Dari Racik Nutrisi hingga Pasarkan Hasil, Lapas Luwuk Bangun Ekosistem Hidroponik Mandiri

KABAR BANGGAI  – Hidroponik di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk kini tidak sekadar berbicara tentang menanam dan memanen. Kamis (24/9/2026), Lapas Luwuk mulai memperkuat satu mata rantai penting dalam budidaya hidroponik dengan memproduksi sendiri nutrisi A dan B, menandai langkah menuju pertanian yang semakin mandiri dari hulu hingga hilir.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Sub Seksi Kegiatan Kerja tersebut melibatkan petugas, Warga Binaan, serta peserta magang yang memiliki latar belakang pendidikan pertanian. 

banner 900x250

Kolaborasi ini menjadi ruang transfer pengetahuan sekaligus praktik langsung dalam mengembangkan kemampuan produksi bahan pendukung budidaya hidroponik.

Bagi Lapas Luwuk, nutrisi A dan B bukan sekadar bahan untuk membuat tanaman tumbuh. Nutrisi merupakan salah satu komponen penting sekaligus relatif mahal dalam budidaya hidroponik. 

Karena itu, kemampuan memproduksinya secara mandiri menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan terhadap produk dari luar sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Dari sinilah konsep “3 Mandiri” mulai dibangun: mandiri proses, mandiri bahan, dan mandiri pemasaran.

Mandiri proses diwujudkan dengan meningkatkan kemampuan petugas dan Warga Binaan dalam menguasai tahapan budidaya hidroponik, mulai dari persiapan, penyemaian, perawatan, pemberian nutrisi hingga panen.

Mandiri bahan diperkuat melalui kemampuan memproduksi sendiri kebutuhan pendukung budidaya, salah satunya nutrisi A dan B. Dengan demikian, kegiatan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan bahan dari luar.

Baca Juga Berita Ini:  *Tabligh Akbar di Lapas Kelas IIB Luwuk, Ketua MUI Drs. KH. Zainal Abidin Ali Hamu Isi Tausiyah*

Sementara mandiri pemasaran diarahkan agar hasil pertanian hidroponik tidak berhenti pada proses panen, tetapi dapat terserap dan memberikan nilai ekonomi melalui pemasaran kepada masyarakat maupun mitra yang membutuhkan produk pertanian.

Dalam kegiatan tersebut, peserta magang dengan latar belakang pendidikan pertanian turut memberikan pengetahuan teknis kepada petugas dan Warga Binaan. 

Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan praktik nyata di lingkungan Pemasyarakatan.

Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Heru Cahyono, menjelaskan bahwa peracikan nutrisi secara mandiri ini dirancang untuk menjaga konsistensi kualitas tanaman sekaligus mengoptimalkan anggaran operasional.

“Selama ini nutrisi A dan B menjadi salah satu porsi biaya terbesar dalam perawatan hidroponik. 

Dengan meracik sendiri berbekal formula yang tepat dan pendampingan teknis, kita bisa memangkas biaya operasional secara signifikan tanpa mengurangi kualitas hasil panen. 

Ini adalah langkah konkret menuju kemandirian bahan yang berkelanjutan,” ujar Heru.

Warga Binaan yang terlibat juga mendapatkan pengalaman langsung dalam kegiatan pertanian. 

Mereka tidak hanya menjadi tenaga dalam proses budidaya, tetapi mulai diperkenalkan pada aspek teknis dan pengelolaan produksi.

Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, menyampaikan bahwa pengembangan hidroponik merupakan bagian dari upaya menjadikan kegiatan kerja sebagai sarana pembinaan yang memiliki nilai keterampilan dan ekonomi.

Baca Juga Berita Ini:  Dari Balik Lapas untuk Masa Depan: Lapas Luwuk Salurkan Premi Hasil Kerja Warga Binaan

“Kita ingin Lapas Luwuk semakin mandiri. Mandiri prosesnya, mandiri bahan pendukungnya, dan ke depan mandiri pemasarannya. 

Ketika tiga hal ini bisa berjalan bersama, maka kegiatan pertanian tidak hanya menjadi aktivitas pembinaan, tetapi dapat menjadi sebuah sistem produktif yang memberikan manfaat bagi Warga Binaan dan Lapas,” ungkapnya.

Menurut Bahrun, kemampuan memproduksi kebutuhan pertanian secara mandiri juga menjadi bentuk efisiensi sekaligus pembelajaran bagi Warga Binaan. “Ada nilai pembelajaran yang sangat besar. 

Mereka belajar bagaimana menghitung kebutuhan, bekerja dengan teliti, menjaga kualitas, bertanggung jawab terhadap proses, kemudian melihat hasil kerja mereka memiliki nilai ekonomi. Ini yang ingin kita bangun melalui kegiatan kemandirian,” tambahnya.

Langkah produksi nutrisi A dan B tersebut sekaligus memperkuat pengembangan ketahanan pangan dan kegiatan kerja produktif di Lapas Luwuk. 

Pengembangan hidroponik diarahkan tidak hanya pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga pada penguatan kemampuan sumber daya manusia yang menjalankannya.

Ke depan, Lapas Luwuk terus mendorong agar setiap mata rantai kegiatan dapat saling terhubung. 

Bahan disiapkan secara mandiri, proses dikerjakan secara mandiri, hasil dipanen dan dipasarkan secara produktif. Lapas Luwuk: Mandiri Prosesnya, Mandiri Bahannya, Mandiri Pemasarannya.( Lapas Luwuk)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *