Oleh: Supriadi Lawani*
KABAR BANGGAI – Hari ini kita menyaksikan lahirnya satu kelas pekerja baru di Indonesia: pekerja ojek online. Mereka bukan sekadar pengendara motor berburu order, melainkan wajah paling telanjang dari eksploitasi kapitalisme digital.
Mereka bekerja tanpa jam kerja pasti, dipaksa mengejar pendapatan dengan potongan besar dari aplikasi, tubuh dan pikiran mereka lelah, tetapi pemilik modal platform menumpuk keuntungan tanpa batas.Minggu 31 Agustus 2025.
Inilah kontradiksi yang disorot Karl Marx: kerja keras di satu sisi, perampasan hasil kerja di sisi lain. Bedanya, jika dulu proletariat identik dengan buruh pabrik, hari ini proletariat hadir di jalan-jalan kota, dengan jaket hijau atau biru, helm di kepala, dan ponsel di tangan.
Keistimewaan kelas pekerja baru ini justru terletak pada alat kerja mereka: smartphone. Dengan ponsel, mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga membaca berita, menonton peristiwa, dan menyaksikan langsung ketidakadilan.
Mereka melihat pejabat hidup mewah, korupsi merajalela, sementara mereka harus bergelut dengan bensin, cicilan motor, dan dapur yang nyaris tak berasap. Mereka tidak hidup dalam ilusi. Mereka hidup dalam kenyataan pahit kapitalisme yang kasar.
Dan yang lebih berbahaya bagi penguasa, solidaritas ojek online sudah terbentuk secara nasional. Mereka punya jaringan komunitas, dari perkotaan hingga daerah.
Mereka bisa bergerak cepat, mereka bisa memobilisasi ribuan bahkan jutaan pengemudi dengan seruan sederhana di grup WhatsApp. Inilah infrastruktur mobilisasi yang tidak dimiliki kelas pekerja lain hari ini.
Maka, jangan heran jika benturan pertama dari krisis hidup layak di negeri ini datang dari mereka. Mereka yang paling tahu arti perut lapar. Mereka yang paling paham bagaimana hasil kerja dirampas. Dan mereka yang setiap hari berhadapan dengan kenyataan rakyat di jalanan.
Namun, sejarah juga memberi pelajaran: tanpa kepemimpinan, amarah kelas pekerja hanya menjadi riak, bukan gelombang.
Tanpa organisasi, energi revolusioner hanya jadi letupan sesaat, mudah dipadamkan. Ojek online hari ini menyimpan mesin perubahan, tetapi mesin itu membutuhkan pengemudi politik.
Jika lahir kepemimpinan dari rahim kelas pekerja baru ini, Indonesia akan menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi: kebangkitan proletariat digital yang siap mengguncang fondasi kekuasaan lama.
Ojek online bukan sekadar transportasi. Mereka adalah bom waktu sosial. Pertanyaannya: siapa yang berani menyalakan sumbu itu?**







