MALAPETAKA DI GAZA TOLONG JANGAN DIAM

Oleh  : Fini Sulila, A.M.D. d. Kom

KABAR BANGGAI – Komite Khusus PBB yang menyelidiki praktik-praktik Israel di wilayah Pendudukan Palestina dan Arab memperingatkan bahwa dunia saat ini telah menyaksikan kemungkinan “Nakba Kedua” akibat eskalasi kekerasan, blockade kemanusiaan dan kebijakan pendudukan yang dijalankan Israel.

Istilah “Nakba” dalam Bahasa Arab berarti “Malapetaka”, yang merujuk pada peristiwa tahun 1948 yaitu pengusiran 750.000 warga Palestina dari tanah mereka dalam rangka pembentukan negara Israel.

“Israel terus menyebabkan penderitaan yang tak terbayangkan bagi rakyat yang hidup di bawah pendudukannya, sambil memperluas perampasan tanah sebagai bagian dari aspirasi kolonial yang lebih luas. Apa yang kita saksikan bisa jadi adalah Nakba lainnya,” ujar Komite Khusus PBB, mengutip pernyataan penutup misi lapangan mereka di Amman, Jumat, 9 Mei 2025.

Komite juga terus mendokumentasi berbagai kejahatan yang dipelopori oleh zionis dari blokade. pemerkosaan, hingga pemaksaan kelaparan. Bahkan PBB juga memperingati agar impunitas zionis segera diakhiri.

“Sulit membayangkan ada pemerintah yang dengan sengaja membuat rakyatnya mati kelaparan, sementara truk makanan hanya berjarak beberapa kilometer. Namun inilah kenyataan mengerikan yang dihadapi warga Gaza,” ujar komite.

“Jahat sekali. Mereka (zionis) itu sangat jahat”. Inilah salah satu ungkapan perasaan relawan yang pernah ke Gaza sebagaimana diunggah kanal youtube TVOne.

Mereka adalah saksi mata atas apa yang menimpa warga Gaza di Palestina. Jutaan warga Palestina di Jalur Gaza menghadapi malapetaka kelaparan. Puluhan orang termasuk anak-anak tewas karena kelaparan. Warga Gaza hanya bisa makan satu kali dalam dua hingga tiga hari akibat blokade ketat yang diberlakukan oleh Israel..

Baca Juga Berita Ini:  Prabowo, Indonesia, dan Neoliberalisme

Hal tersebut diungkapkan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Selasa (6/5/2025) sebagaimana dilansir MetroTvNews, Juru bicara UNRWA Adnan Abu Hasna, dalam wawancara dengan Al-Ghad TV mengungkapkan bahwa lebih dari 66.000 anak di Gaza mengalami malnutrisi akut.

Sejak 2 Maret sampai saat ini, Israel telah memblokade seluruh pasokan makanan, air, dan obat-obatan untuk memasuki Gaza, menciptakan krisis buatan manusia. Organisasi kemanusiaan mengatakan bahwa penduduk berisiko mengalami kelaparan massal.

Malapetaka kelaparan di Gaza sejatinya adalah tanggung jawab seluruh umat manusia, terlebih umat Islam sebagai saudara seakidah.

Setiap muslim wajib sekuat tenaga memberikan perhatian, pembelaan, dan pertolongan kepada kaum muslim di Gaza dengan memberikan bantuan harta, tenaga, ataupun seruan dakwah, termasuk senantiasa mendoakan mereka agar selalu mendapatkan pertolongan Allah SWT, sekaligus mendoakan kehancuran untuk kaum Zionis Yahudi dan para pendukungnya.

Mirisnya, dalam kondisi demikian, penguasa negeri muslim belum juga melakukan pembelaan secara nyata dengan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah yang keji ini.  Seruan jihad yang bergema di seluruh penjuru dunia tak mampu membuka hati para pemimpin muslim.

Baca Juga Berita Ini:  Rencana Panggung UMKM di Bukit Halimun, Pungutan di Kantong Rakyat

Bahkan berbagai janji gencatan senjata saja mereka ingkari, seperti yang terjadi Dalam wawancara dengan Drop Site, Basem Naim mengatakan bahwa perjanjiannya adalah, “Jika kami melepas (Edan Alexander), Trump akan berterima kasih kepada Hamas atas sikapnya, mewajibkan Israel pada hari kedua membuka blokade dan membiarkan bantuan masuk ke Gaza, dan (Trump akan) menyerukan gencatan senjata segera dan dijalankannya proses negosiasi demi mengakhiri perang.”

“Dia tidak melakukan apapun soal ini,” kata Naim. “Mereka melanggar kesepakatan. Mereka melempar kesepakatan itu ke tong sampah.”

Pada Jumat 16 mei 2025, saat mengakhiri kunjungan kenegaraannya di Timur Tengah, Trump secara singkat mengomentari perang Gaza dan kondisi kemanusiaan yang sangat buruk akibat dari blokade penuh Israel.

“Kami akan melihat Gaza, dan kami harus mengurusnya.” ujar Trump dalam sebuah acara di Uni Emirat Arab.

Sayangnya, ini semua hanya sekedar kata-kata manis yang dilontarkan namun tidak sedikitpun terbukti mengakhiri segala malapetaka di Gaza. Sudah dari dulu janji gencatan senjata tapi akhirnya diingkari juga, bahkan kejadian yang belum lama yaitu akan membuka blokade jika Hamas melepas Edan Alexander, pada kenyataannya mereka tidak memenuhi janji itu.

Sungguh, betapa munafiknya mereka. Padahal seharusnya ini menjadi bukti bahwa tidak bisa mengharapkan apapun narasi kosong yang mereka lontarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *