KABAR BANGGAI – Semburat fajar menyingsing di atas hamparan hijau Desa Kayowa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, membawa angin segar bagi para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Mosa’angu.
Pada hari Jumat, 02 Oktober 2026, sebuah selebrasi kecil namun sarat makna digelar di atas lahan seluas satu hektare. Bukan sekadar seremoni agraris biasa, hari itu menjadi tonggak sejarah baru berupa keberhasilan panen raya jagung pakan yang membuktikan bahwa inovasi, ketekunan, dan kolaborasi strategis mampu mengubah lanskap pertanian tradisional menjadi modern, produktif, dan berkelanjutan.
Lahan seluas satu hektare yang dipanen hari itu bukanlah lahan sembarangan. Ia adalah area percontohan dan laboratorium hidup (living laboratory) dari implementasi Sekolah Lapang Tudang Sipulung, sebuah forum belajar berbasis musyawarah lokal yang diinisiasi oleh PT Pertamina EP (PEP) Donggi Matindok Field (DMF), bagian dari Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, bekerja sama erat dengan para penyuluh pertanian lapangan dan masyarakat setempat.

Dari luasan tersebut, para petani sukses meraup hasil panen sebanyak 3,6 ton jagung berkualitas tinggi. Angka ini sekaligus menjadi indikator empiris yang valid mengenai efektivitas penggunaan pupuk biosulfur dalam mendongkrak produktivitas tanah dan hasil tanaman pangan lokal.
Keberhasilan ini menyoroti bagaimana kehadiran industri hulu minyak dan gas (migas) tidak hanya berfokus pada operasi penambangan energi, tetapi juga aktif merajut tenun sosial ekonomi masyarakat lingkar tambang melalui penerapan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Pertamina EP Donggi Matindok Field membuktikan bahwa sinergi lintas sektor mampu melahirkan kemandirian pangan yang berakar dari kekuatan lokal.
Akar Tradisi dan Tantangan Agraris di Bumi Batui
Kabupaten Banggai, dengan bentang alamnya yang subur dan kaya akan potensi sumber daya alam, sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung pangan potensial di Provinsi Sulawesi Tengah.
Sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar masyarakatnya. Di Kecamatan Batui, khususnya Desa Kayowa, denyut nadi kehidupan desa berdetak seirama dengan musim tanam dan panen.
Sebagian besar warga mengantungkan harapan ekonomi mereka pada komoditas tanaman pangan, di mana jagung pakan kini menjadi salah satu primadona yang memiliki nilai ekonomis tinggi seiring dengan meningkatnya permintaan industri peternakan nasional.












