Oleh: Fitri Hadun, S. Pd
KABAR BANGGAI – Puluhan pelajar Kota Bogor dilarikan ke sejumlah rumah sakit, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengkonsumsi makan bergizi gratis (MBG) (tirto.id.07/05/2025).
Korbannya sebanyak 36 orang yang terdiri pelajar SD, SMP, dan guru. Bahkan, Jumlah korban keracunan diduga akibat mengkonsumsi makan bergizi gratis (MBG) di Kota Bogor bertambah jadi 210 orang berdasarkan perkembangan kasus hingga 9 Mei 2025
(cnnindonesia.com.11/05/2025).
Gejala yang muncul mual, pusing, dan diare (tirto.id.7/5/2025) Kasus keracunan makanan dalam program MBG bukan hanya terjadi di Bogor namun sudah beberapa kali terjadi di mitra MBG.
Bahkan, diklaim Realisasi MBG telah mencapai 3 juta peserta. Dari jumlah tersebut, tercatat sampai Mei 2025 sudah terdapat 1.315 korban dari siswa penerima yang mengalami keracunan makanan akibat paket MBG.
Hal, ini menunjukkan kelalaian pemimpin dalam menjamin gizi dan keamanan masyarakat.
Seharusnya pemerintah lebih teliti terhadap program tersebut. sebab, sebagaimana kita ketahui bahwa Keracunan makanan terjadi karena makanan tersebut terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit biasanya mencemari makanan pada saat proses, produksi, hingga pendistribusian (hellosehat.com).
Keracunan MBG, Negara Lepas Tanggung Jawab
Keracunan makanan dalam program sangat mungkin terjadi. Sebab, negara menyerahkan tanggung jawab menjamin gizi masyarakat kepadaa swasta.
Ketika MBG dijalankan oleh swasta maka sangat berpeluang terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sebab, swasta tidak memiliki kewenangan untuk bertanggung jawab kepada masyarakat.
Selain itu, swasta tentu hanya berorientasi pada keuntungan, menginginkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.
Sehingga, sangat bisa dilakukan berbagai cara untuk menekan biaya produksi seperti bahan yang digunakan yang kurang bagus yang penting murah, cara produksi tidak tepat dan tidak bersih, bahkan pengemasan tidak bersih sehingga menyebabkan diare bahkan keracunan.







