rekor penayangan global, tetapi juga karena simbol bendera bajak laut Topi Jerami yang kini viral di berbagai sudut media sosial.
Di Indonesia, bendera ini muncul di belakang mobil truk, di pagar rumah, mural jalanan, stiker motor, hingga baju para anak muda.
Bagi sebagian orang, ini hanya tren visual dari budaya pop. Tapi bagi yang menyelami ceritanya, bendera itu adalah lambang harapan, pemberontakan terhadap ketidakadilan, dan simbol mimpi manusia tentang dunia yang lebih bebas.Senin, 4 Agustus 2025.
One Piece, karya Eiichiro Oda sejak 1997, adalah manga yang melampaui sekadar hiburan. Ia menyajikan epos kemanusiaan yang menyentuh tema ketertindasan, harapan, dan perlawanan.
Monkey D. Luffy, sang tokoh utama, adalah bajak laut dengan cita-cita menjadi Raja Bajak Laut. Namun gelar itu baginya bukan simbol kekuasaan, melainkan puncak dari kebebasan mutlak—hak untuk menentukan jalan hidup sendiri, bebas dari kendali sistem yang korup dan opresif.
Namun Luffy tidak sendiri. Di kapal kecil mereka, Thousand Sunny (dan sebelumnya, Going Merry), berkumpul orang-orang dengan luka dan mimpi masing-masing—yang saling menambal satu sama lain, hingga menjelma jadi satu keluarga yang tak tergantikan.
Zoro adalah pendekar pedang yang mengorbankan segalanya demi janji masa kecilnya: menjadi yang terkuat. Ia adalah simbol dari kesetiaan mutlak. Nami, korban penjajahan bajak laut Arlong, bergabung bukan karena dijanjikan kekuatan, tapi karena melihat Luffy sebagai pelindung yang tak pernah meminta imbalan.
Sanji, sang koki, membawa luka batin sebagai anak yang ditolak keluarganya, namun membalas dunia dengan memberi makan siapa pun yang kelaparan. Robin adalah arkeolog yang diburu karena membaca sejarah yang dilarang; ia mewakili mereka yang dibungkam karena mencari kebenaran.
Franky, Brook, dan Jinbei—masing-masing mewakili trauma, kehormatan, atau penebusan. Tapi salah satu tokoh yang paling menyentuh adalah Usopp.
Usopp bukan manusia super. Ia tidak punya kekuatan iblis. Ia tidak bisa menebas kapal atau mengalahkan musuh raksasa. Tapi ia tetap berdiri. Ia adalah anak tukang kayu dari desa kecil yang tumbuh dengan cerita bohong untuk menutupi rasa takutnya.
Ia penakut—tetapi justru karena itu, ia paling mewakili kita semua. Dalam pertarungan hidup, Usopp adalah cermin dari manusia biasa yang rapuh, tapi tetap mencoba berdiri, demi kawan-kawan dan mimpi yang ia yakini.
Usopp adalah simbol dari keberanian yang sejati: bukan tanpa rasa takut, tapi justru tetap melangkah meskipun takut. Dalam salah satu titik balik emosional cerita, Usopp berkata:
“Aku mungkin pengecut… tapi aku tidak akan lari dari teman-temanku!”
Dan di situlah letak kekuatan Topi Jerami: mereka bukan kelompok pahlawan sempurna, tapi orang-orang biasa dengan tekad luar biasa.
Eiichiro Oda sendiri pernah berkata dalam wawancara:
“Luffy bukan pahlawan. Karena pahlawan akan berbagi daging dengan orang lain. Tapi Luffy ingin memakan seluruh daging itu sendiri. Dia hanyalah seseorang yang mengikuti naluri kebebasannya sendiri.”
Pernyataan ini menyiratkan bahwa kekuatan Luffy bukan pada idealismenya yang steril, melainkan pada ketulusannya yang liar dan manusiawi. Ia tidak mengklaim membela rakyat, tetapi ia selalu berdiri di sisi yang tertindas—karena ia tidak tahan melihat ketidakadilan terjadi di depan matanya.
Dalam surat terbuka di ulang tahun ke-20 One Piece, Oda menulis:
“Meskipun ini hanya fiksi, aku ingin orang-orang percaya pada dunia yang lebih baik. Itulah tujuan manga.”
Tak heran jika generasi muda hari ini—yang hidup di tengah tekanan ekonomi, pendidikan mahal, lapangan kerja sempit, dan politik yang memuakkan—melihat bendera Topi Jerami bukan sebagai gimmick.
Tapi sebagai pengingat bahwa mimpi masih mungkin dijalankan, bahwa solidaritas masih mungkin diperjuangkan, dan bahwa kekuasaan bisa digoyang oleh mereka yang tak memiliki apa-apa kecuali tekad.
Dalam dunia yang makin menyerupai Grand Line—penuh badai, ilusi, dan bahaya—One Piece mengajarkan bahwa arah bukan ditemukan di peta, melainkan dibentuk bersama: lewat kawan seperjuangan, keberanian bermimpi, dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan.
Maka, tak keliru jika bendera bajak laut Topi Jerami dikibarkan hari ini, anggap saja sebagai umbul – umbul, selama bendera merah putih masih tetap lebih tinggi.
Ia bukan ajakan untuk melawan hukum, tetapi untuk menantang ketidakadilan yang dilanggengkan atas nama hukum. Ia bukan simbol kekerasan, tetapi simbol mimpi dan kebebasan yang tidak tunduk pada penindasan. Mungkin benar, One Piece bukan sekadar cerita. Ia adalah pelayaran kolektif menuju dunia yang lebih adil—di dalam fiksi, dan semoga juga, di dunia nyata.(SL) **













