KABAR BANGGAI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam rangka meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Selasa (24/2/2026), jajaran Lapas Luwuk melaksanakan kunjungan dan koordinasi ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Banggai untuk membahas kelanjutan proposal budidaya ikan air tawar sistem bioflok serta pengembangan program pembinaan berbasis kompetensi.
Kepala Disnakertrans Kabupaten Banggai, Ibu Ernaini Mustatim, menyambut hangat kunjungan tersebut dalam suasana yang kolaboratif.
Diskusi difokuskan pada perencanaan pelatihan intensif pembuatan Bioflok, guna memastikan Warga Binaan memiliki keahlian teknis yang mumpuni dalam pengelolaan budidaya mandiri.
Dalam pembahasan, Disnakertrans memberikan sejumlah masukan strategis, di antaranya pentingnya penyusunan rincian anggaran yang realistis dan terperinci sebagai dasar pengajuan serta pelaksanaan program.
Selain itu, pendekatan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) juga direkomendasikan agar kegiatan memiliki output yang terukur dan memberikan sertifikasi kompetensi yang bermanfaat bagi Warga Binaan setelah bebas nanti.
Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam mewujudkan pembinaan yang produktif dan berkelanjutan.
“Kami berkomitmen menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat rutinitas, tetapi benar-benar memberikan bekal keterampilan yang aplikatif bagi Warga Binaan.

Program bioflok ini kami harapkan menjadi salah satu unggulan pembinaan kemandirian di Lapas Luwuk, sekaligus membuka peluang usaha setelah mereka kembali ke masyarakat,” tegas Bahrun.
Kepala Disnakertrans, Ernaini Mustatim, menyampaikan dukungannya terhadap program pembinaan yang digagas Lapas Luwuk.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Lapas Luwuk dalam mengembangkan program budidaya ikan sistem bioflok. Ini merupakan langkah konkret dalam membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang produktif.
Kami mendorong agar pelatihan dilaksanakan berbasis kompetensi sehingga hasilnya benar-benar terukur dan memberikan nilai tambah,” ujarnya.
Ia juga memfasilitasi komunikasi awal dengan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banggai, Ibu Ferlin Monggesang, guna mendukung penyiapan mentor teknis yang kompeten di bidang budidaya ikan air tawar.
Mengingat pada tahun 2026 Disnakertrans hanya terlibat pada tiga pelatihan (Barbershop, Public Speaking, dan Bartender), maka koordinasi lintas dinas menjadi langkah strategis agar program bioflok tetap dapat berjalan optimal.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan menyampaikan apresiasi atas langkah proaktif Lapas Luwuk dalam membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak swasta.
“Sinergi seperti ini sangat penting dalam mewujudkan pembinaan yang berdampak nyata. Kami mendukung penuh upaya Lapas Luwuk dalam mengembangkan program berbasis kompetensi dan pemberdayaan ekonomi. Ini sejalan dengan semangat Pemasyarakatan yang humanis dan produktif,” ungkapnya.
Langkah strategis ini juga menjadi bagian dari implementasi nilai dan slogan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yakni “PRIMA” (Profesional, Responsif, Inovatif, Modern, dan Akuntabel), dalam memberikan pelayanan dan pembinaan terbaik.
Melalui sinergi yang terbangun, Lapas Luwuk optimis program budidaya ikan sistem bioflok dan pengembangan produk kemandirian lainnya dapat berjalan optimal, memberikan manfaat nyata bagi Warga Binaan, serta mendukung reintegrasi sosial yang lebih bermartabat. Red-Humas/Lapas Luwuk.**







