Seruan jihad yang menggema, diantaranya melalui fatwa Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) pada 4/4/2025 memang patut didukung. Sekjen IUMS Ali al-Qaradaghi menyerukan kepada semua negara muslim untuk segera campur tangan secara militer, ekonomi, dan politik untuk menghentikan genosida dan penghancuran menyeluruh ini.
Sekjen IUMS juga mengecam diamnya penguasa Arab dan Dunia Islam terhadap krisis Gaza sebagai dosa besar menurut hukum Islam.
Memang sudah jelas bahwa solusi semata wayang yang sesuai ajaran Islam untuk menuntaskan krisis Gaza adalah jihad fi sabilillah.
Tidak lain dengan mengerahkan kekuatan militer untuk melindungi warga Gaza dan mengusir entitas Yahudi. Bukan dengan jalan diplomasi apalagi hanya narasi basa-basi yang selama ini dimainkan para pemimpin Arab dan Dunia Islam. Tidak cukup pula sekadar memerintahkan para imam dan khatib membacakan doa untuk kaum muslim Gaza.
Al-Qur’an telah memerintahkan jihad defensif (jihad difaa’i) atas setiap invasi musuh yang ditujukan kepada negeri-negeri muslim. Allah Swt. berfirman, “Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 194).
Atas hal itu, para penguasa negeri muslim di sekitar Palestina wajib mengerahkan pasukan militer untuk menyelamatkan muslim Gaza. Sikap berdiam diri para penguasa tersebut adalah dosa besar di hadapan Allah swt.
Sebab Allah Swt. telah memerintahkan, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan.” (QS Al-Anfal [8]: 72).
Namun, jihad fii sabilillah ini tak akan efektif jika dilakukan secara individual maupun kelompok individu. Tapi harus dibawah komando pemimpin negara super power yaitu seorang Khalifah.
Oleh karenanya, bantuan harta atau donasi dan sebagainya sebagai wujud empati kemanusiaan terhadap saudara muslim di Gaza harus diback-up dengan memasifkan perjuangan untuk menegakkan kembali perisai hakiki umat Islam, yaitu Khilafah Islam.
Pada masa dahulu, Khilafah inilah yang kredibel mengomando pasukan jihad untuk menyudahi kebrutalan 210ni5 Yahudi. Begitu juga untuk masa sekarang, khilafah tetap yang kredibel untuk itu sekaligus merobohkan peradaban penopangnya, kapitalisme sekuler.
Bagi Netanyahu dan para pendukungnya, khilafah adalah mimpi buruk. Berita kembalinya khilafah telah mengusik mereka siang dan malam.
“Kami tidak akan mengizinkan berdirinya kekhalifahan Islam, dan kami akan melanjutkan tekanan militer sampai Ham*s disingkirkan,” demikian kutipan pernyataan Netanyahu yang dimuat media Al-Quds, 23-04-2025.
Beberapa media lain, seperti Al-Jazeera Mesir dan Hurriyet Daily News juga memuat pernyataan senada, “Kami tahu siapa yang kami hadapi. Kami tidak akan membiarkan berdirinya kekhalifahan beberapa kilometer jauhnya di pesisir Mediterania.”
Umat Islam semestinya makin memperkuat keyakinan bahwa Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti metode kenabian, insyaallah akan datang dengan membawa kemuliaan, menyudahi kehinaan.
Entah kapan waktunya, yang pasti ini janji Allah. Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah Rasulullah saw., ‘Tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhaajinnubuwah. Mimpi buruk yang menghantui Netanyahu dan para pemimpin Barat akan menjadi kenyataan yang kelak mereka saksikan dengan mata kepala mereka.
“Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS Ar-Rum: 6].***
Wallahu’alam bishshawab.







