Tangan Kreatif Warga Binaan Lapas Luwuk Sukses Hasilkan Karya Bernilai Tinggi

KABAR BANGGAI –  Kreativitas mampu tumbuh di mana saja, termasuk di balik tembok Pemasyarakatan. Hal ini dibuktikan oleh Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk yang berhasil menghasilkan produk kerajinan tangan berupa tas dan peci berbahan tali jali.

Tidak hanya menjadi sarana mengembangkan keterampilan, hasil karya tersebut kini mulai menarik perhatian dan diminati oleh pengunjung Lapas Luwuk. Senin,12/10/2026.

banner 900x250

Ketertarikan terhadap produk kerajinan ini terlihat saat Kepala Sanggar Kegiatan Bersama (SKB), Drs. Herman, bersama pihak terkait melakukan koordinasi di Lapas Luwuk mengenai persyaratan dan kelengkapan administrasi program pendidikan kesetaraan bagi Warga Binaan.

Di sela-sela kegiatan tersebut, produk tas berbahan tali jali hasil karya Warga Binaan menarik perhatian dan mendorong pihak SKB untuk membelinya.

Minat terhadap produk tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Warga Binaan yang terlibat dalam proses pembuatannya. Selain pihak SKB, pengunjung yang datang untuk melaksanakan kunjungan atau besukan juga menunjukkan ketertarikan terhadap tas dan peci tersebut.

Produk kerajinan berbahan tali jali ini merupakan salah satu bentuk kreativitas Warga Binaan dalam memanfaatkan keterampilan tangan untuk menghasilkan barang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Proses pembuatannya juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali Warga Binaan dengan keterampilan produktif selama menjalani masa pidana.

Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, mengungkapkan apresiasi kreativitas dan semangat Warga Binaan dalam menghasilkan produk kerajinan yang mulai mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Baca Juga Berita Ini:  Dorong Pelayanan Prima dan Integritas, Lapas Luwuk Tandatangani Komitmen Bersama Jajaran Pemasyarakatan

Menurutnya, ketertarikan pengunjung terhadap produk tersebut merupakan perkembangan positif bagi pelaksanaan program pembinaan kemandirian.

Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan tidak hanya memberikan keterampilan secara teori, tetapi juga mendorong Warga Binaan menghasilkan karya nyata yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

“Kami terus mendorong Warga Binaan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan melalui berbagai program pembinaan kemandirian.

Tas dan peci berbahan tali jali ini menjadi salah satu bukti bahwa mereka mampu menghasilkan karya yang bermanfaat dan memiliki daya tarik bagi masyarakat,” ujar Bahrun.

Ia menegaskan bahwa pembinaan di Lapas tidak semata-mata berfokus pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga pada upaya mempersiapkan Warga Binaan agar memiliki keterampilan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah selesai menjalani masa pidana.

Sementara itu, Kepala SKB, Drs.Herman menyampaikan ketertarikannya terhadap produk tas hasil karya Warga Binaan Lapas Luwuk.

Menurutnya, kreativitas tersebut menunjukkan bahwa Warga Binaan memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui pembinaan dan kesempatan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.

“Produk tas dari tali jali ini menarik karena merupakan hasil kreativitas dan keterampilan Warga Binaan. Kami mengapresiasi upaya pembinaan yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkarya dan menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.

Hal ini menunjukkan bahwa Warga Binaan juga mempunyai potensi yang dapat terus dikembangkan,” ujar Drs.Herman.

Baca Juga Berita Ini:  Adanya Kecurangan Pilkada Banggai, Yang Membuat PSU Wajib Dilaksanakan!

Ia berharap keterampilan yang dikembangkan selama berada di dalam Lapas dapat menjadi bekal bagi Warga Binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat.

Warga Binaan berinisial M, yang terlibat dalam pembuatan kerajinan tersebut, mengungkapkan rasa senang dan bangganya karena hasil karya mereka mulai diminati oleh pengunjung.

“Awalnya kami belajar membuat kerajinan ini untuk menambah keterampilan. Kami senang ketika ternyata hasilnya diminati dan dibeli oleh pengunjung.

Hal ini membuat kami semakin bersemangat untuk belajar, memperbaiki kualitas produk, dan menghasilkan karya yang lebih baik. Semoga keterampilan ini bisa menjadi bekal untuk membuka peluang usaha setelah kembali ke masyarakat,” ungkap M.

Ketertarikan pengunjung terhadap tas dan peci berbahan tali jali ini menjadi salah satu gambaran bahwa produk hasil pembinaan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.

Dukungan dan apresiasi masyarakat diharapkan dapat menjadi motivasi bagi Warga Binaan untuk terus berinovasi, menjaga kualitas, dan menghasilkan produk yang mampu bersaing.

Melalui pengembangan kerajinan tangan dan berbagai kegiatan produktif lainnya, Lapas Kelas IIB Luwuk berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan fungsi pemasyarakatan dalam mempersiapkan Warga Binaan agar mampu memperbaiki diri, mengembangkan potensi, dan kembali berintegrasi dengan masyarakat.( Rilis Lapas Luwuk ) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *