Fotografer CFD: Ketika Pasar Diciptakan, Bukan Ditemukan

Oleh Prof. Yolanda Masnita Siagian*

We keep this love in a photograph

banner 900x250

We made these memories for ourselves

Where our eyes are never closing

Our hearts are never broken

And time’s forever frozen, still

KABAR BANGGAI  – Potongan lagu Ed Sheeran bergejolak riuh di kepala. Minggupagi, jam tujuh lewat sedikit. Kawasan Sudirman-Thamrin berubah jadi lautan manusia. Ada yang lari, ada yang gowes, ada yang sekadar jalan santai sambil bawa anak.

 Di antara keramaian itu, selalu ada sosok-sosok yang tidak ikut olahraga: berdiri di pinggir jalur, kamera tergantung di leher, mata mengintai siapa yang lewat dengan gerakan cukup “instagramable” — rambut berkibar, ekspresi fokus, atau senyum lebar sambil berlari.

Mereka bukan wartawan. Bukan juga fotografer yang dibayar event organizer. Mereka adalah sosok yang di kalangan komunitas fotografi sering disebut dengan nada setengah bercanda, setengah sinis: “fotografer ngamen” atau “fotografer CFD”.

Dan, diam-diam, mereka menjalankan salah satu model bisnis paling menarik — sekaligus paling kontroversial — yang lahir dari ruang publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Cara Kerja yang Sederhana tapi Efektif

Pola bisnisnya sebenarnya tidak rumit. Fotografer nongkrong di titik-titik ramai: taman kota, area Car Free Day, jalur joging, sampai lokasi wisata yang selalu dipadati pengunjung.

Dari sana mereka memotret siapa saja yang lewat, tanpa bertanya dulu, tanpa basa-basi minta izin. Toh orang yang sedang lari atau selfie di depan air mancur biasanya tidak sadar sedang difoto oleh orang asing.

Hasil jepretan itu lantas diunggah, biasanya dalam bentuk resolusi rendah atau ada watermark, ke Google Drive atau situs khusus. Info soal lokasi, tanggal, dan jam pemotretan disebar lewat akun media sosial mereka, lengkap dengan tautan ke folder berisi ratusan bahkan ribuan foto.

Baca Juga Berita Ini:  Ketimpangan dan Buruh Banggai Yang Terabaikan

Orang-orang yang penasaran, atau memang berharap wajahnya nyangkut di kamera orang lain akan scroll folder itu satu per satu, mencari muka sendiri di antara lautan orang asing.

Begitu ketemu, dan merasa fotonya “bagus”, mereka membayar. Setelah transaksi selesai, barulah file resolusi tinggi dikirim, biasanya lewat WhatsApp atau email. Foto yang tak laku? Dihapus begitu saja setelah beberapa minggu, memberi ruang untuk stok foto baru dari sesi berikutnya. Simpel. Tapi justru kesederhanaan itulah yang menyimpan pelajaran menarik soal bagaimana sebuah pasar bisa lahir.

Dalam ilmu manajemen pemasaran, ada satu pemahaman dasar yang sering dilupakan: pasar tidak selalu sudah ada dan tinggal ditemukan. Kadang pasar justru diciptakan lebih dulu — kebutuhannya baru muncul setelah produknya ada di depan mata.

Orang yang berangkat CFD pagi itu tidak sedang mencari foto dirinya sendiri. Tidak ada niat beli, tidak ada anggaran yang disiapkan, tidak ada keinginan yang lahir dari dalam diri.

Tapi begitu foto itu muncul di layar ponsel, keinginan itu tercipta seketika. Fotografer CFD, dengan caranya sendiri, sedang mempraktikkan salah satu prinsip paling klasik dalam pemasaran: menciptakan permintaan, bukan menunggu permintaan itu ada.

Menciptakan Kebutuhan yang Tidak Pernah Ada

Di sinilah ilmu perilaku konsumen — cabang dari manajemen pemasaran yang mempelajari kenapa manusia membuat keputusan membeli — jadi relevan untuk dibicarakan. Pertama, ada elemen kelangkaan (scarcity). Foto itu hanya ada satu momen, tidak bisa diulang, dan akan dihapus kalau tidak segera dibeli.

Prinsip ini sudah lama dikenal dalam psikologi pemasaran: barang yang terbatas waktunya memicu rasa urgensi, membuat orang cenderung memutuskan cepat tanpa banyak pertimbangan rasional. Sama seperti notifikasi “stok tinggal 2” di e-commerce, folder Google Drive yang “akan dihapus dalam seminggu” menciptakan tekanan psikologis serupa.

Baca Juga Berita Ini:  Wacana Anies Jadi Perdana Menteri: Opsi Konstitusional Menyelamatkan Republik

Kedua, ada dorongan citra diri dan validasi sosial. Melihat diri sendiri difoto oleh orang lain –apalagi dengan sudut pengambilan yang bagus, pencahayaan pagi yang lembut, momen olahraga yang terlihat “niat” — memberi semacam bukti visual bahwa gaya hidup sehat yang dijalani itu nyata dan layak dipamerkan.

Foto itu kemudian jadi bahan konten untuk media sosial pribadi, semacam validasi eksternal atas citra diri yang ingin ditampilkan.

Ketiga, fenomena ini juga memanfaatkan impulsive buying atau pembelian spontan. Tidak ada niat awal untuk membeli foto ketika seseorang berangkat CFD pagi itu. Tapi begitu menemukan foto dirinya sendiri yang terlihat bagus, keputusan membeli muncul seketika, didorong emosi sesaat, bukan perencanaan.

Dan yang terakhir, ada semacam sunk cost psikologis yang unik: karena foto itu “sudah ada” dan menyangkut diri sendiri, banyak orang merasa sayang jika tidak dimiliki, meski sebenarnya tidak pernah memintanya dari awal.

Pemasar sering menyebut ini sebagai bentuk halus dari endowment effect, kecenderungan menilai sesuatu lebih tinggi hanya karena sudah “melekat” pada diri kita, dalam hal ini karena wajah kita ada di dalamnya.

Kombinasi keempat faktor itulah yang membuat model bisnis “foto dulu, baru ditawarkan” ini bisa bertahan dan bahkan berkembang. Dan kalau dilihat lebih jauh, ini sebenarnya pola yang berulang di banyak industri lain.

Orang tidak bangun pagi dengan keinginan membeli air minum kemasan, sampai iklan meyakinkan bahwa air keran tidak cukup higienis. Orang tidak menganggarkan uang untuk asuransi jiwa, sampai agen menjelaskan risiko yang selama ini tidak pernah dipikirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *