Indonesia Gelap, Membutuhkan Cahaya Islam

Oleh : Zulfa Khaulah, S.Pd (Aktivis Muslimah)

KABAR BANGGAI – Jagat Maya kembali dihebohkan dengan viralnya Tagar Peringatan Darurat hingga sempat trending di platform X (Twitter) Indonesia. Tagar peringatan kali ini memuat narasi “Indonesia Gelap”. Tagar tersebut berawal dari beruntunnya kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat belakangan ini.

banner 900x250

Peringatan Darurat dan Indonesia Gelap pertama kali muncul pada 3 Februari 2025. Beberapa isu yang diangkat di antaranya soal kisruh LPG 3 Kg, reformasi Polri, program Makan SIang Bergizi (MBG), pemangkasan anggaran untuk program sosial dan kesejahteraan rakyat, masalah pendidikan, kesehatan, serta lapangan pekerjaan. (Tirto.id, 18/02/2025)

Tak hanya di media sosial, respon dari berbagai kalangan masyarakat pun bermunculan termasuk para aktivis mahasiswa yang aksi turun ke jalan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan menolak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

Ribuan mahasiswa dari sejumlah universitas memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta, pada Kamis (20/2) untuk menggelar demonstrasi lanjutan dalam aksi yang mengangkat tema “Indonesia Gelap”.(CNN Indonesia, 20-02-2025)

Aksi yang dilakukan serentak di lebih dari 10 wilayah ini melayangkan lima tuntutan di antaranya, mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 karena menetapkan pemangkasan anggaran yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, dan mencabut pasal dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (RUU Minerba) yang memungkinkan perguruan tinggi mengelola tambang guna menjaga independensi akademik.

Baca Juga Berita Ini:  Menuntut Kinerja Pemerintah, Bukan Menuntun

Pada saat yang sama, BEM UI juga mendesak agar pemerintah mencairkan tunjangan dosen dan tenaga kependidikan secara penuh tanpa hambatan birokrasi dan pemotongan yang merugikan, mengevaluasi total program MBG dan mengeluarkannya dari anggaran pendidikan, serta berhenti membuat kebijakan publik tanpa basis riset ilmiah dan tidak berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (AntaraNews.com, 17/02/2025)

Aksi demo Indonesia Gelap yang dimotori oleh kalangan mahasiswa merupakan bentuk kepedulian generasi kepada masyarakat yang patut diapresiasi. Namun, sayangnya tuntutan yang ditawarkan sejatinya belum menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Bahkan ada yang menawarkan untuk kembali pada demokrasi yang ideal.

Penerapan sistem demokrasi yang asasnya sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan, sejatinya adalah akar masalah persoalan masyarakat saat ini. Demokrasi melahirkan kebijakan yang bermasalah, tumpang tindih, rapuh bahkan tumpul ke atas tajam ke bawah, karena lahir dari akal manusia yang lemah dan terbatas.

Baca Juga Berita Ini:  Kekerasan Rumah Tangga Bukan Aib, Tapi Kejahatan: Refleksi Kasus KDRT di Luwuk Selatan

Demokrasi yang substansinya kedaulatan berada di tangan rakyat menyebabkan rakyat bebas memilih benar dan salah tanpa standar yang jelas yakni halal dan haram. Alhasil, masyarakat bebas berakidah, berpendapat, berperilaku dan dalam hal kepemilikan.

Maka dari itu, mahasiswa sudah seharusnya memahami dan menyadari bahwa akar daripada persoalan masyarakat hari ini adalah karena penerapan sistem demokrasi. Pasalnya, demokrasi yang sering digaungkan sebagai sistem pemerintahan yang adil, ternyata malah menumbuh suburkan oligarki, yakni kekuasaan berada di tangan sekelompok orang.

Kemudian, sistem perekonomian demokrasi yang asasnya kapitalis, yakni membebaskan siapapun menguasai baik individu, kelompok maupun swasta. Alhasil melahirkan kesenjangan sosial di masyarakat. Yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya. SDA yang kaya melimpah tidak dapat dinikmati untuk kesejahteraan masyarakat, karena telah dikuasai oleh sekelompok orang.

Maka sudah seharusnya mahasiswa melek politik dan kritis serta harus bisa memberikan solusi yang benar. Solusi yang benar hanyalah solusi dari Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *