Rebahan Yang Ditakuti Negara

Oleh Prof. Yolanda Masnita Siagian*

Today I don’t feel like doing anything

banner 900x250

I just wanna lay in my bed

Don’t feel like picking up my phone

So leave a message at the tone

‘Cause today, I swear, I’m not doing anything, uh

I’m gonna kick my feet up, then stare at the fan

Turn the TV on, throw my hand in my pants

Nobody’s gon’ tell me I can’t, nah

I’ll be lounging on the couch, just chilling in my snuggie

Click to MTV, so they can teach me how to dougie

‘Cause in my castle, I’m the freaking man

(Bruno Mars).

Bruno Mars dengan Lazy songnya terfikir tentang fenomena dari Negara Tirai Bambu (Tiongkok). Bruno Mars sendiri adalah penyanyi pop, penulis lagu, produser, dan multi-instrumentalis Amerika yang telah meraih 11 Grammy Awards.

Dalam kaitan ini, ada satu cerita yang menurut saya lucu sekaligus agak menyedihkan kalau dipikir-pikir lagi. Suatu hari di tahun 2021, seorang pemuda dari Provinsi Sichuan, namanya Luo Huazhong, memutuskan berhenti dari pekerjaan pabriknya. Dia lalu naik sepeda sejauh lebih dari 1.600 kilometer menuju Tibet, tanpa rencana besar apa pun.

Sesampainya di sana, dia sadar satu hal sederhana: ternyata dia bisa tetap hidup cuma dengan kerja serabutan seadanya, tanpa harus ngoyo mengejar karier, rumah, atau status sosial seperti yang selama ini dituntut orang-orang di sekitarnya.

Dia lalu menulis semacam manifesto singkat di sebuah forum daring. Judulnya kira-kira “rebahan itu keadilan”. Isinya, kalau saya sederhanakan, semacam pertanyaan balik ke masyarakat: buat apa terus lari di roda hamster kalau ujung-ujungnya cuma bikin capek dan tidak pernah benar-benar sampai ke mana-mana.

Baca Juga Berita Ini:  Fotografer CFD: Ketika Pasar Diciptakan, Bukan Ditemukan

Postingan itu meledak. Dan dari situ lahirlah istilah yang sekarang menjadi salah satu kata paling ikonik dari generasi muda China: tang ping (躺平), atau kalau diterjemahkan langsung, “berbaring rata”, lebih akrab kita kenal sebagai “lying flat”.

Saya suka menyebut ini sebagai kebalikan dari jouhatsu. Kalau di Jepang orang menghilang secara fisik dari kehidupan sosial, di China orang-orang muda ini memilih tetap ada, tetap kelihatan, tapi berhenti berpartisipasi secara penuh dalam permainan yang menurut mereka sudah curang sejak awal.

 Roda Hamster Bernama 996

Untuk paham kenapa tang ping bisa menyebar secepat itu, kita perlu kenalan dulu dengan  satu istilah yang jadi biang keladinya: budaya kerja “996”. Angka ini bukan kode rahasia, artinya sesederhana jadwal kerja jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari dalam seminggu.

Bayangkan saja, itu berarti nyaris tidak ada waktu buat hidup di luar kantor, ’nggak’ ada waktu buat pacaran serius, tidak ada waktu buat istirahat yang cukup, apalagi buat sekadar duduk santai menikmati hidup.

Yang bikin lebih parah, jam kerja begitu panjang pun ternyata tidak menjamin apa-apa. Harga properti di kota-kota besar China melonjak jauh melampaui kemampuan gaji generasi muda.

Persaingan kerja jadi begitu ketat sampai muncul istilah tersendiri buat menggambarkannya: neijuan (内卷) yang sering diterjemahkan sebagai “involusi” — situasi di mana semua orang berlomba semakin keras, tapi hasil yang didapat justru semakin kecil, karena semua orang lain juga berlomba dengan kerasnya yang sama.

Baca Juga Berita Ini:  Pertamina Drilling Paparkan Inovasi Energi Berkelanjutan di Seminar Universitas Trisakti

Ibarat balapan yang semua pesertanya lari makin cepat, tapi garis finisnya ikut mundur menjauh, dan dari situlah lahir kelelahan kolektif. Bukan cuma capek fisik, tapi capek psikologis karena merasa segala usaha tidak pernah cukup dan tidak pernah benar-benar dihargai.

Generasi yang orang tuanya dulu diajari bahwa kerja keras pasti berbuah rumah, mobil, dan status, sekarang menyadari bahwa janji itu makin sulit ditepati, berapa pun keras mereka berusaha.

Jadi ”tang ping” lahir bukan sebagai gerakan protes yang teriak-teriak turun ke jalan. Dia lebih seperti bisikan kolektif yang pelan tapi menyebar luas: “Kalau begini caranya, mending saya berhenti ikut lomba.”

Kerja seadanya buat cukup makan. Tidak terburu-buru mengejar promosi. Tidak buru-buru nikah. Tidak maksa beli rumah. Dan yang penting, mengurangi keinginan buat belanja hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kenapa Bikin Ekonom dan Pemasar Gelisah?

Di titik inilah cerita ini jadi menarik buat dibahas dari sudut pandang yang agak berbeda dari sekadar psikologi generasi. Coba pikirkan begini: seluruh mesin ekonomi modern, dan seluruh disiplin pemasaran yang kita kenal, dibangun di atas satu asumsi dasar yang jarang dipertanyakan, bahwa manusia pada dasarnya selalu ingin lebih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *