Sukses Sekolah Lapang Pertamina EP Donggi Matindok Field Ubah Wajah Pertanian Desa Kayowa Lewat Inovasi Pupuk Biosulfur

Namun, di balik potensi yang melimpah tersebut, jalan menuju kesejahteraan petani tidak selalu berjalan mulus.

Selama bertahun-tahun, para petani di Desa Kayowa menghadapi berbagai tantangan klasikal yang kerap menghambat optimalisasi hasil panen.

banner 900x250

Mulai dari ketergantungan yang tinggi pada pupuk kimia sintetis yang lambat laun berdampak pada degradasi struktur kesuburan tanah, fluktuasi harga sarana produksi pertanian (saprotan), hingga minimnya akses terhadap informasi teknologi budidaya modern yang adaptif terhadap perubahan iklim global.

Praktik pertanian konvensional yang dilakukan secara turun-temurun seringkali mengandalkan intuisi semata tanpa didukung oleh data atau analisis laboratorium tanah yang memadai.

Akibatnya, biaya produksi kerap kali tidak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh. Di sinilah letak urgensi intervensi yang cerdas dan berkelanjutan. Kehadiran industri hulu migas seperti PT Pertamina EP Donggi Matindok Field di wilayah operasionalnya tidak dipandang sebagai entitas yang berjalan sendiri, melainkan sebagai katalisator perubahan sosial yang peka terhadap denyut nadi permasalahan masyarakat di akar rumput.

Melalui pemetaan sosial yang mendalam dan komitmen terhadap tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility / CSR), Pertamina EP menangkap kebutuhan mendesak untuk mentransformasi cara pandang dan metode bertani masyarakat Kayowa.

Perusahaan menyadari bahwa ketahanan energi harus berjalan beriringan dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial. Dari kesadaran inilah embrio Sekolah Lapang Tudang Sipulung lahir,sebuah wadah di mana kearifan lokal berpadu harmonis dengan sains dan teknologi modern.

Sekolah Lapang Tudang Sipulung: Menenun Pengetahuan dan Kebersamaan

Keberhasilan agraris di Desa Kayowa tidak datang secara instan atau kebenaran semata. Di balik hasil 3,6 ton jagung dari satu hektare lahan, terdapat proses panjang transfer pengetahuan, pendampingan intensif, serta pembentukan pola pikir baru yang difasilitasi melalui program Sekolah Lapang Tudang Sipulung.

Forum belajar ini dilaksanakan secara berkala, yakni sebulan sekali, mempertemukan para petani lokal dengan para penyuluh pertanian lapangan yang berpengalaman, fasilitator program dari perusahaan, serta para tokoh masyarakat.

Nama Tudang Sipulung sendiri diambil dari filosofi lokal yang sarat makna kebersamaan: duduk bersama untuk merembukkan persoalan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai kendala teknis yang dihadapi di lapangan.

Dalam setiap sesi sekolah lapang, para petani mendapatkan pemahaman teoretis sekaligus bimbingan praktis mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya tanaman jagung yang baik dan benar (Good Agricultural Practices / GAP). Kurikulum yang diberikan dirancang secara komprehensif, meliputi:

  1. Pengolahan Lahan Berkelanjutan : Teknik penyiapan tanah yang menjaga struktur hara agar tetap gembur dan kaya bahan organik tanpa merusak ekosistem mikroorganisme tanah. Petani diajarkan bagaimana mengembalikan kesuburan tanah secara biologis, menghindari pembakaran lahan yang merusak lingkungan, serta mengoptimalkan pengolahan tanah minimal untuk menjaga kelembapan alami.
  2. Aplikasi Pupuk Biosulfur : Pengenalan takaran, dosis yang tepat, serta waktu aplikasi pupuk biosulfur yang menjadi kunci utama peningkatan daya tahan tanaman sekaligus memperbaiki kesuburan tanah secara alami. Pupuk inovatif ini tidak hanya menyuplai unsur hara makro dan mikro, tetapi juga mengaktifkan mikroba baik di dalam tanah yang membantu penyerapan nutrisi oleh akar tanaman secara lebih efisien.
  3. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) : Strategi mitigasi hama dan penyakit secara terpadu dan ramah lingkungan, meminimalkan ketergantungan pada pestisida kimia sintetis yang berbahaya bagi kesehatan jangka panjang manusia dan lingkungan. Petani diperkenalkan pada pemanfaatan musuh alami serta pestisida nabati yang aman dan ekonomis.
  4. Teknik Panen dan Pascapanen : Edukasi mengenai tingkat kematangan optimal saat panen serta penanganan pascapanen guna menekan tingkat susut hasil dan menjaga kadar air jagung agar memiliki daya simpan serta nilai jual yang tinggi di pasar. Penanganan yang tepat pada tahap ini memastikan kualitas jagung memenuhi standar industri pakan ternak.

Melalui kurikulum yang aplikatif ini, sekolah lapang berhasil memangkas jarak antara teori akademis dan realitas praktis di ladang. Petani tidak lagi merasa berjalan sendirian dalam menghadapi kegagalan panen atau serangan hama yang tidak terduga.

Baca Juga Berita Ini:  Dari Limbah Jadi Berkah, Sekolah Lapang Bioferdom Antarkan PEP Donggi Matindok Raih Penghargaan SDGs Award 2026

Suara dari Desa : Apresiasi dan Semangat Baru Masyarakat Kayowa

Kepala Desa Kayowa, Mohammad Ali Daeng Maroa, yang hadir langsung di tengah-tengah petani saat panen raya tersebut, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas metamorfosis yang terjadi di desanya.

Menurutnya, sekolah lapang telah mengubah paradigma berpikir masyarakat dari cara-cara konvensional yang kerap menemui jalan buntu menjadi petani modern yang berorientasi pada hasil dan efisiensi.

“Hari ini kita melihat buah dari kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk berubah dari warga kami. Petani di Kayowa telah membuktikan secara nyata bahwa penerapan teknologi tepat guna, khususnya pemanfaatan pupuk biosulfur melalui pendampingan intensif, mampu memberikan hasil panen yang sangat memuaskan.

Kami berharap momentum keberhasilan ini tidak berhenti di sini, melainkan menjadi batu loncatan untuk memperluas skala produksi dan semakin memperkokoh pilar ketahanan pangan di tingkat desa,” tutur Mohammad Ali Daeng Maroa dengan penuh antusias.

Lebih lanjut, Kepala Desa menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus memberikan dukungan penuh, baik dari sisi fasilitasi kebijakan, pembinaan kelembagaan, maupun dorongan moral agar para petani di wilayahnya semakin inovatif dan mandiri secara finansial.

“Pemerintah desa tidak akan tinggal diam. Kami akan terus hadir memberikan fasilitas, memperkuat kelembagaan kelompok tani, serta membuka akses seluas-luasnya agar inovasi-inovasi pertanian ini dapat diadopsi oleh lebih banyak warga.

Kemandirian pangan desa adalah benteng pertahanan ekonomi kita,” tegasnya di hadapan ratusan warga yang memadati area panen raya.

Transformasi ini juga dirasakan secara langsung oleh para anggota Kelompok Tani Mosa’angu. Sebelum adanya program Sekolah Lapang Tudang Sipulung, banyak petani yang mengeluhkan rendahnya produktivitas lahan akibat tanah yang semakin keras dan asam karena penggunaan pupuk kimia berlebihan dalam jangka panjang.

Biaya produksi yang membengkak seringkali membuat hasil penjualan tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

Namun, dengan diperkenalkannya pupuk biosulfur dan metode pemupukan berimbang, biaya operasional dapat ditekan sementara hasil produktivitas melonjak secara signifikan hingga mencapai 3,6 ton per hektare. Angka ini merupakan pencapaian luar biasa yang memberikan angin segar bagi perekonomian rumah tangga petani di Desa Kayowa.

Komitmen Korporasi dan Implementasi Prinsip ESG di Sektor Hulu Migas

Panen raya jagung di Desa Kayowa turut dihadiri oleh jajaran manajemen PT Pertamina EP Donggi Matindok Field yang dipimpin langsung oleh Field Manager Donggi Matindok Field, Muhammad Sidik Angsari.

Kehadiran manajemen puncak perusahaan ini menegaskan bentuk nyata tanggung jawab sosial korporasi yang tidak sekadar bersifat simbolis, melainkan hadir dalam wujud keterlibatan emosional dan operasional yang berkelanjutan bersama warga.

Dalam sambutannya di hadapan para petani, kelompok wanita tani, aparat desa, serta perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banggai, Sidik Angsari memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi harmonis yang terbangun antara tiga pilar penting pembangunan : perusahaan, pemerintah daerah/desa, dan masyarakat kelompok tani.

Ia menegaskan bahwa kekuatan utama dalam membangun perekonomian kerakyatan terletak pada semangat gotong royong dan kemauan bersama untuk terus belajar.

“Panen raya ini bukan sekadar angka kuantitatif tentang seberapa banyak ton jagung yang berhasil dipetik dari tanah Desa Kayowa.

Lebih dari itu, ia adalah potret hidup dan gambaran nyata dari semangat kolaboratif yang sehat. Kami di Pertamina EP percaya bahwa dengan pendampingan yang konsisten, suplai pengetahuan yang tepat, serta tekad kuat dari para petani untuk terus berinovasi, kawasan ini memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi salah satu sentra produksi jagung unggulan di Kabupaten Banggai,” ujar Sidik Angsari.

Sidik menambahkan, program pengembangan pertanian berbasis pupuk biosulfur ini merupakan manifestasi konkret dari implementasi prinsip-prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) yang diintegrasikan ke dalam seluruh lini bisnis hulu migas Pertamina EP.

Melalui pendekatan ini, perusahaan berupaya memastikan bahwa setiap program pemberdayaan masyarakat tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan hidup serta menjunjung tinggi tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Baca Juga Berita Ini:  Kerusakan Ekosistem Karena Ulah Manusia

Pihak perusahaan berkomitmen untuk terus mendampingi kelompok tani Mosa’angu dan memperluas cakupan program serupa ke wilayah-wilayah operasional lainnya.

Dengan demikian, kehadiran industri energi nasional di tengah-tengah masyarakat tidak dirasakan sebagai entitas asing, melainkan sebagai mitra strategis yang tumbuh dan berkembang bersama rakyat.

Perspektif Pemerintah Daerah : Sinergi untuk Ketahanan Pangan Regional

Keberhasilan program Sekolah Lapang Tudang Sipulung di Desa Kayowa juga mendapat sorotan positif dari instansi teknis pemerintahan setempat.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banggai yang turut hadir dalam kegiatan panen tersebut menilai bahwa inisiatif Pertamina EP Donggi Matindok Field sejalan dengan visi besar pemerintah daerah dalam memperkuat kemandirian pangan regional serta meningkatkan kesejahteraan petani pedesaan.

Sektor pertanian di Kabupaten Banggai memegang peranan vital sebagai salah satu penggerak utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Oleh karena itu, adopsi teknologi pertanian modern seperti penggunaan pupuk biosulfur dinilai menjadi solusi strategis di tengah tantangan perubahan iklim global, degradasi lahan akibat penggunaan pupuk kimia berlebih, serta fluktuasi harga sarana produksi pertanian (saprotan).

Pemerintah daerah memandang bahwa sinergi antara dunia usaha melalui program TJSL (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan) dan instansi pemerintah merupakan formula ideal untuk mempercepat akselerasi pembangunan di sektor agraris.

Dengan adanya pendampingan teknis yang berkesinambungan, para petani di Kabupaten Banggai diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga memiliki daya saing yang kuat di pasar regional maupun nasional.

Best Practice dan Model Replikasi untuk Masa Depan Pertanian Banggai

Panen raya jagung pakan seluas satu hektare di Desa Kayowa ini telah menorehkan catatan penting yang melampaui batas-batas administratif desa tersebut.

Ia menjelma menjadi sebuah model percontohan (best practice) yang layak direplikasi di berbagai wilayah lain di Kabupaten Banggai maupun Provinsi Sulawesi Tengah secara keseluruhan.

Beberapa poin penting dari keberhasilan model Sekolah Lapang Pertamina EP Donggi Matindok Field meliputi:

  • Peningkatan Produktivitas yang Terukur : Angka 3,6 ton per hektare menjadi bukti empiris bahwa inovasi pupuk biosulfur mampu meningkatkan hasil riil di tingkat petani secara konsisten.
  • Penguatan Kapasitas SDM Petani : Perubahan perilaku bertani dari cara tradisional yang bergantung pada intuisi menjadi praktik berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi ramah lingkungan.
  • Sinergi Lintas Sektor yang Kokoh : Kolaborasi yang erat antara perusahaan hulu migas, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan kelompok tani menciptakan ekosistem pendukung yang kuat, transparan, dan berkelanjutan.
  • Akselerasi Ekonomi Lokal : Peningkatan pendapatan petani berpotensi memperkuat daya beli masyarakat desa dan memicu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di pedesaan, mengurangi angka kemiskinan, serta menekan arus urbanisasi.

Model pemberdayaan ini membuktikan bahwa pendekatan yang partisipatif di mana masyarakat ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek penerima bantuan memiliki tingkat keberhasilan dan keberlanjutan yang jauh lebih tinggi.

Menyongsong Masa Depan Kedaulatan Pangan dari Akar Rumput

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan panen raya pada siang hari itu, para petani Desa Kayowa tidak hanya membawa pulang hasil jerih payah berupa tumpukan tongkol jagung bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga membawa pulang rasa percaya diri yang besar.

Bahwa dengan ilmu pengetahuan, pendampingan yang tepat, dan semangat kolaborasi, tanah-tanah di bumi pertiwi ini akan selalu siap memberikan penghidupan yang layak bagi kesejahteraan anak cucu bangsa.

Semburat fajar yang mengawali hari panen raya di Desa Kayowa kini menjelma menjadi simbol optimisme yang terang benderang.

PT Pertamina EP Donggi Matindok Field bersama masyarakat Desa Kayowa telah membuktikan secara nyata bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak lahir dari wacana di ruang-ruang ber-AC, melainkan dimulai dari langkah nyata,

keringat tulus, dan inovasi berkelanjutan di akar rumput. Dari Desa Kayowa untuk Indonesia, semangat kemandirian pangan terus bersemi dan siap membentang luas melintasi batas-batas nusantara.( Imam) **

Reporter  : Imam, Editor  : Imam Muslik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *