Refleksi Milad Kohati ke-59: Menjaga Api Perjuangan Perempuan HMI

Oleh : Adiva Nabila Poma

KABAR BANGGAI – Tanggal kelahiran Kohati bukan sekadar seremoni peringatan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali peran strategis perempuan HMI dalam perjalanan bangsa. 

banner 900x250

Di usia ke-59 tahun, Kohati telah melewati dinamika panjang: dari era perjuangan politik, arus modernisasi, hingga gelombang digital yang kini membentuk wajah peradaban baru. 

Namun, pertanyaan reflektif yang patut diajukan adalah: apakah kiprah Kohati masih sekuat semangat awal pendiriannya?

Sejarah mencatat, Kohati hadir sebagai jawaban atas kebutuhan keterlibatan perempuan dalam perjuangan intelektual dan sosial di tubuh HMI. 

Ia bukan sekadar wadah, tetapi simbol perlawanan terhadap keterpinggiran perempuan di ruang-ruang strategis.

Kini, tantangan berbeda datang: budaya patriarki yang masih mengakar, akses pendidikan yang belum merata, serta penetrasi budaya populer yang kerap melunturkan idealisme generasi muda.

Baca Juga Berita Ini:  Imigrasi Banggai Bergerak: Berbagi Kebaikan, Donor Darah untuk Kemanusiaan

Refleksi milad ke-59 ini mestinya menjadi momen untuk memperkuat tiga hal penting. 

Pertama : Kesadaran identitas

Bahwa perempuan HMI harus tampil bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai motor penggerak gagasan. 

Kedua : Konsistensi perjuangan

Bahwa Kohati harus tetap berada di garis terdepan memperjuangkan keadilan gender, pemberdayaan sosial, dan keberpihakan pada kelompok lemah. 

Ketiga :  Transformasi peranbahwa di era digital, ruang juang tidak lagi terbatas pada mimbar fisik, tetapi juga dunia maya, ruang akademik, hingga kebijakan publik.

Di usia ke-59, Kohati tidak boleh berhenti pada nostalgia romantik sejarah. Justru inilah saatnya memaknai kembali visi perjuangan, menyesuaikan strategi dengan zaman, namun tetap berakar pada nilai dasar HMI: keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan. 

Baca Juga Berita Ini:  Pelayanan SIM dan STNK Polres Banggai Kembali Dibuka Pasca Natal

Jika mampu menjaga konsistensi ini, Kohati akan terus menjadi lokomotif pergerakan perempuan Muslim Indonesia yang progresif, kritis, dan humanis.

Milad bukan hanya ucapan selamat, tetapi janji perbaikan. 

Semoga Kohati terus menjadi rumah bagi kader perempuan yang berani bersuara, berpikir jernih, dan bertindak nyata demi kemajuan umat dan bangsa.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *