Almarhum Murad Husain Raih Penghargaan Legacy Award dari KADIN Indonesia

KABAR BANGGAI – Almarhum H.Murad Husain meraih penghargaan Legacy Award Achievement dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi almarhum memimpin Kadin Sulawesi Tengah diera tahun 1999. Di zaman itu, sosok

banner 900x250

Almarhum yang juga pendiri PT KLS dinilai memiliki Legacy dalam penguatan fondasi dunia usaha di Sulawesi Tengah.

Penghargaaan bergengsi ini diserahkan oleh Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie kepada cucu Almarhum, Moh.Ravan Sembilan Sijaya mewakili keluarga besar, bertempat di halaman kantor Gubernur Sulteng, Rabu (16/9/2026) malam.

Kepada media ini, mewakili keluarga besar Almarhum H.Murad Husain, Sulianti Murad mengatakan, penghargaan dari Kadin menjadi sebuah kehormatan dan motivasi bagi keluarga, untuk terus berkontribusi mendukung kemajuan dunia usaha serta pembangunan daerah.

“Penghargaan ini kami terima sebagai bentuk apresiasi sekaligus amanah untuk terus berbuat yang terbaik. Semoga ke depan kami selaku anak-anaknya dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah,” ujarnya.

Penghargaan tersebut juga diharapkan menjadi penyemangat untuk terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka peluang usaha, dan menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Legacy Murad Husain Terus Dikenang, Mengangkat Rupiah, Melempar Dolar

Sebagai sosok dengan ciri khas kesederhananya, nama DR (HC).H.Murad Husain terus dikenang. Ia diingat bukan karena jabatan dan kekuasaannya. Namun, Murad Husain dikenang karena sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih langka: rasa malu kepada bangsanya.

Murad Husain mungkin tidak terlalu akrab di telinga sebagian masyarakat Indonesia. Ia bukan tokoh yang gemar tampil di depan kamera. Ia adalah pengusaha dari Luwuk, Sulawesi Tengah, yang membangun usahanya dari kerja keras dan ketekunan.

Namun, pada salah satu masa paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia, Murad Husain menunjukkan makna nasionalisme yang sesungguhnya.

Baca Juga Berita Ini:  Dari Dana Desa hingga Transparansi Keuangan, Kabupaten Banggai Jadi Contoh di Sulawesi Tengah

Tahun 1998. Krisis moneter menghantam Indonesia tanpa ampun. Nilai rupiah jatuh bebas. Perusahaan-perusahaan berguguran. Harga kebutuhan pokok melambung. Kepercayaan terhadap masa depan bangsa berada di titik nadir.

Di tengah kepanikan itu, banyak pemilik modal memilih menyelamatkan kekayaannya dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Dolar menjadi simbol keamanan, sementara rupiah dipandang sebagai mata uang yang sedang tenggelam.

Di saat sebagian orang berlomba menahan dolar, Murad Husain justru melakukan hal yang sebaliknya.

Keputusan itu berawal dari sebuah kabar yang menyentuh hatinya.

Ia mendengar cerita tentang para kiai dari berbagai pelosok Indonesia yang datang membawa sumbangan untuk membantu negara. Mereka bukan pengusaha besar. Mereka bukan pemilik perusahaan. Mereka hanya membawa apa yang mereka miliki: anting-anting anak, gelang istri, dan perhiasan keluarga yang dikumpulkan dengan penuh keikhlasan. Totalnya sekitar 1,9 kilogram emas.

Kisah itu sampai ke telinga Murad Husain.

“Malunya saya,” demikian pengakuannya kepada wartawan Ishak Rafick.

Kalimat singkat itu kemudian berubah menjadi tindakan nyata.

Murad Husain merupiahkan sekitar tiga juta dolar AS yang dimilikinya melalui Bank Dagang Negara Cabang Luwuk. Tidak berhenti di situ, ia juga menyumbangkan sepuluh ribu dolar AS untuk membantu negara.

Pada masa itu, jumlah tersebut tergolong luar biasa. Bahkan jika dibandingkan dengan sejumlah pengusaha besar nasional, kontribusi Murad berada di antara yang terbesar.

Namun yang membuat tindakannya istimewa bukanlah angka, melainkan alasan di baliknya.

Sebagaimana dicatat Ishak Rafick dalam buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia, Murad berkata bahwa para kiai yang datang menyumbang bukanlah pengusaha dan bukan pula pedagang. Jika mereka yang hidup sederhana saja rela memberikan apa yang dimiliki untuk negara, bagaimana mungkin para pengusaha tidak melakukan hal yang sama?

Baginya, negara telah memberikan ruang untuk berkembang dan berusaha. Ketika negara berada dalam kesulitan, sudah sewajarnya ia ikut membantu. Nasionalisme, dalam pandangan Murad, bukanlah slogan. Melainkan tanggung jawab moral.

Baca Juga Berita Ini:  Peringatan Maulid Nabi, Hibah, dan Belanja Elit Di Banggai

Menariknya, seperti ditulis Temu Sutrisno dalam “Nasionalisme Murad Husain; Mengangkat Rupiah Melempar Dolar”, keputusan besar itu bahkan tidak diketahui oleh keluarganya.

Di sela-sela Pelantikan Pengurus PWI Banggai dan Bakti Sosial, Wardani Murad Husain, mengungkapkan bahwa dirinya, sang ibu, dan anggota keluarga lainnya tidak mengetahui bahwa Murad Husain telah menukarkan jutaan dolar yang dimilikinya dan menyumbangkan sebagian kepada negara.

Keluarga baru mengetahui setelah wartawan dari berbagai media nasional mulai berdatangan dan menghubungi rumah mereka untuk mengonfirmasi kabar tersebut. Saat itu, telepon rumah nyaris tidak berhenti berdering. Menurut Wardani, ibunya sampai kerepotan melayani panggilan dari Jakarta yang terus masuk silih berganti.

Di tengah perhatian media yang begitu besar, Murad Husain justru tidak menunjukkan perubahan sikap sedikit pun. Ia tidak menggelar konferensi pers, tidak mencari panggung, dan tidak pula berusaha memanfaatkan momentum itu untuk membangun citra diri. Sebaliknya, ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Setiap hari ia turun ke lapangan, memeriksa pekerjaan, dan mengawasi para karyawan di perkebunan kelapa sawitnya.

Sikap itu memperlihatkan watak yang selama ini melekat pada dirinya: bekerja lebih banyak daripada berbicara, memberi lebih banyak daripada menuntut pengakuan. Bagi Murad Husain, membantu negara yang sedang kesulitan bukanlah prestasi yang harus diumumkan, melainkan kewajiban moral yang dilakukan dengan tulus.

Putri lainnya, Sulianti Murad, dalam Podcast Ngopi bersama PWI Banggai mengenang bahwa saat itu ayahnya memang banyak memegang dolar hasil usaha kayu. Ketika krisis datang, dolar-dolar tersebut ditukarkan menjadi rupiah. Sebagian kemudian menjadi modal untuk mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *