Oleh: Supriadi Lawani*
KABAR BANGGAI – Pagi di Salodik datang bersama embun tipis. Udara sejuk menusuk lembut, membawa suara air yang jatuh dari bebatuan, memantul di antara pepohonan.
Di tepi jalan di tengah Kota Luwuk, seorang bapak penjual kopi menyodorkan gelas kecil berisi kopi hitam pekat. “Kalau mau lihat air terjun, tinggal naik motor atau mobil sepuluh menit dari sini,” katanya sambil tersenyum. Senin, 11 Agustus 2025.
Begitulah Banggai, kabupaten yang tak pernah pelit memberi kejutan alam. Dari Air Terjun Piala yang berundak indah, Air Terjun Mokokawa yang hanya sepelemparan batu dari pusat kota, hingga savana Desa Lenyek yang meluas bagai karpet emas. Di sisi lain, pantai-pantai Kepala Burung, Desa Poroan, Desa Bolo, Boras, dan Tombos menunggu para pencari laut biru.
Perjalanan belum selesai. Ke arah Balantak utara, Pulau Dua berdiri bak kartu pos hidup: pasir putih, laut tenang, dan langit biru yang nyaris sempurna. Lalu, sebuah kapal akan membawa wisatawan menyeberang ke Banggai Kepulauan—menyambut mereka dengan Paisupok yang mendunia, kenyamanan Paisubatango, dan keteduhan Pantai Poganda.
Di Banggai Laut, barisan pantai eksotik menjadi penutup perjalanan. Di warung-warung tepi pantai, aroma ikan bakar, cumi asam manis, dan sup laut segar memanggil lidah untuk tinggal lebih lama. Kuliner adalah magnet tambahan, meski bayang-bayang pajak 10% khususnya di Banggai membuat sebagian wisatawan berpikir dua kali untuk memesan porsi kedua.
Namun di balik semua keindahan itu, satu pertanyaan muncul: apakah Banggai Raya siap menjadi destinasi wisata terintegrasi?
Potensinya jelas: tiga kabupaten dengan lanskap berbeda tapi saling melengkapi. Yang kurang adalah tata kelola terpadu. Sebuah sistem yang menghubungkan kalender event, jalur transportasi, promosi bersama, dan standar layanan.
Keberhasilan Bali, Yogyakarta, atau Labuan Bajo tidak semata karena pesona alam. Ada koordinasi lintas sektor, kemudahan akses, promosi internasional, dan investasi yang berkesinambungan. Banggai Raya bisa belajar dari itu. Bayangkan jika ketiga kabupaten ini duduk bersama dengan pelaku usaha, komunitas lokal, pihak swasta, dan BUMN—membentuk Banggai Raya Tourism Board yang mengelola kawasan layaknya satu destinasi besar.
Dengan konsep ini, wisatawan yang datang untuk melihat Paisupok akan secara alami diarahkan untuk juga mengunjungi Salodik, mencicipi kuliner laut di kota Luwuk Banggai, lalu berlayar ke Pulau Dua. Aliran ekonomi mengalir ke seluruh wilayah, bukan hanya satu titik.
Banggai Raya adalah mozaik keindahan. Potongan-potongannya sudah ada—yang dibutuhkan hanya bingkai yang kokoh. Jika ini terwujud, dunia bukan hanya akan mengenal Paisupok, tapi juga akan menyebut Banggai Raya sebagai destinasi yang wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.**







