Warga Batui Tuntut Keadilan Korban Pengeroyokan Hadianto Cup

KABAR BANGGAI – Suasana di Kelurahan Lamo, Kecamatan Batui, mendadak mencekam pada Kamis pagi, 14 Mei 2026. Ratusan warga bersama pihak keluarga korban insiden berdarah di turnamen Mini Soccer Hadianto Cup 2026 turun ke jalan.

Bukan untuk berparade, melainkan memblokade total ruas jalan umum Trans Sulawesi sebagai bentuk protes keras atas lambannya penanganan hukum terkait kasus pengeroyokan yang menimpa pemain sepak bola lokal.

banner 900x250

Aksi blokade ini mengakibatkan antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer. Warga memasang barikade di tengah jalan, menuntut keadilan bagi Usman, pemain asal klub Pongkeari FC yang kini harus terbaring lemah pasca-operasi besar akibat luka serius yang dideritanya.

“Kami tidak akan membuka jalan ini sampai ada kepastian hukum. Saudara kami menjadi korban kebrutalan, tapi hingga saat ini pelaku seolah masih menghirup udara bebas,” teruk salah satu perwakilan keluarga korban di lokasi aksi.

Baca Juga Berita Ini:  Cabjari Pagimana Sambangi Desa Taima, Penerangan Hukum Bikin Warga ‘Melek’ Aturan, Apa Yang Dibahas?

Tragedi ini bermula saat tensi tinggi mewarnai laga antara Pongkeari FC (Batui) melawan Tornado (Nambo Padang) di Kecamatan Nambo beberapa waktu lalu. Perselisihan antarpemain di lapangan hijau yang seharusnya diselesaikan oleh wasit, justru memicu amuk massa.

Sejumlah oknum suporter dilaporkan merangsek masuk ke dalam lapangan dan melakukan kontak fisik brutal terhadap dua pemain Pongkeari. Nahas bagi Usman, serangan bertubi-tubi tersebut mengakibatkan cedera fatal yang memaksanya menjalani prosedur medis darurat.

“Kami mendesak Polres supaya segera menangkap dan memeriksa pelaku. Panitia serta Askab harus bertanggung jawab atas pengobatan dan pemulihan saudara Usman yang mengalami cedera parah,” tegas salah satu keluarga korban dengan nada bergetar.

Baca Juga Berita Ini:  Wardani Murad Desak Keselamatan Anak Sekolah Jadi Prioritas Utama, Jembatan 'Maut' Masungkang Harus Segera Dibangun!

Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas di Kelurahan Lamo masih tertahan. Warga bersikeras bertahan hingga ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian dan penyelenggara.

Insiden ini menjadi catatan kelam bagi dunia olahraga di Banggai, di mana sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi justru berujung pada tindakan kriminal yang merugikan nyawa dan ketertiban umum.

Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum dan Askab PSSI Banggai untuk segera memadamkan api kemarahan warga sebelum eskalasi massa semakin meluas. ( Rilis Sugianto) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *