Uji Nyali Wakil Rakyat: Tujuh Kursi, Sejuta Harapan Perjuangan Gerindra Banggai Menyuarakan Aspirasi Rakyat

Penulis  :  Imam Muslik  ( Jurnalis Banggai )

KABAR BANGGAI  –  Di tengah hiruk pikuk politik lokal, sebuah fakta yang tak bisa terbantahkan muncul dari Kabupaten Banggai, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) berhasil meraih tujuh kursi dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Angka ini bukan sekadar jumlah.

la adalah simbol kerja keras, simbol perjuangan, dan simbol harapan masyarakat yang menitipkan suara mereka kepada partai berlambang kepala burung garuda itu. Selasa 16 September 2025.

Namun, jalan menuju kursi DPRD bukanlah jalan yang lapang, la penuh dengan tikungan, terjal, dan bebatuan. Di balik tujuh kursi itu ada darah, keringat, dan air mata perjuangan.

Sebuah proses panjang yang tak hanya soal memenangkan suara, tetapi juga tentang menguasai medan politik yang keras, menghadapi persaingan yang ketat, serta membangun kepercayaan rakyat di setiap dapil (daerah pemilihan) di Kabupaten Banggai.

Perolehan suara nomor dua di Kabupaten Banggai menjadi bukti bahwa Gerindra mampu bersaing dengan partai-partai besar lain. Tetapi, kemenangan ini bukanlah akhir. Justru inilah awal dari sebuah tanggung jawab besar. Karena menjadi anggota legislatif bukan sekadar duduk manis di kursi empuk DPRD, melainkan menyuarakan jeritan rakyat yang sering tak terdengar.

Anggota DPRD adalah penyambung lidah rakyat. Mereka adalah suara dari nelayan yang bertarung melawan ombak di laut, suara dari petani yang berjibaku dengan lumpur di sawah, dan suara dari para pedagang kecil yang berjuang di pasar tradisional. Mereka bukan dipilih untuk diam. Mereka bukan dipilih untuk menjadi penonton. Mereka dipilih untuk berani.

Jika suatu hari seorang anggota DPRD dari Partai Gerindra justru memilih untuk diam, vakum, dan tak bersuara, maka hilanglah esensi kehadiran mereka. Apa arti tujuh kursi kalau hanya menjadi angka di atas kertas? Apa arti kemenangan jika aspirasi rakyat tida perjuangkan?

Fungsi utama DPRD adalah mengontrol jalannya pemerintahan. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam roda birokrasi, melainkan penjaga agar kebijakan tidak keluar jalur.

Baca Juga Berita Ini:  Anggota DPRD Gerindra Prihatin Warga Banggai Belum Punya NIK

Namun, dalam kenyataan, tak jarang kursi DPRD hanya menjadi ajang formalitas. Ada yang lebih memilih diam, takut berbeda pendapat, atau bahkan larut dalam arus kepentingan segelintir orang.

Inilah belenggu yang harus dipatahkan. Kabupaten Banggai membutuhkan suara yang lantang. Suara yang berani berkata “tidak” ketika ada kebijakan yang merugikan rakyat. Suara yang mampu menjadi penyeimbang, bukan sekadar pengikut.

Gerindra dengan tujuh kursi yang dimilikinya memiliki peluang besar untuk menjadi suara itu. Tujuh kursi bisa menjadi garda terdepan untuk mengingatkan pemerintah agar selalu berjalan di koridor yang benar.

Masyarakat Banggai menaruh harapan besar kepada para wakilnya. Mereka ingin melihat keberanian, bukan ketakutan. Mereka ingin mendengar suara lantang, bukan keheningan. Mereka ingin merasakan perubahan, bukan sekadar janji kosong.

Di sinilah letak tanggung jawab besar Gerindra. Tujuh kursi itu bukan hadiah, melainkan amanah. Setiap keputusan yang diambil, setiap suara yang diucapkan, dan setiap sikap yang ditunjukkan akan menentukan nasib ribuan orang.

Mungkin ada yang berkata bahwa DPRD hanya tempat rapat formal. Namun bagi rakyat, satu suara di DPRD bisa menentukan apakah pupuk akan tetap mahal atau bisa terjangkau. Bisa menentukan apakah jalan desa diperbaiki atau terus berlubang. Bisa menentukan apakah anak-anak mereka punya akses pendidikan yang layak atau tidak.

Inilah pentingnya keberanian. Anggota DPRD Gerindra harus hadir sebagai garda terdepan. Vokal, kritis, tetapi tetap solutif. Tidak sekadar menentang, tetapi tetapi juga menghadirkan gagasan-gagasan brilian.

Tak bisa dipungkiri, panggung DPRD Kabupaten Banggai selama ini banyak dikuasai oleh para senior politik. Mereka yang sudah duduk selama beberapa periode kerap mendominasi arah pembicaraan, bahkan kebijakan. Tetapi, senioritas bukanlah ukuran mutlak..

Gerindra harus menunjukkan eksistensi berbeda. Tampil dengan ide segar, gagasan brilian, dan keberanian mengambil sikap. Senior boleh berpengalaman, tetapi pengalaman tanpa gebrakan tak akan membawa perubahan. Justru keberanian anak-anak muda vokal yang bisa mengguncang panggung politik Banggai.

Baca Juga Berita Ini:  Nikel Banggai: Antara Fakta Pelanggaran dan Gosip Izin

Ketua DPC Gerindra Kabupaten Banggai,Hj.Sulianti Murad, SH MM sudah menegaskan: partai ini harus maju tanpa mundur. Sebuah seruan sederhana, tetapi penuh makna. Maju berarti tidak takut menghadapi kritik. Tidak gentar dengan perbedaan pendapat. Tidak mundur meski banyak tantangan menghadang..

Keberanian inilah yang diharapkan rakyat. Mereka ingin melihat wakilnya berdiri tegak di podium DPRD berbicara lantang tentang masalah nelayan, tentang harga kebutuhan pokok, tentang kesejahteraan petani, tentang pendidikan anak-anak mereka.

Gerindra tidak boleh menjadi penonton. Gerindra tidak boleh larut dalam keheningan. Dengan tujuh kursi yang dimiliki, sudah saatnya Gerindra menjadi suara paling keras di DPRD Banggai.

Pada akhirnya, politik bukan hanya tentang kursi, suara, atau kemenangan. Politik adalah tentang hati. Tentang sejauh mana seorang wakil mampu merasakan derita rakyatnya. Tentang sejauh mana ia bisa meneteskan air mata saat mendengar kisah nelayan yang kehilangan perahu, atau petani yang gagal panen.

Tujuh kursi Gerindra adalah simbol. Simbol bahwa rakyat masih percaya. Simbol bahwa ada harapan yang dititipkan. Dan harapan itu jangan sampai dipadamkan hanya karena rasa takut, diam, atau tunduk pada  segelintir orang.

Gerindra harus menjadi pelita. Pelita yang menerangi jalan Banggai menuju masa depan yang lebih baik.

Di balik angka tujuh kursi itu, ada sejuta harapan yang menanti. Rakyat Banggai telah menitipkan kepercayaan, dan kini Gerindra ditantang untuk membuktikan, bahwa mereka tidak hanya hadir di atas kertas, tetapi hadir di hati rakyat.

Menjadi vokal, berani, dan tulus dalam memperjuangkan kepentingan rakyat adalah jalan satu-satunya. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang duduk paling lama di DPRD. Sejarah hanya akan mengingat siapa yang benar-benar berjuang untuk rakyatnya. ( MAM)**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *