Almarhum Murad Husain Raih Penghargaan Legacy Award dari KADIN Indonesia

Rupiah memang tidak serta-merta kembali kuat karena tindakan satu orang. Namun, di saat kepercayaan terhadap bangsa sedang runtuh, tindakan Murad menjadi simbol bahwa masih ada anak bangsa yang menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

Semangat itu ternyata tidak berhenti pada urusan ekonomi.

banner 900x250

Di Luwuk, nasionalisme Murad menjelma menjadi tanah yang ditimbun dan bangunan yang kemudian dimanfaatkan masyarakat.

Ketika kawasan yang kini menjadi Masjid Agung An-Nur Luwuk masih berupa rawa-rawa, pemerintah daerah belum memiliki kemampuan anggaran untuk melakukan penimbunan. Murad turun tangan.

Ia membantu menimbun kawasan tersebut, termasuk area di sekitar DPRD, SPBU, dan sejumlah pertokoan yang kini menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Sebagai imbalan, ia tidak menerima pembayaran tunai. Bentuk kompensasinya adalah tanah.

Namun bagi Murad, nilai terbesarnya bukan pada aset yang diperoleh, melainkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Baca Juga Berita Ini:  SPBU Singkoyo Raih Penghargaan Seccond Best   Commercial Fuel Sales Grouth 

Apa yang dahulu berupa rawa kini menjadi kawasan yang hidup dan produktif. Ribuan orang beribadah, bekerja, dan beraktivitas di atas lahan yang pernah ia bantu bangun.

Dalam banyak kesempatan, tindakan seperti ini sering dianggap tidak masuk akal. Ada yang menyebutnya terlalu idealis. Ada pula yang menganggapnya sia-sia.

Tetapi Murad Husain tidak pernah terlalu sibuk menjawab kritik. Ia lebih memilih bekerja.

Ia percaya bahwa bangsa tidak hanya ditopang oleh kebijakan pemerintah atau kekuatan ekonomi semata. Bangsa juga berdiri karena masih ada orang-orang yang bersedia memberi ketika orang lain memilih menunggu.

Pada 17 Agustus 2021, tepat saat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan ke-76, Murad Husain mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergiannya meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Ia mungkin tidak menulis teori tentang nasionalisme. Ia juga tidak menyampaikan pidato-pidato besar tentang cinta tanah air. Namun, hidupnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana nasionalisme diwujudkan dalam tindakan nyata.

Baca Juga Berita Ini:  Satlantas Polres Banggai Raih Penghargaan Juara 1 di Rakernis Lantas 2024

Nasionalisme adalah rasa malu ketika mereka yang memiliki sedikit justru lebih dahulu berkorban. Nasionalisme adalah keberanian mempertaruhkan kenyamanan pribadi demi kepentingan yang lebih besar.

Nasionalisme adalah kesediaan menukar dolar menjadi rupiah ketika banyak orang memilih menyimpannya. Nasionalisme adalah kesediaan menimbun rawa agar suatu hari masyarakat dapat menikmati manfaatnya.

Dari Luwuk, Murad Husain meninggalkan pesan yang tak pernah ia ucapkan secara langsung. Krisis akan selalu datang dan pergi, nilai mata uang bisa naik dan turun, tetapi bangsa yang masih memiliki orang-orang seperti Murad Husain tidak akan pernah benar-benar jatuh.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *