Kisah Warga Kokolomboi: Tinggalkan Perburuan Tarsius, Bangkit Jadi Peternak Madu Bersama Pertamina EP

KABAR BANGGAI  – Dalam agenda kegiatan Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, kisah inspiratif datang dari pelosok Kabupaten Banggai Kepulauan, tepatnya dari kawasan Kokolomboi, Pulau Peleng.

Cerita tersebut disampaikan oleh Sofiana Hasana, pendamping program pemberdayaan masyarakat lokal dan Local Hero yang mendampingi masyarakat adat Togong Tanga di Desa Leme-Leme Darat, Banggai Kepulauan.

Di hadapan peserta Media Gathering, Sofiana menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat adat Kokolomboi masih sangat bergantung pada hasil hutan, nyaris 80 persen dari kebutuhan hidup mereka bersumber dari sana.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan masyarakat adat di pedalaman Papua yang menjadikan burung Cenderawasih sebagai ikon identitas mereka. Namun, di Kokolomboi, salah satu satwa yang sering diburu adalah tarsius, primata kecil endemik Pulau Peleng yang menjadi salah satu kekayaan hayati yang dilindungi.

Ironisnya, perburuan satwa seperti tarsius dan aktivitas mengambil hasil hutan liar dilakukan bukan karena niat merusak, tetapi karena keterpaksaan ekonomi.

“Mereka hidup di tengah keterbatasan. Infrastruktur jalan buruk, fasilitas kesehatan minim, bahkan penerangan pun belum tersedia. Jadi, wajar kalau mereka memanfaatkan apapun yang bisa mereka temui di hutan demi mencukupi kebutuhan hidup,” jelas Sofiana.

Namun, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Jika eksploitasi hasil hutan berjalan tanpa kendali, generasi mendatanglah yang akan menanggung akibatnya.

Baca Juga Berita Ini:  Dukung Kemandirian Energi, Pertamina EP Tingkatkan Kapasitas Produksi Lapangan Akasia Bagus

Melihat persoalan tersebut, PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) bersama Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan berinisiatif menjalankan sebuah program konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat adat, yakni Kokolomboi Lestari.

Sofiana menuturkan, tantangan terbesar program ini adalah membangun kepercayaan masyarakat adat Togong Tanga. “Awalnya, mereka curiga. Siapa kami? Kenapa tiba-tiba datang ke wilayah adat mereka?

Apa ini ada kaitannya dengan pengeboran migas? Itu pertanyaan pertama yang mereka lontarkan,” ucap Sofiana. Sebagai pendamping, ia harus menunjukkan komitmen bahwa kehadiran mereka bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk berkontribusi menjaga keanekaragaman hayati yang ada di kawasan Banggai Bersaudara.

Program Kokolomboi Lestari resmi diluncurkan pada tahun 2020. Fokus utamanya adalah konservasi hutan dan pemberdayaan masyarakat agar beralih dari praktik merusak lingkungan ke aktivitas ramah lingkungan yang memberikan nilai ekonomi, seperti budidaya lebah madu.

Ide ini datang dari sosok inspiratif bernama Labi Mopok, seorang penjaga hutan lokal yang ditetapkan sebagai Local Hero oleh Pertamina atas kontribusinya terhadap lingkungan.

Labi Mopok, yang sebelumnya ikut menjaga hutan atas mandat dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai Kepulauan, menyadari bahwa sekadar menjaga tidak cukup untuk menghentikan praktik perburuan liar.

Maka, ia pun berinisiatif mengenalkan budidaya lebah madu sebagai alternatif mata pencaharian. Madu dipilih karena sudah akrab dalam budaya perdagangan masyarakat Pulau Peleng.

Baca Juga Berita Ini:  Tradisi dan Budaya Warnai Penyambutan Kapolres Banggai Baru

Menariknya, budidaya lebah madu dilakukan secara alami tanpa merusak lingkungan. Sarang lebah dibuat dari batang pohon palem yang dipotong sekitar satu meter, dilubangi, dan ditempatkan di hutan dekat pohon berbunga untuk menarik lebah bersarang. Praktik ini tidak merusak ekosistem, bahkan justru memperkaya keanekaragaman hayati di sekitar hutan.

Program Kokolomboi Lestari memberikan pelatihan, pendampingan, hingga bantuan alat berupa mesin penyaring madu. Tidak hanya itu, PEP DMF juga membantu memasarkan madu hasil produksi masyarakat ke berbagai wilayah di Indonesia, menciptakan rantai ekonomi baru bagi warga Kokolomboi.

Hasilnya? Perlahan namun pasti, ketergantungan masyarakat adat terhadap hasil hutan liar berkurang. Mereka kini memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan dan tidak harus lagi berburu satwa langka seperti tarsius atau melakukan penebangan pohon secara liar.

Lebih dari sekadar program pemberdayaan, Kokolomboi Lestari telah menjadi gerakan perubahan sosial dan lingkungan di Pulau Peleng.

“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat adat bahwa mereka adalah garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan. Ini bukan hanya soal hari ini, tapi tentang masa depan anak cucu mereka,” tegas Sofiana.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat bisa menghasilkan solusi yang bukan hanya menyelesaikan persoalan ekonomi, tapi juga menjaga warisan alam untuk generasi mendatang.( MAM) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *