Produk UMKM Lapas Luwuk Laris Manis Diserbu Keluarga Warga Binaan

KABAR BANGGAI  – Produk UMKM olahan kelompok kerja (Pokja) Tata Boga Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk laris manis diserbu keluarga Warga Binaan, Sabtu (8/8). Aneka makanan dan minuman hasil olahan tangan Warga Binaan tersebut dipasarkan langsung di ruang kunjungan dan menjadi buruan utama para pengunjung yang datang melepas rindu bersama keluarga.

Beragam makanan dan minuman hasil olahan Warga Binaan disiapkan dan ditawarkan kepada pengunjung selama kegiatan kunjungan berlangsung.

banner 900x250

Kehadiran produk tata boga tersebut membuat ruang kunjungan tidak hanya menjadi tempat bertemu antara Warga Binaan dan keluarganya, tetapi juga menjadi ruang praktik nyata bagi hasil pembinaan kemandirian.

Produk yang dijual di antaranya pisang goreng, kolak, lalapan, aneka olahan makanan serta minuman yang dibuat dengan memperhatikan rasa, kebersihan dan penyajian.

Warga Binaan yang tergabung dalam Pokja Tata Boga terlibat langsung mulai dari menyiapkan bahan, proses pengolahan hingga penyajian dan penjualan.

Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Luwuk, Heru Cahyono, mengatakan bahwa pemasaran produk di ruang kunjungan menjadi salah satu bentuk pembinaan yang sengaja diarahkan agar Warga Binaan tidak hanya bisa membuat produk, tetapi juga memahami bagaimana produk tersebut diterima oleh konsumen.

 “Kalau hanya belajar memasak di dapur, mereka belum tentu tahu apakah makanan yang dibuat disukai orang atau tidak. Ketika produk dijual dan langsung dibeli serta dicicipi pengunjung, mereka bisa melihat sendiri hasilnya.

Ada yang memberikan masukan soal rasa, ukuran porsi, sampai penyajiannya. Dari situ mereka belajar bahwa membuat makanan untuk dijual membutuhkan ketelitian dan konsistensi,” ujar Heru.

Baca Juga Berita Ini:  Dukung Kebijakan Tepat Sasaran, Lapas Luwuk Bantu Pendataan BPS

Menurutnya, aktivitas tersebut juga memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kondisi ketika Warga Binaan nantinya kembali ke masyarakat.

Mereka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengolah makanan, tetapi juga belajar menghitung kebutuhan bahan, menjaga kualitas produk, melayani pembeli dan bertanggung jawab terhadap hasil yang dibuat.

Salah seorang Warga Binaan yang terlibat dalam Pokja Tata Boga, K, mengatakan bahwa pengalaman menjual makanan kepada pengunjung membuat dirinya lebih percaya diri dengan keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan.

“Dulu saya hanya belajar membuat makanan untuk kegiatan di dalam. Sekarang kami membuat untuk dijual dan langsung dinilai oleh orang yang membeli. Kalau ada yang bilang enak, rasanya senang. Tapi kalau ada yang bilang kurang asin atau porsinya perlu ditambah, itu juga jadi pelajaran buat kami. Jadi kami tahu apa yang harus diperbaiki,” ungkapnya.

Penilaian terhadap produk juga datang langsung dari masyarakat yang melakukan kunjungan. Salah seorang pengunjung, Anti, mengaku awalnya membeli makanan tersebut karena penasaran dengan produk yang dibuat Warga Binaan.

Setelah mencicipinya, ia menilai cita rasa makanan yang disajikan cukup baik dan layak untuk dikembangkan. “Saya awalnya cuma mau coba karena penasaran. Ternyata rasanya enak dan penyajiannya juga cukup rapi.

Yang saya suka, makanannya masih terasa fresh karena dibuat untuk kebutuhan kunjungan. Kalau ke depan pilihannya semakin banyak dan rasanya dipertahankan, menurut saya ini bisa menjadi salah satu produk yang menarik dari Lapas Luwuk,” kata Anti.

Baca Juga Berita Ini:  Lapas Luwuk Bikin Kejutan! Koperasi Sehat Mereka Raih Penghargaan di Tengah Perayaan HUT RI

Kepala Lapas Luwuk, Muhammad Bahrun, mengatakan bahwa pemasaran produk Tata Boga di ruang kunjungan merupakan bagian dari upaya menjadikan pembinaan kemandirian lebih terukur dan memiliki manfaat langsung.

“Kami ingin pembinaan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Ukurannya adalah ketika Warga Binaan mampu menghasilkan produk, produk tersebut bisa diterima konsumen dan mereka mendapatkan pengalaman mengelola kegiatan secara langsung.

Ruang kunjungan kami manfaatkan sebagai salah satu tempat untuk menguji kemampuan itu. Ada proses produksi, ada konsumen, ada penilaian dan ada perbaikan,” tegas Bahrun.

Bahrun menambahkan bahwa keterampilan Tata Boga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bekal usaha setelah Warga Binaan menyelesaikan masa pidananya. Karena itu, pihak Lapas terus mendorong agar produk yang dihasilkan tidak hanya mengutamakan rasa, tetapi juga memperhatikan kebersihan, tampilan, konsistensi dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen.

Aktivitas penjualan makanan hasil Pokja Tata Boga tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan kemandirian di Lapas Luwuk diarahkan pada pengalaman yang nyata.

Warga Binaan tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga merasakan proses ketika hasil pekerjaan mereka dinilai dan digunakan oleh orang lain.

Dari dapur pembinaan hingga dinikmati di ruang kunjungan, keterampilan Tata Boga Warga Binaan Lapas Luwuk perlahan berkembang menjadi pengalaman kerja yang konkret.

Proses tersebut diharapkan dapat menjadi bekal keterampilan dan kepercayaan diri bagi Warga Binaan untuk membangun kehidupan yang lebih produktif ketika kembali ke tengah masyarakat. (Mj)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *