Sistem Pendidikan di Finlandia, Contoh Bagi Indonesia

Finlandia tidak memiliki ujian standar nasional yang ketat. Sebaliknya, evaluasi siswa dilakukan melalui penilaian berkelanjutan dan penilaian formatif yang dilakukan oleh guru. Ini memungkinkan siswa berkembang secara keseluruhan dan tidak hanya dituntut untuk mencapai nilai yang tinggi dalam ujian tertentu.

Di negara ini tidak pernah ada anak yang tinggal kelas, dan progres pertumbuhan keperibadian anak dilaporkan kepada orang tua secara berkala. Dalam kaitan ini, kerjasama antara guru dan orangtua dalam mendidik anak dilakukan secara seksama.

Berikut beberapa keungggulan sistem pendidikan di Finlandia. Pertama, pendidikan di Finlandia lebih fokus pada proses pembelajaran daripada hasil tes atau ujian. Kedua, kurikulum pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan individu siswa dan memungkinkan mereka untuk belajar dengan cara yang berbeda-beda.

Ketiga, guru di Finlandia memiliki kualifikasi yang tinggi dan mereka diberikan kebebasan untuk merancang kurikulum dan metode pembelajaran. Kempat, pendidikan di Finlandia sering menggunakan pendekatan berbasis proyek yang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif dan mandiri. Kelima, Finlandia tidak memiliki tes standar nasional, sehingga siswa tidak terlalu stres dengan ujian dan dapat fokus pada pembelajaran.

Baca Juga Berita Ini:  Surat Terbuka untuk Pelatih Baru Kesebelasan Indonesia, Patrick Kluivert

Kemudian, jika dibandingkan dengan sistem pendidikan di Indonesia, krikulum di Indonesia lebih rigid dan terstruktur, dengan fokus pada hasil tes dan ujian. Pendidikan di Indonesia juga sering lebih fokus pada teori daripada praktik, sehingga siswa kurang memiliki kesempatan untuk belajar secara aktif dan mandiri.

Perlu penyesuaian dan inovasi

Tapi perlu dicatat bahwa Republik Finlandia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat bunuh diri yang relatif tinggi di kalangan remaja dan dewasa muda, bahkan menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Finlandia memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan di negara-negara lainnya di Eropa.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingginya tingkat bunuh diri di Finlandia yaitu, pertama, negara itu memiliki musim gelap yang panjang selama musim dingin, sehingga faktor musim ini dapat mempengaruhi mood dan kesehatan mental penduduk.

Kedua, Finlandia memiliki populasi yang relatif kecil dan tersebar, sehingga dapat menyebabkan warga seperti terisolasi secara sosial dan sering merasa kesepian. Ketiga, Finlandia memiliki standar hidup yang tinggi dan tekanan untuk mencapai kesuksesan yang besar sehingga dapat menyebabkan stress dan kecemasan.

Baca Juga Berita Ini:  Menanti Ajal Kehancuran Amerika

Last but not least, Finlandia dikenal sebagai salah satu negara yang paling sekuler di dunia. Banyak penduduk Finlandia yang tidak memiliki afiliasi agama atau tidak mempraktikkan agama secara aktif.

Maka, Pemerintah Finlandia dan organisasi kesehatan di negara itu terus berupaya meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan penduduk, seperti dengan menyediakan layanan kesehatan mental yang lebih baik dan meningkatkan kesadaran tentang perlunya kesehatan mental dan spiritual.

Terlepas dari kekurangannya, sistem pendidikan di Finlandia memiliki banyak keunggulan yang dapat dijadikan contoh bagi Indonesia. Namun perlu diingat bahwa setiap negara memiliki konteks dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga bagi Indonesia perlu adanya penyesuaian dan inovasi yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan menuju “Indonesia Emas 2045”.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *