KABAR BANGGAI – Kepala Divisi Program dan Komunikasi Subholding Upstream Pertamina, Hudi D. Suryodipuro, menegaskan pentingnya peran strategis migas dalam mendukung ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.
Dalam kegiatan Media Gathering Regional Indonesia Timur yang digelar Subholding Upstream Pertamina, Hudi membawakan materi bertajuk “Memperkuat Peran Migas Sebagai Energi yang Andal dan Berkelanjutan untuk Ketahanan Energi Mendukung Program ASTA CITA”.
Selama 22 tahun terakhir, industri hulu migas Indonesia telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara, dengan nilai mencapai Rp 5,045 triliun, menjadikannya sumber penerimaan negara terbesar kedua setelah pajak.
Tak hanya itu, keberadaan migas juga menjadi katalis pertumbuhan industri dalam negeri melalui peningkatan suplai gas domestik.
Beberapa capaian penting yang telah dicatatkan termasuk proyek strategis nasional (PSN) seperti Proyek Jangkrik, Train-3 Tangguh, dan Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang telah berhasil onstream.
Selain itu, temuan cadangan migas baru – terutama gas – terus berlanjut, memperkuat harapan atas masa depan energi nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Namun demikian, Hudi juga menyoroti tantangan global yang sedang dihadapi, mulai dari perlambatan ekonomi dunia yang tumbuh kurang dari 3%, konflik geopolitik yang kompleks seperti Rusia-Ukraina dan Israel-Iran, hingga dampak perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, tantangan perubahan iklim dan trilema energi – keamanan, keterjangkauan, dan emisi rendah menuntut transformasi cepat dalam sektor energi.
Dalam konteks transisi energi, permintaan gas meningkat, didorong oleh pengembangan teknologi seperti Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).
Tren investasi global juga menunjukkan arah positif dengan meningkatnya dana global untuk pengembangan energi bersih.
Data menunjukkan, dalam dua dekade terakhir, konsumsi minyak di Indonesia meningkat 139%, sementara konsumsi gas melonjak hingga 298%. Hal ini menjadi cerminan nyata bahwa energi, khususnya migas, masih menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan nasional.
Hudi menyampaikan bahwa arah kebijakan energi ke depan harus selaras dengan visi besar Indonesia Emas 2045 yang tercermin dalam Program ASTA CITA Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Program ini menempatkan energi sebagai prioritas utama, termasuk di dalamnya swasembada energi dan percepatan transisi menuju energi hijau.
ASTA CITA menargetkan penguatan ketahanan energi nasional melalui lima langkah utama, yaitu: mengurangi ketergantungan pada energi fosil, memperbaiki tata kelola migas sesuai UUD 1945 Pasal 33, memberikan insentif untuk eksplorasi sumber energi baru, membangun kilang dan infrastruktur energi strategis, serta memperluas penggunaan gas dan listrik dalam sektor transportasi.
Potensi migas Indonesia juga masih sangat besar. Berdasarkan data Kementerian ESDM April 2025, cadangan minyak tercatat sebesar 4,31 miliar barel dan gas mencapai 51,98 TCF. Terdapat 165 Wilayah Kerja (WK), dengan 105 WK dalam tahap eksploitasi dan 43 dalam tahap eksplorasi aktif. Total lebih dari 39.000 sumur telah dibor, membuktikan bahwa sektor migas masih menyimpan peluang besar bagi pertumbuhan nasional.
Dengan seluruh capaian dan tantangan tersebut, Hudi menegaskan bahwa Pertamina Subholding Upstream akan terus berkomitmen menjaga keberlanjutan energi nasional, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan cita-cita besar Indonesia sebagai raja energi hijau dunia.( Data Media Gatering SKK Migas) **













