Jamaah Muslimin Pertanyakan Manfaat BoP Bagi Indonesia

KABAR BANGGAI –   Presiden Prabowo Subianto sebaiknya memikirkan kembali manfaat keberadaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) yang dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump, menyusul terjadinya serangan besar-besaran koalisi AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang menelan banyak korban jiwa.

Pernyataan tersebut dikemukakan Imaam Yakhsyallah Mansur selaku pimpinan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) pada Seminar “Kesiapan Umat dalam Menghadapi Dinamika Konflik Global” yang digelar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/3).

Jamaah Muslimin dalam pernyataan sikapnya menegaskan, BOP tidak layak untuk diteruskan keberadaannya karena jelas-jelas mengusung agenda imperialisme global, terutama di Timur Tengah.

Agresi militer koalisi AS-Israel terhadap Iran itu sendiri menelan banyak korban jiwa, di antaranya anak-anak sekolah, remaja putri, dan orang-orang yang sedang beribadah di dalam masjid. Puncaknya adalah wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi negeri dari unsur ulama dan ilmuwan serta pemimpin militer.

Terhadap serangan yang diperintahkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu itu Iran pun melancarkan serangan balasan ke Israel dan berbagai target, terutama pangkalan militer Amerika di beberapa negara Teluk.

Disebutkan, serangan militer AS-Israel terhadap Iran itu sudah cukup menegaskan bahwa Board of Peace dipimpin oleh tokoh-tokoh kriminal global yang menebar teror dan haus menumpahkan darah.

Baca Juga Berita Ini:  Pertamina Drilling Hadir di NAPEC 2025, Unjuk Kapasitas dan Inovasi di Panggung Global

Dengan luasnya kerusakan dan terbunuhnya banyak nyawa warga sipil di Iran sudah cukup bukti untuk menyeret Donald Trump dan Benjamin Netanyahu ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang karena telah secara nyata melanggar hukum internasional dan piagam PBB tentang hak asasi manusia (HAM).

Jamaah Muslimin juga menegaskan, agresi militer As-Israel terhadap Iran  tidak dapat dipisahkan dari konteks penjajahan Israel atas Palestina. Selama ini Iran tegar berdiri membela kepentingan Palestina dan serangan baliknya terhadap Israel merupakan pesan agar penjajahan terhadap Palestina dan khususnya Al-Quds harus dihentikan.

Israel sendiri menggunakan situasi perang untuk meningkatkan tekanannya terhadap Masjidil Aqsa, di mana selama hari-hari terakhir ini warga Palestina dilarang memasuki kompleks masjid tersebut. Masjid Al-Aqsa kosong dari jamaah shalat tarawih, suatu kekosongan di bulan Ramadhan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Jamaah Muslimin lebih lanjut menyerukan kaum muslimin sedunia agar lebih intensif membangun kesatuan umat dan menghindari dikotomi Sunni-Syi’ah. Musuh-musuh Islamlah yang telah membentuk opini bahwa Syiah dan Sunni adalah musuh dan selalu menghalangi umat Islam untuk bersatu.

Selama 40 tahun Israel dan sekutunya juga telah menebar kampanye disinformasi yang sistematis terhadap Iran bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial bagi Israel. Realitanya adalah sebaliknya. Israel justru terbukti sering menyerang negara-negara di sekitarnya.

Baca Juga Berita Ini:  Pimpinan DePA-RI Bersilaturahmi dengan Dubes RI untuk Singapura

Iran juga tidak memiliki fasilitas nuklir sebagaimana yang dituduhkan, bahkan telah menandatangani Kesepakatan Non Proliferasi Nuklir, sementara Israel menolak menandatanganinya, padahal negara itu memiliki sekitar 400 senjata nuklir.

Pada bagian lain, Jamaah Muslimin menyerukan agar Umat Islam pandai membaca sejarah dan jeli menyadari inti pesan di balik berbagai persoalan global. Sepanjang kaum Muslimin berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bersungguh-sungguh membangun kesatuan umat, maka Allah akan memberikan kemenangan sebagaimana yang dijanjikan-Nya.

Disebutkan pula, Jama’ah Muslimin terpanggil untuk ikut bersuara demi keselamatan warga dunia termasuk umat Islam, terutama yang berada di Iran serta di negeri-negeri Timur Tengah dan sekitarnya. Hal ini didasari oleh semangat ukhuwah atau persaudaraan sesama muslim maupun sesama umat manusia, dan bukan karena motif politik apapun.

Pada bagian akhir pernyataan sikapnya, Jamaah Muslimin menyerukan kepada seluruh umat Islam supaya berdoa agar Allah memberikan kemenangan kepada pihak yang berpegang kepada al-haq (kebenaran).  Rls AAT/S **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *