“GERMAS, Program Nasional Kemenkes RI Untuk Hidup Sehat dan Berkualitas”

KABAR BANGGAI – Program Satu Juta Satu Pekarangan (SJSP) yang pernah menjadi andalan kampanye Bupati Banggai Amirudin Tamoreka kini resmi menghilang pada tahun 2026. Padahal, program ini sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu solusi ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, alih-alih mengakui bahwa program tersebut dihapus, pemerintah daerah justru berdalih bahwa SJSP kini berganti nama menjadi GERMAS.Selasa 25 Maret 2025.

Namun, hasil penelusuran media ini menunjukkan bahwa GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) bukanlah program baru yang diciptakan oleh Pemkab Banggai, melainkan program nasional yang telah lama dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), GERMAS adalah inisiatif nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjalani pola hidup sehat. Program ini muncul sebagai respons terhadap tiga masalah kesehatan utama di Indonesia, yaitu:

  1. Penyakit infeksi yang masih menjadi ancaman.
  2. Meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti diabetes, kanker, dan jantung koroner.
  3. Kembalinya jenis penyakit yang seharusnya sudah berhasil diberantas.

GERMAS sendiri mencakup berbagai langkah penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat, di antaranya:

  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
  • Mengonsumsi buah dan sayur dalam pola makan sehari-hari.
  • Tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok.
  • Tidak mengonsumsi alkohol yang berbahaya bagi kesehatan.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  • Menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk pencegahan penyakit.
Baca Juga Berita Ini:  Kajati Sulteng Lantik Kajari Banggai Tekankan Integritas dan Profesionalisme Penegakan Hukum

Dengan langkah-langkah tersebut, tujuan utama GERMAS adalah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, mengurangi risiko penyakit, serta menekan pengeluaran biaya berobat yang bisa membebani masyarakat.

Sejak diperkenalkan dalam masa kampanye Amirudin Tamoreka, SJSP dijanjikan sebagai salah satu inovasi Pemkab Banggai dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Program ini berfokus pada pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayuran, buah-buahan, dan tanaman produktif lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, program ini perlahan-lahan menghilang tanpa ada kejelasan. Tidak ada evaluasi terbuka dari pemerintah daerah terkait hasil implementasinya selama beberapa tahun terakhir. Kini, dalih pergantian nama menjadi GERMAS semakin menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat.

Apakah benar SJSP hanya berganti nama, atau justru program ini sengaja dihapus tanpa pertanggungjawaban yang jelas? Jika memang ada perubahan konsep, seharusnya pemerintah daerah memberikan sosialisasi yang transparan dan menjelaskan secara detail bagaimana keterkaitan antara SJSP dan GERMAS.

Baca Juga Berita Ini:  AKBP Putu Hendra Apresiasi Personil Berprestasi, Humas Polres Banggai Cetak Sejarah!

Hilangnya SJSP menjadi salah satu bukti bahwa janji kampanye bisa saja hanya sekadar retorika politik tanpa komitmen untuk direalisasikan. Masyarakat Banggai tentu berhak mempertanyakan dan meminta kejelasan atas program yang pernah dijanjikan oleh pemimpin daerahnya.

Jika benar SJSP sudah dihapus, masyarakat juga berhak mengetahui apa program penggantinya dan apakah masih ada bentuk dukungan nyata terhadap ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Tanpa kejelasan, langkah ini hanya akan memperkuat dugaan bahwa program SJSP hanya alat kampanye yang kini ditinggalkan setelah pemilu usai.

Pergantian program SJSP menjadi GERMAS tampaknya lebih mengarah pada upaya mengalihkan isu ketimbang benar-benar meneruskan manfaat bagi masyarakat. Jika memang ada program pengganti yang lebih baik, seharusnya Pemkab Banggai bisa lebih transparan dan memberikan penjelasan yang masuk akal.

Masyarakat kini menunggu jawaban, apakah program unggulan yang dulu dijanjikan benar-benar berganti konsep atau hanya menjadi sekadar kenangan kampanye yang akhirnya menguap begitu saja.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *