KABAR BANGGAI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus mendorong pelaksanaan pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan melalui berbagai kegiatan produktif yang memiliki nilai keterampilan dan ekonomi.
Salah satunya melalui pemanfaatan nasi atau beras menjadi kerupuk, yang dikerjakan oleh lima orang Warga Binaan dari blok wanita sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian, Senin (28/9).
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pemanfaatan bahan pangan yang sederhana untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Melalui proses pembinaan tersebut, Warga Binaan tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga belajar mengenai proses produksi, kebersihan, ketelitian, hingga pengemasan produk yang berpotensi dikembangkan sebagai bekal setelah kembali ke tengah masyarakat.
Dalam proses pembuatannya, nasi atau beras diolah melalui beberapa tahapan hingga menjadi adonan kerupuk, kemudian dibentuk, dikeringkan, dan siap untuk dipasarkan.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan Petugas pada Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Luwuk.
Salah seorang Warga Binaan yang terlibat, Irawati, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengalaman baru sekaligus keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
“Awalnya kami tidak menyangka nasi atau beras bisa diolah menjadi kerupuk yang memiliki nilai jual. Di sini kami belajar dari proses membuat sampai mengolahnya menjadi produk. Semoga keterampilan ini nantinya bisa kami manfaatkan setelah bebas dan menjadi modal untuk membuka usaha,” ujar Irawati.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Luwuk, Heru Cahyono, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan keterampilan praktis kepada Warga Binaan melalui kegiatan kerja yang produktif.
“Kami berupaya agar kegiatan pembinaan kemandirian tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pemanfaatan nasi atau beras menjadi kerupuk merupakan salah satu inovasi sederhana yang dapat dikembangkan dan diharapkan menjadi bekal bagi Warga Binaan ketika kembali ke masyarakat,” jelas Heru.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Herman Mulawarman, mengapresiasi pelaksanaan pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan oleh Lapas Luwuk.
“Pembinaan kemandirian harus mampu memberikan keterampilan yang nyata dan bermanfaat bagi Warga Binaan. Kegiatan seperti pengolahan bahan pangan menjadi produk bernilai ekonomi merupakan bagian dari proses mempersiapkan mereka agar memiliki bekal keterampilan dan kemandirian ketika kembali ke masyarakat,” ungkap Herman.
Melalui kegiatan pembinaan kemandirian yang berkelanjutan, Lapas Luwuk berkomitmen untuk terus membuka ruang bagi Warga Binaan dalam mengembangkan potensi, kreativitas, dan keterampilan kerja.
Dari bahan sederhana, diharapkan lahir produk yang bernilai ekonomi sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Warga Binaan menuju kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan masa pidana ( Rilis Lapas Luwuk ) **






