Lapas Luwuk Terapkan Konsep Zero Waste, Panen Perdana Maggot Capai 11 Kilogram

KABAR BANGGAI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk kembali menunjukkan perkembangan dalam kegiatan pembinaan kemandirian melalui budidaya maggot. Pada panen perdana, Lapas Luwuk berhasil menghasilkan 11 kilogram maggot yang selanjutnya akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan pada kegiatan peternakan dan perikanan di lingkungan Lapas. Rabu (07/10/2026),

Maggot yang dipanen merupakan hasil budidaya yang dikembangkan dalam kegiatan pembinaan kemandirian Warga Binaan. Budidaya ini memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu alternatif pakan yang dapat mendukung pengembangan sektor peternakan dan perikanan.

banner 900x250

Hasil panen perdana tersebut nantinya akan diolah menjadi tiga bentuk, yaitu fresh maggot dan dried maggot serta tepung maggot. Fresh maggot akan dimanfaatkan sebagai pakan untuk kegiatan peternakan dan perikanan di Lapas Luwuk, sedangkan dried maggot dan tepung maggot disiapkan sebagai pakan yang lebih tahan lama dan mudah disimpan.

Selain menghasilkan maggot sebagai pakan, budidaya BSF juga menghasilkan kasgot (bekas maggot) sebagai produk sampingan. Kasgot yang dihasilkan dari proses budidaya tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik setelah melalui proses fermentasi.

Dengan demikian, kegiatan budidaya maggot tidak hanya menghasilkan pakan alternatif, tetapi juga menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian dan ketahanan pangan di Lapas Luwuk.

Pemanfaatan maggot dan kasgot tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Luwuk dalam menerapkan konsep pemanfaatan limbah secara berkelanjutan. Limbah organik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, sementara hasil sampingnya dapat diolah kembali menjadi pupuk organik.

Baca Juga Berita Ini:  Mediasi Polsek Batui, Konflik Mertua dan Menantu Berakhir Damai

Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan pembinaan ketahanan pangan yang selama ini dikembangkan Lapas Luwuk, khususnya pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Di sisi lain, budidaya maggot juga menjadi sarana bagi Warga Binaan untuk mempelajari keterampilan baru yang memiliki peluang untuk dikembangkan setelah kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, mengapresiasi hasil panen perdana maggot tersebut. Menurutnya, budidaya maggot merupakan salah satu bentuk inovasi pembinaan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi kegiatan di dalam Lapas sekaligus membuka peluang usaha bagi Warga Binaan.

“Panen perdana sebanyak 11 kilogram ini menjadi langkah awal yang baik. Hasilnya akan kami manfaatkan terlebih dahulu untuk mendukung kebutuhan pakan dalam kegiatan peternakan dan perikanan di Lapas Luwuk.

Ke depan, kami juga akan mengembangkan hasil panen menjadi fresh maggot dan dried maggot yang memiliki potensi untuk dipasarkan kepada masyarakat,” ujar Bahrun.

Ia menambahkan bahwa budidaya maggot memiliki keunggulan karena hampir seluruh hasilnya dapat dimanfaatkan. “Yang menarik dari budidaya ini bukan hanya maggotnya yang dapat digunakan sebagai pakan.

 Kasgot yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik setelah difermentasi. Jadi, dari satu kegiatan kita bisa mendapatkan pakan sekaligus bahan yang dapat mendukung kegiatan pertanian. Ini sejalan dengan upaya kami memperkuat ketahanan pangan dan mengembangkan pembinaan yang berkelanjutan,” tambahnya.

Salah seorang Warga Binaan berinisial M yang terlibat dalam kegiatan budidaya maggot mengaku senang dengan hasil panen perdana tersebut.

Baca Juga Berita Ini:  Pemkab Banggai dan Kanwil Pemasyarakatan Sulteng Teken Nota Kesepakatan Perkuat Pembinaan dan Ketahanan Pangan

“Awalnya kami belajar bagaimana cara merawat dan mengembangkan maggot. Setelah melihat hasil panennya mencapai 11 kilogram, kami merasa senang karena ternyata kegiatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Tidak hanya maggot, hasil sisanya juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk setelah difermentasi. Kami jadi lebih semangat untuk mengembangkan budidaya ini,” ujar M.

Selain sebagai sumber pakan alternatif, budidaya maggot juga menjadi bagian dari upaya pemanfaatan limbah organik. Limbah organik yang dapat digunakan sebagai media pakan maggot diolah kembali sehingga memiliki manfaat dan tidak langsung menjadi sampah.

Sementara itu, kasgot yang dihasilkan dapat difermentasi dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman yang dikembangkan dalam kegiatan ketahanan pangan Lapas Luwuk.

Ke depan, Lapas Luwuk akan terus mengembangkan budidaya maggot, baik dari sisi peningkatan produksi maupun pengolahan hasil panen.

Fresh maggot dan dried maggot diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pakan untuk kegiatan peternakan dan perikanan di dalam Lapas, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi salah satu produk hasil pembinaan kemandirian yang dapat dipasarkan kepada masyarakat.

Melalui pengembangan kegiatan kerja yang berkelanjutan, Lapas Luwuk terus berupaya menciptakan pembinaan yang produktif, mandiri, dan ramah lingkungan.

Budidaya maggot menjadi salah satu contoh bagaimana limbah dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, sekaligus memberikan keterampilan dan peluang ekonomi bagi Warga Binaan sebagai bekal untuk kembali ke tengah masyarakat. (Mj)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *