Oleh: Supriadi Lawani*
“Ruang yang adil bukan hanya milik kota modern. Ia juga hak rakyat kecil yang hidup dari pasar.”
KABAR BANGGAI – Setiap kali muncul wacana penataan ulang pasar tradisional, satu suara yang paling lantang bukan berasal dari konsumen, bukan pula dari pengelola. Tapi dari pedagang itu sendiri—yang hampir semuanya ingin satu hal yang sama: berjualan di depan.
Mereka ingin berada di jalur utama, dekat pintu masuk, di sisi yang pertama terlihat. Karena di sanalah, menurut mereka, uang lebih cepat berputar, dagangan lebih laku, dan harapan hidup sedikit lebih pasti.
Saya tidak menyalahkan mereka. Saya pun, sebagai petani pisang yang setiap minggu mengantar panen ke pasar, melihat bahwa tempat berjualan memang menentukan. Ada kios yang ramai bak semut mengerubungi gula, tapi ada juga yang sepi seperti warung tua yang lupa dibuka.
Namun justru dari pengalaman itulah saya percaya: masalahnya bukan pada pedagang yang ingin di depan, tapi pada desain pasar yang membuat “belakang” menjadi kutukan. Jika ruang ditata dengan adil, keinginan berebut tempat paling strategis tidak akan menjadi sumber ketegangan abadi.
Depan yang Diciptakan
Di banyak pasar tradisional, desainnya seperti tak selesai dipikirkan. Lorong-lorong gelap, kios-kios menumpuk tak beraturan, arus pengunjung tidak jelas, dan ruang-ruang mati di bagian dalam yang perlahan ditinggalkan pembeli. Dalam struktur seperti itu, hanya kios yang dekat pintu atau pinggir jalan yang punya harapan.
Jadi wajar jika semua ingin “di depan”. Di ruang yang tidak dirancang untuk adil, berebut adalah cara bertahan hidup. Namun, apa jadinya jika kita ciptakan desain di mana semua pedagang bisa merasa berada di depan?
Jawabannya: bisa. Caranya adalah dengan mengubah struktur sirkulasi pasar, bukan hanya mengatur ulang posisi kios. Desain memutar atau radial, misalnya, membuat seluruh kios menghadap ke jalur utama yang melingkar. Tidak ada sisi dalam yang gelap. Semua pedagang terlihat. Semua dilalui.
Atau, bisa juga dengan jalur spiral atau zig-zag, seperti alur masuk di museum modern atau taman hiburan, yang membuat pengunjung tanpa sadar melewati semua titik. Dalam model seperti itu, tidak ada pintu utama yang istimewa—karena semua titik adalah bagian dari sirkulasi utama.
Arsitektur Keadilan
Dalam bahasa para arsitek kota, ini disebut sirkulasi merata. Tapi bagi saya, seorang petani dari desa, ini adalah desain yang adil. Ruang yang menghapus dikotomi depan dan belakang, pusat dan pinggiran, yang biasanya hanya memperkuat ketimpangan lama.
Kita bisa saja bicara keadilan dalam hukum, ekonomi, bahkan distribusi pangan. Tapi kita terlalu jarang bicara tentang keadilan dalam desain ruang. Padahal, ruang menentukan siapa yang terlihat dan siapa yang disembunyikan. Siapa yang mendapat pembeli, dan siapa yang cuma menunggu nasib.
Saya pernah melihat pedagang sayur kecil memindahkan gerobaknya dua meter lebih ke pinggir, hanya agar dagangannya “terlihat”. Dan di waktu yang sama, saya melihat seorang pedagang besar mematok lapak dengan tali rafia, menandai batas kekuasaan seolah pasar ini punya dia. Itu bukan soal modal atau kualitas dagangan. Itu soal siapa yang diberi ruang, dan siapa yang diabaikan.
Pasar Sebagai Ruang Rakyat
Pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi. Ia adalah wajah kehidupan rakyat. Di sana kita menemukan cerita: tentang ibu yang menawar ikan untuk makan anaknya, tentang kakek yang menjual hasil kebun, tentang pemuda yang mencoba peruntungan dengan berdagang gorengan.
Pasar adalah tempat rakyat biasa menggantungkan hidup. Maka, jika kita ingin ruang itu berfungsi secara adil, desainnya pun harus berpihak pada yang kecil. Jangan biarkan konsep “depan” menjadi milik segelintir pedagang besar, sementara sisanya diseret ke belakang—secara harfiah maupun sosial.
Tugas pemerintah bukan hanya membangun los dan atap. Tapi juga memastikan bahwa ruang itu menghidupi, bukan hanya menampung. Keadilan tidak datang dari brosur proyek revitalisasi, tapi dari jalur yang adil, cahaya yang merata, dan ruang yang tak mengistimewakan siapa pun.
Imajinasi Ruang yang Adil
Saya tidak menulis ini dari balik meja kerja, tetapi dari kebun . Tangan saya masih kotor dengan tanah, dan wajah saya masih terbakar matahari. Tapi saya percaya bahwa ruang publik bisa dirancang dengan imajinasi keadilan.
Pasar bisa diatur agar tak ada yang merasa tertinggal. Tak perlu rebutan posisi, jika semua posisi punya hak yang sama untuk hidup. Desain memutar, spiral, atau radial bukan sekadar soal estetika. Ia adalah cara ruang bicara: bahwa semua pedagang penting, bahwa semua orang patut terlihat.
Karena di ruang yang adil, tidak ada lagi yang berebut tempat. Yang ada hanyalah saling melihat, saling menghargai, dan saling menghidupi.**
Palu 13/6/2025
*Penulis adalah Petani pisang, pemerhati ruang rakyat







