Oleh: Fitri Hadun, S. pd
KABAR BANGGAI – Umat Islam baru saja selesai merayakan Idul Fitri. Idul Fitri adalah momen umat Islam bergembira karena telah berhasil menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan.
Sayangnya kebahagiaan itu belum dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, terlebih di Palestina dan beberapa wilayah lainnya.
Mereka harus berhadapan dengan penjajah yang kejam dan semakin brutal, tak mengenal belas kasihan oleh Zionis Israel.
Bahkan, di saat umat Islam di Palestina merayakan Idul Fitri di tahun ini, mereka memborbadir penduduknya saat sedang melangsungkan ibadah sholat idul Fitri. Serangan tersebut telah menewaskan 9 orang, 5 diantaranya adalah anak-anak.
Telah banyak korban dari penyerangan Israel Laknatullah. Bahkan, sejak Oktober 2023 telah menewaskan sekitar 500.200 orang. Sebagaian besar korbannya adalah anak-anak dan perempuan (Cnn. Indonesia. 30/03/2025).
Israel memang telah berambisi menguasai tanah Palestina. Sehingga, ini adalah penjajahan nyata di zaman sekarang. Namun, tidak satupun negeri muslim yang menghapus penjajahan ini.
Bahkan, negeri barat yang katanya menjunjung tinggi kebebasan malah menjadi pendukung penjajahan tersebut. HAk Asasi Manusia hanya berlaku bagi manusia selain umat Islam di Palestina.
Realita Palestina menunjukkan bahwa kebahagiaan umat Islam belumlah sempurna, karena sebagian umat Islam khususnya Palestina dalam kesengsaraan bahkan terancam nyawanya setiap detik.
Kondisi buruk ini seharusnya membuka mata dan hati manusia pada umumnya dan umat Islam khususnya, bahwa sistem di dunia hari ini yang dipimpin dan berkiblat kepada negeri barat gagal menjadi rujukan dan sandaran kehidupan manusia dalam membangun peradaban yang manusiawi.
Sistem demokrasi yang digagas oleh negeri-negeri barat dan diterapkan hampir semua negeri di dunia telah gagal menjamin kemerdekaan seluruh manusia di muka bumi.
Berbagai organisasi dunia yang dibangun oleh negeri barat termasuk PBB ternyata diam terhadap penjajahan Palestina.
Bahkan, negeri muslim lainnya tidak berkutik karena terikat dengan berbagai perjanjian di organisasi tersebut. Serta takut terhadap negeri-negeri barat.







