Oleh: Supriadi Lawani*
KABAR BANGGAI – Affan Kurniawan, anak muda berusia 21 tahun, tulang punggung keluarga sederhana, meninggal dengan cara tragis—dilindas mobil besi milik aparat Brimob. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah cermin getir tentang bagaimana negara sering kali gagal melindungi warganya. Kamis 28 Agustus 2025.
Kematian Affan adalah luka yang lebih dalam daripada sekadar kehilangan personal. Ia adalah simbol tentang rapuhnya demokrasi kita. Demokrasi bukan hanya soal pemilu lima tahunan, melainkan juga tentang jaminan hak hidup, kebebasan bersuara, dan perlindungan terhadap warga, terutama mereka yang bersuara untuk kebenaran.
Ketika nyawa rakyat kecil melayang dalam sebuah demonstrasi, maka demokrasi kehilangan maknanya.
Akar dari gejolak sosial hari ini jelas: krisis hidup layak. Bank Dunia mencatat, berdasarkan garis kemiskinan negara berpenghasilan menengah-atas (US$ 6,85/hari), lebih dari 171 juta orang Indonesia—atau sekitar 60,3% penduduk—masih hidup dalam kategori miskin.
Bahkan jika menggunakan standar menengah-bawah (US$ 3,65/hari), sekitar 44 juta orang masuk kategori miskin. Dan di bawah garis kemiskinan ekstrem (US$ 2,15/hari), masih ada 3,7 juta orang yang hidup di tepi jurang kelaparan.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah wajah sehari-hari rakyat yang dipaksa memilih antara makan, sekolah anak, atau biaya kesehatan.
Sementara itu, di layar televisi dan linimasa media sosial, pejabat justru mempertontonkan kemewahan hidup, korupsi kian telanjang, dan ucapan mereka sering kali seolah tak paham penderitaan rakyat. Jurang antara rakyat dan elite makin lebar, dan di situlah api kemarahan sosial tersulut.
Affan hanyalah satu dari ribuan korban yang telah “dibinasakan” oleh situasi ini. Sejarah negeri ini mencatat terlalu banyak darah rakyat yang tumpah demi demokrasi, demi hidup layak, demi melawan ketidakadilan.
Kini nama Affan menambah panjang daftar itu—darah muda yang tumpah di jalanan, menagih pertanggungjawaban dari negara yang mestinya melindungi.
Demokrasi tanpa penghormatan terhadap nyawa rakyat adalah demokrasi yang cacat. Demokrasi yang dipertahankan dengan darah rakyat justru menuntut negara untuk tidak lagi mengulangi kekejian yang sama.
Surga untukmu, Affan. Tapi bagi kita yang masih hidup, semoga kematianmu menjadi pengingat: bahwa negeri ini masih berhutang besar kepada rakyatnya—hutang keadilan, hutang kesejahteraan, hutang kemanusiaan.
Demokrasi kita dibayar darah rakyat miskin, darah Affan dan saya menunduk hormat kepadamu. ***







