Pertamina EP Donggi Matindok Ubah Limbah Jadi Rupiah Lewat BSF

KABAR BANGGAI  – Sampah seringkali dianggap sebagai beban lingkungan yang tak berujung. Namun, di tangan kelompok binaan Pertamina EP (PEP) Donggi Matindok Field, tumpukan limbah organik justru bertransformasi menjadi pakan ternak bernilai tinggi.

Melalui program CSR bertajuk Integrated Agriculture Bioferdom, budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) kini menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.Minggu 15 Februari 2026.

Inisiatif ini bukan sekadar upaya mencari keuntungan, melainkan sebuah solusi holistik terhadap permasalahan lingkungan. Dahulu, sampah rumah tangga sering dibuang sembarangan ke sungai maupun pinggir jalan, menciptakan pemandangan kumuh dan risiko penyakit. Kini, pola pikir masyarakat mulai bergeser.

Samsul, sosok penggerak di balik Kelompok BSF GenToili, menceritakan awal mula perjuangan mereka. Dengan beranggotakan 10 orang, kelompok ini mengumpulkan sisa makanan dari rumah warga, warung, hingga pesantren.

“Dulu sampah di lingkungan sangat banyak. Orang buang sampah di kali atau di pinggir jalan. Sekarang, justru kami yang menjemput bola. Sampah-sampah itu kami kelola sebagai media kembang biak maggot,” ujar Samsul.

Baca Juga Berita Ini:  "GERMAS, Program Nasional Kemenkes RI Untuk Hidup Sehat dan Berkualitas"

Keputusan memilih budi daya maggot didasari oleh kebutuhan riil para anggota kelompok yang mayoritas adalah peternak ayam dan lele. Tingginya harga pakan pabrikan seringkali mencekik margin keuntungan peternak kecil. Maggot, yang kaya akan protein, hadir sebagai substitusi pakan yang efisien dan murah.

Melihat potensi besar ini, Pertamina EP Donggi Matindok Field memberikan dukungan penuh melalui pendampingan berkelanjutan.

Dukungan tersebut mencakup pembangunan rumah produksi yang representatif, penyediaan mesin pencacah sampah untuk mempercepat proses penguraian, hingga bantuan kolam lele sebagai bagian dari ekosistem Integrated Agriculture.

“Kehadiran Pertamina sangat membantu akselerasi produksi kami. Dengan mesin pencacah dan fasilitas yang lebih baik, proses kerja menjadi lebih efektif,” tambah Samsul.

Kelompok BSF GenToili tidak berhenti pada penjualan maggot hidup. Mereka melakukan lompatan inovasi dengan memproses maggot melalui teknik sangrai dan mengemasnya secara modern. Produk yang diberi nama Maggo Booster ini menyasar segmen pasar yang lebih luas, seperti pecinta burung hias dan ikan koi.

Baca Juga Berita Ini:  Polres Banggai Peringati Isra Miraj, Kapolres Serahkan Santunan Anak Tahfidz

Saat ini, produksi maggot mampu mencapai 20 kilogram per minggu. Sebagian hasil produksi digunakan secara mandiri untuk menekan biaya ternak anggota, sementara sisanya dijual ke pasar untuk meningkatkan pendapatan kolektif kelompok.

Program CSR Pertamina EP Donggi Matindok Field ini membuktikan bahwa sinergi antara korporasi dan masyarakat dapat menciptakan dampak ganda (multiplier effect).

Selain lingkungan yang lebih bersih, tercipta lapangan kerja baru yang mendukung kemandirian ekonomi lokal.

Melalui konsep Bioferdom, Pertamina berkomitmen untuk terus mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah dalam satu mata rantai yang saling menguntungkan.

Harapannya, model budi daya maggot ini dapat direplikasi di wilayah lain sebagai langkah nyata menjaga kelestarian bumi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Bagi Samsul dan kawan-kawan, maggot bukan sekadar larva, melainkan simbol harapan bahwa limbah bisa menjadi berkah jika dikelola dengan ketekunan dan dukungan yang tepat.( Imam ) **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *