Anwar Hafid Cup di Pagimana Ciderai Sportivitas Pertandingan

KABAR BANGGAI  –  Tensi tinggi turnamen sepak bola Anwar Hafid Cup di Kecamatan Pagimana mendadak memanas di luar lapangan.Tim Bunta Putra secara terbuka melayangkan protes keras dan merasa sangat dirugikan atas keputusan kontroversial yang diambil oleh wasit, panitia pelaksana, hingga Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Banggai.

Kericuhan ini pecah saat laga babak perdelapan final yang digelar di Lapangan 12 Februari Pagimana, Kamis (16/07/2026).

banner 900x250

Pihak Bunta Putra mencium adanya aroma “konspirasi” yang mencederai nilai-nilai sportivitas demi menguntungkan tim lawan, Taliabu FC.

Insiden Pemukulan Pemain dan Kejanggalan Kartu Kuning

Ketegangan sebenarnya sudah mulai memuncak sejak paruh pertama pertandingan.

Asisten Pelatih Bunta Putra, Duta, membeberkan kronologi kejanggalan yang terjadi di lapangan.

Babak pertama sempat diwarnai insiden bentrokan, namun berhasil diredam.

Sayangnya, tindakan tidak sportif justru datang dari luar lapangan.

Seorang ofisial dari Taliabu FC dilaporkan nekat menerobos masuk ke dalam lapangan dan melakukan aksi pemukulan terhadap pemain Bunta Putra bernama Sahar.

“Ofisial itu sama sekali tidak punya hak untuk masuk ke dalam lapangan. Apalagi sampai memukul pemain kami! Ini pelanggaran berat yang seharusnya langsung diganjar kartu,” tegas Duta dengan nada geram.

Tak berhenti di situ, keputusan aneh kembali dibuat sang pengadil lapangan di penghujung babak pertama.

Meski peluit panjang tanda turun minum telah ditiup oleh wasit utama, wasit tiba-tiba memberikan kartu kuning kepada pemain Bunta Putra setelah mendapat “bisikan” atau informasi dari hakim garis.

Baca Juga Berita Ini:  KPU Banggai Kembali Dipermalukan, Tiga Kali Kalah Beruntun Hingga Mahkamah Agung

“Babak pertama sebenarnya sudah selesai. Tapi anehnya, atas permintaan hakim garis, wasit utama tetap memberikan kartu kuning kepada pemain kami setelah laga ditiup bubar,” cecar Duta heran.

Lawan Minta WO, Panitia Malah ‘Amini’ Penundaan Laga

Puncak drama terjadi saat memasuki babak kedua. Tim Taliabu FC secara mengejutkan memilih untuk melakukan aksi mogok alias walkout (WO).

Alasan yang mereka ajukan dinilai sangat tidak masuk akal. Mereka menolak melanjutkan pertandingan jika wasit tidak mengubah kartu kuning yang diterima pemain Bunta Putra di babak pertama menjadi kartu merah.

“Ini permintaan yang sangat konyol dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin keputusan kartu kuning yang sudah sah dikeluarkan wasit mau dianulir menjadi kartu merah hanya karena desakan lawan? Apalagi kartu kuning itu diberikan saat babak pertama sudah selesai,” ujar Duta meradang.

Sesuai regulasi sepak bola resmi, ketika tiga wasit sudah memasuki lapangan untuk memulai babak kedua namun tim Taliabu FC menolak bermain, maka Taliabu FC harus dinyatakan kalah WO.

Namun, bukannya menegakkan aturan, wasit, panitia Anwar Hafid Cup, dan Askab Banggai justru mengambil keputusan yang dinilai “melawak”.

Mereka mengabulkan permintaan sepihak dari Taliabu FC untuk menunda sisa pertandingan hingga Minggu, 19 Juli 2026.

Baca Juga Berita Ini:  Teguhkan Nilai Transparansi, Imigrasi Banggai Gelar Apel Penandatanganan Pakta Integritas

Bunta Putra Tuntut Keadilan: “Ada Aturan yang Dibuat-buat!”

Keputusan penundaan sepihak ini membuat kubu Bunta Putra meradang dan merasa dikhianati oleh sistem turnamen.

Duta mencurigai adanya konspirasi terselubung di balik layar yang sengaja merugikan timnya.

“Kalau penundaan itu karena hujan deras atau lapangan tergenang air, kami masih bisa maklum. Tapi ini lapangan aman, dan tim kami sudah berdiri siap bertanding di babak kedua. Kenapa laga justru ditunda hanya karena kemauan tim lawan yang mogok bertanding?” semprotnya.

Duta menegaskan bahwa Bunta Putra tidak meminta keistimewaan apa pun. Melainkan hanya menuntut keadilan mutlak berdasarkan regulasi sepak bola yang berlaku.

“Sikap kami tegas dan tidak muluk-muluk. Bunta Putra hanya minta keadilan dan meminta panitia menjunjung tinggi nilai sportivitas. Aturannya jelas. Pemain atau tim yang melakukan walkout (WO) harus dinyatakan kalah! Bukan malah dimanjakan dengan menunda permainan,” ucapnya.

“Kami sangat dirugikan dengan model aturan yang dibuat-buat seperti ini!:” tambah Duta dengan nada emosi yang tak terbendung.

Hingga berita ini diturunkan, publik sepak bola di Pagimana kini menanti kejelasan dan ketegasan dari pihak panitia Anwar Hafid Cup serta Askab Banggai untuk memberikan klarifikasi resmi atas keputusan kontroversial yang mencederai semangat fair play ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *