KABAR BANGGAI – Komitmen PT Pertamina EP Donggi Matindok Field, bagian dari Zona 13 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertaminadalam mendukung pemberdayaan masyarakat kembali terbukti melalui program inovasi sosial unggulan bertajuk SIMPUL EMAS (Sistem Pengolahan Madu dan Ekowisata Berbasis Masyarakat).
Program ini menyasar masyarakat adat Togong Tanga di Desa Leme-Leme Darat, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.
Keberhasilan program ini dipaparkan oleh Sofiana Hana, Pendamping Local Hero Kabupaten Banggai Kepulauan, saat Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina yang digelar di Hotel Claro Makassar, Senin, 23 Juni 2025.

SIMPUL EMAS dirancang sebagai jawaban atas berbagai persoalan mendasar yang selama ini dihadapi oleh masyarakat adat Togong Tanga. Tingginya angka kemiskinan yang mencapai 15 persen, rendahnya tingkat pendidikan, dan keterbatasan akses infrastruktur, informasi, kesehatan, serta pendidikan menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Melalui program ini, Pertamina EP Donggi Matindok tidak hanya menargetkan peningkatan ekonomi, tetapi juga pelestarian lingkungan hidup dan penguatan kearifan lokal.
Tiga pilar utama menjadi fondasi pelaksanaan SIMPUL EMAS. Pertama, pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat adat.
Kedua, pemanfaatan potensi hutan melalui apikultur atau budidaya lebah madu.
Ketiga, pengembangan ekowisata berbasis edukasi atau eko-edu wisata. Strategi tersebut terbukti berhasil mendorong masyarakat Togong Tanga melakukan replikasi program di enam desa lainnya, yaitu Desa Unu, Olusi, Mangais, Meselesek, Alul, dan Komba-Komba.
Program ini juga melahirkan inovasi teknologi, salah satunya mesin pasteurisasi dan vacuum cooling untuk pengolahan madu, yang terinspirasi dari sistem produksi di Central Processing Plant (CPP) milik Pertamina EP.
Inovasi tersebut menjadi terobosan penting untuk meningkatkan kualitas madu lokal agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Dari sisi lingkungan, SIMPUL EMAS memberikan kontribusi besar. Hingga kini, sebanyak 13,44 hektare lahan berhasil direstorasi, ditambah dengan 279,95 hektare kawasan konservasi berbasis masyarakat.
Indeks keanekaragaman hayati fauna pun meningkat sebesar 14,6 persen. Program ini juga berhasil berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon sebesar 0,022 ton per tahun melalui pemanfaatan energi baru terbarukan.
Secara ekonomi, program ini telah meningkatkan pendapatan petani madu secara signifikan. Jika sebelumnya rata-rata pendapatan hanya berkisar Rp 1,4 juta per tahun, kini melonjak hingga Rp 8,5 juta per tahun. Selain itu, peningkatan akses pasar dan sertifikasi produk memperkuat daya saing madu lokal di tingkat regional dan nasional.
Dari aspek sosial, SIMPUL EMAS menggandeng 9 merchant untuk memasarkan produk secara online maupun offline. Indeks kepuasan masyarakat terhadap program ini pun tercatat sangat tinggi, mencapai 87,14, menunjukkan dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tak berhenti sampai di situ, dukungan pemerintah juga mengalir. Program ini mendorong lahirnya kebijakan strategis berupa Surat Keputusan (SK) Bupati dan Pemerintah Desa untuk menjamin keberlanjutan program.
Saat ini, terdapat 11 desa binaan Program Kampung Iklim (ProKlim), dan terbentuk pula pusat pembelajaran masyarakat yang telah melibatkan lebih dari 300 masyarakat adat.
SIMPUL EMAS bukan sekadar program sosial. Ini adalah wujud nyata sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun masa depan masyarakat adat di daerah terpencil.
Lewat program ini, Pertamina EP Donggi Matindok tak hanya menghadirkan perubahan, tetapi juga menanamkan harapan baru bagi generasi mendatang masyarakat adat Togong Tanga. ( MAM) **







