Cahaya Pemikiran Vs Indonesia Gelap

 Rakyat masih bisa beraktifitas seperti biasa, bertani, berdagang, berkreasi bahkan aktif bebas berorasi politik di ruang publik dengan aman dan leluasa. Bukan hanya itu, data dari banyak sumber menjelaskan, Indonesia termasuk salah satu negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya bagus. Data dari AI menjelaskan peringkat ekonomi Indonesia menggembirakan!

 “Kita termasuk negara dengan tingkat perkembangan ekonomi yang baik di dunia. Bahkan yang terbaik nomor delapan di dunia,” ujar Presiden Prabowo saat berpidato di acara Kongres VI Partai Demokrat, 25 Pebruari 2025 di Jakarta.

banner 900x250

 “Mungkin yang gelap itu pikiranmu ” ujar Luhur Binsar Panjaitan kepada wartawan saat  menanggapi aksi “Indonesia Gelap” di Jakarta.

 Ungkapan Luhur Binsar Pandjaitan itu menarik dikaji. Jangan-jangan kalimat “gelap pikiran” tersebut ada benarnya dan kemungkinan sedang terjadi dan dialami, baik oleh sebagian kaum kritis maupun kaum elite pemerintah pemangku kebijakan.

 Sikap kritis yang dilontarkan mahasiswa dan kelompok kecil kelas menengah misalnya seringkali kurang tepat sasaran. Demikian juga dengan kebijakan pemerintah yang dikritisi seringkali banyak menimbulkan blunder dan keliru, sehingga menimbulkan kritik dari kelompok masyarakat.

Baca Juga Berita Ini:  Indonesia Gelap, Membutuhkan Cahaya Islam

 Maklum sebagian kelompok kritis seperti mahasiswa, sebagian kecil kelas menengah, kelompok agama, juga sebagian pejabat pemerintahan, para menteri, dan para politisi yang seharusnya bertugas membenahi kehidupan bernegara dan berbangsa dengan cahaya ilmu dan kebijakan malah cenderung bersikap dan berbuat sebaliknya.

 Tak jarang narasi-narasi yang disampaikan dalam aksi di medsos maupun di lapangan kurang terasa  membumi. Yang keluar malah cenderung sebaliknya:  semburan ujaran kebencian, hoaks, reaktif, emosional, dan anarkis.

 Begitu juga dengan sikap kaum politisi, birokrat, para menteri dan para kepala daerah, termasuk presiden. Mereka sebenarnya adalah kelompok orang-orang pilihan yang mendapat mandat tugas mulia menjadi penterjemah dan pengejawantah nilai-nilai luhur dan cahaya kebenaran sebagaimana juga tugas kaum mahasiswa dan kelompok kelas menengah.

Namun kelompok ini pun sering terbuai dan terlena oleh baju status jabatan. Arogan, merasa memiliki posisi lebih penting, lebih di atas dan merasa bisa menentukan segalanya.

Baca Juga Berita Ini:  Ketika Sunyi Membakar Jiwa: Mental Health Perempuan dan Abainya Sistem

 Potensi cahaya yang ada di dalam pikiran dan hati mereka pun tertutup oleh keinginan cepat panen ketimbang menanam terlebih dahulu.Terbuai oleh puja dan puji di atas panggung sebelum memainkan peran indah dan cantik. Kemudian lupa dan tuli dengan masukan dari kelompok kritis.

 Kegelapan pikiran yang dialami baik oleh kelompok kritis maupun oleh pemangku kebijakan (pemerintah) bisa kita lihat di antaranya dari contoh kelima kasus di atas. Mari kita lihat bersama.

 Soal program makan begizi gratis (MBG) misalnya. Program ini tentu saja sangat baik dan penting untuk  pembenahan kualitas gizi anak-anak Indonesia pewaris masa depan. Ini program mulia, nyata, dan visioner yang juga sudah banyak dipraktekkan oleh banyak negara lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *